aiotrade.CO.ID – JAKARTA
Pertumbuhan sektor ritel di Indonesia pada tahun 2025 terus menghadapi tantangan yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti penurunan daya beli konsumen, pergeseran pengeluaran ke arah barang kebutuhan pokok, serta permintaan yang rendah untuk produk non-kebutuhan pokok.
Christy Halim, Analis BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan bahwa rasionalisasi anggaran pemerintah sebesar Rp 306,7 triliun dan pembekuan pengeluaran sementara yang diterapkan awal tahun ini memberi dampak negatif terhadap konsumsi masyarakat. Hal ini memperlambat proses pemulihan permintaan ritel.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Selain itu, meningkatnya biaya operasional, kendala dalam rantai pasokan, dan tantangan struktural yang berkelanjutan khususnya untuk toko fisik tradisional, terus menekan margin peritel. Dalam risetnya pada 19 Desember 2025, Christy menyebutkan bahwa sebagian besar peritel yang diteliti melaporkan pertumbuhan penjualan toko yang sama (SSSG) negatif selama sembilan bulan pertama 2025, kecuali peritel kebutuhan pokok seperti PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI).
Menurut Christy, ekspansi fiskal pemerintah akan menjadi katalis utama untuk pemulihan permintaan secara bertahap pada tahun 2026. Peningkatan pengeluaran sosial, termasuk anggaran perlindungan sosial dan realisasi program makan bergizi gratis (MBG), akan meningkatkan pendapatan bagi rumah tangga berpenghasilan rendah dan menengah. Hal ini akan mendukung konsumsi, pemulihan volume, serta peningkatan daya ungkit operasional seiring dengan penguatan lapangan kerja dan upah riil.
Meskipun demikian, upah minimum yang lebih tinggi dan nilai mata uang rupiah yang melemah tetap menjadi hambatan utama bagi sektor ini karena terus menekan biaya dan margin di tengah kekuatan penetapan harga yang terbatas.
Meski pertumbuhan penjualan toko yang sama (SSSG) masih lemah sepanjang Januari – September 2025 yakni berkisar antara -3,6% hingga 1,8%, peritel terus memberikan pertumbuhan pendapatan positif melalui ekspansi toko. Pembukaan toko baru dapat dilihat pada beberapa peritel yang diliput oleh BRI Danareksa.
Christy memperkirakan strategi ini akan terus berlanjut di tahun 2026, didukung oleh peningkatan daya beli. Aspirasi Hidup Indonesia (ACES) berencana untuk meremajakan beberapa tokonya di mal kelas atas dan mempercepat peluncuran merek Neka, sementara MIDI menargetkan sekitar 200 pembukaan toko baru.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai kebijakan fiskal pemerintah pada 2026 berpotensi lebih akomodatif dan terarah pada penguatan konsumsi domestik. Kebijakan ini akan melalui belanja sosial, program peningkatan asupan gizi, serta upaya stabilisasi harga kebutuhan pokok.
Normalisasi belanja pemerintah pasca periode penyesuaian di 2025 diharapkan dapat memperbaiki likuiditas di masyarakat dan secara bertahap mendorong pemulihan daya beli, terutama pada segmen menengah ke bawah yang menjadi basis utama konsumsi ritel.
Jika kebijakan fiskal dapat memperbaiki daya beli masyarakat lebih cepat, ini dapat mendorong pemulihan pada sektor retail. Namun, jika hasilnya belum terlihat, daya beli tetap menjadi tantangan bagi emiten retail.
Analis OCBC Sekuritas, Jessica Leonardy menjelaskan bahwa pemerintah telah memperkenalkan paket stimulus ekonomi untuk kuartal IV – 2025 dengan alokasi anggaran total sebesar Rp 16,23 triliun untuk lebih lanjut mendorong perekonomian. Beberapa inisiatif yang dapat meningkatkan daya beli termasuk bantuan pangan dan program kerja berbayar (program pemagangan nasional). Selain itu, pemerintah akan meluncurkan tambahan Rp 30 triliun bantuan tunai langsung (BLT) kepada 35 juta keluarga berpenghasilan rendah mulai 20 Oktober 2025. Dana tersebut bertujuan untuk memperkuat daya beli dan mempertahankan momentum konsumsi hingga akhir tahun.
Stimulus pemerintah akan memperkuat purchasing power terutama untuk BLT yang ditargetkan langsung ke keluarga berpenghasilan rendah.
MAPA Chart
by TradingView
Christy merekomendasikan beli saham MIDI dengan target harga Rp 550 per saham karena profil bisnisnya yang defensif sebagai pengecer kebutuhan pokok dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan yang diperkirakan naik 16,4% pada tahun 2026. Ia juga merekomendasikan beli saham PT MAP Aktif Adiperkasa (MAPA) dengan target harga Rp 800 per saham. Rekomendasi ini didorong oleh potensi pertumbuhan yang kuat dan perannya sebagai penggerak pertumbuhan utama dalam grup MAP.
Sementara Azis merekomendasikan beli saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dengan target harga Rp 2.100 per saham mengingat adanya momen natal dan tahun baru (nataru) dapat mendorong kinerja emiten AMRT. Sedangkan Jessica merekomendasikan buy saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) Rp 1.800 per saham dan beli saham AMRT dengan target harga Rp 2.900 per saham.