Belajar dari Kebakaran SMAN 72 Jakarta, Mantan Deputi BNPT Beri Peringatan kepada Orang Tua dan Seko

admin.aiotrade 10 Nov 2025 3 menit 16x dilihat
Belajar dari Kebakaran SMAN 72 Jakarta, Mantan Deputi BNPT Beri Peringatan kepada Orang Tua dan Seko
Belajar dari Kebakaran SMAN 72 Jakarta, Mantan Deputi BNPT Beri Peringatan kepada Orang Tua dan Sekolah

Ledakan di SMAN 72 Jakarta: Kecaman dan Refleksi atas Luka Sosial

Pada Jumat, 7 November 2025, kota Jakarta digemparkan oleh ledakan yang terjadi di area masjid Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 72. Peristiwa tersebut melukai sebanyak 55 orang dan menimbulkan trauma mendalam bagi seluruh warga sekolah serta masyarakat sekitar. Insiden ini tidak hanya menjadi perhatian publik, tetapi juga memicu berbagai pertanyaan tentang penyebab dan akar masalah yang mendasari tindakan ekstrem ini.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, pelaku diduga adalah seorang siswa kelas XII yang disebut-sebut menjadi korban bullying. Fakta ini mengguncang masyarakat, bukan hanya karena kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan, tetapi juga karena mengungkap luka sosial yang lama diabaikan. Tidak hanya itu, insiden ini juga menunjukkan bahwa masalah seperti bullying dapat memiliki dampak psikologis yang sangat serius, bahkan hingga menyebabkan tindakan yang sangat ekstrem.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Hamidin, mantan Deputi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi refleksi nasional. Ia menekankan pentingnya empati, ruang aman, dan solidaritas sosial dalam kehidupan sehari-hari. “Ledakan di SMAN 72 adalah cermin bagi bangsa betapa pentingnya empati, ruang aman, dan solidaritas dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Menurut Hamidin, upaya melawan kekerasan tidak cukup hanya dengan aparat dan undang-undang. “Senjata paling kuat justru adalah perhatian, kasih, dan kemampuan mendengar,” tambahnya. Ia menilai bahwa luka yang dibiarkan diam bisa meledak dengan cara paling tragis. Anak-anak perlu merasa aman tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan sosial.

Bagi Hamidin, dentuman di sekolah itu bukan sekadar suara ledakan, melainkan simbol pecahnya luka sosial yang terpendam lama. Siswa yang tertutup, pendiam, dan merasa terasing bisa memendam kemarahan yang tak tersalurkan. Ketika rasa sakit itu tak ditangani, ia bisa berubah menjadi tindakan ekstrem.

“Bullying, meski kerap dianggap sepele, punya dampak psikologis yang luar biasa. Korban kehilangan harga diri, merasa tak berarti, bahkan bisa menyimpan amarah yang akhirnya meledak,” katanya.

Selain dugaan kekerasan sosial, muncul pula spekulasi bahwa tindakan itu terinspirasi narasi ekstrem di dunia maya. Era digital memungkinkan seseorang mengalami proses radikalisasi tanpa harus bergabung dalam jaringan tertentu. Namun, Hamidin menilai kemungkinan itu kecil karena program kontra-radikalisasi di Indonesia telah berjalan efektif.

“Program rehabilitasi narapidana terorisme, pemberdayaan mantan pelaku, serta pendekatan sosial-ekonomi telah menjadikan Indonesia salah satu negara dengan strategi penanganan ekstremisme paling komprehensif di dunia,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan Indonesia justru terletak pada kombinasi pendekatan hukum dan kemanusiaan. Aparat tidak hanya menindak, tetapi juga menyembuhkan luka ideologis melalui pendidikan, bimbingan sosial, dan pemberdayaan ekonomi. Ia menambahkan, hingga kini belum ada indikasi bahwa pelaku terkait dengan jaringan teror aktif, baik domestik maupun internasional.

Hamidin menilai tragedi SMAN 72 lebih tepat dipahami sebagai ledakan sosial akibat kehilangan ruang aman, bukan serangan ideologis. Namun, konteks global tetap memiliki pengaruh. Konflik di Timur Tengah, krisis kemanusiaan, dan propaganda online dapat memperkuat emosi remaja yang tengah mencari jati diri.

“Tragedi ini mengingatkan kita bahwa keamanan bukan hanya soal menghadang bom atau menangkap pelaku, tetapi juga soal membangun ketahanan sosial sejak dini. Dunia pendidikan harus menjadi ruang aman, bukan sekadar tempat belajar,” jelasnya.

“Guru, konselor, dan teman sebaya perlu peka terhadap perubahan perilaku siswa. Program anti-bullying tidak boleh berhenti di slogan, tetapi menjadi budaya empati dan solidaritas.”

Keberhasilan Indonesia dalam menekan ekstremisme patut diapresiasi, tetapi Hamidin mengingatkan bahwa ketahanan sejati lahir dari keluarga, sekolah, dan komunitas yang peka terhadap tanda-tanda luka sosial. Ledakan di SMAN 72, katanya, bukan hanya urusan hukum atau keamanan, melainkan juga peringatan moral bahwa ekstremisme dapat tumbuh dari kesepian, kekecewaan, dan rasa tidak didengar.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan