
Dialogista: Pemuda dan Ketahanan Pangan
Di Aula Gedung Sentral Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, pada Jumat (7/11), Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (BEM FP UB) bekerja sama dengan Pemuda Inspirasi Nusantara (PIN) menyelenggarakan kegiatan Dialogista bertema “Pemuda dan Ketahanan Pangan: Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Kedaulatan Pangan Nasional”. Acara ini dihadiri oleh tiga narasumber ternama dan dipandu oleh Tazkiyyah, mahasiswa semester 7 Fakultas Pertanian UB.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Narasumber yang Hadir
Narasumber pertama adalah Dr. Mochamad Syamsulhadi, Ketua Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan FP UB. Ia menekankan bahwa peningkatan sumber daya manusia (SDM), khususnya di kalangan petani muda, menjadi kunci memperkuat ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, anggaran pertanian hanya meningkat sebesar 13 persen dari total Rp140 triliun hingga Oktober 2025. Dari data yang disampaikan, anggaran pertanian pada tahun 2020 masih sebesar Rp75 triliun, sedangkan pada tahun 2024 mencapai Rp119 triliun. Namun, program cetak sawah dan food estate belum banyak mengubah peta potensi pangan nasional.
Ia juga menjelaskan bahwa Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan masih menjadi sentra utama pertanian. Pembukaan lahan di Papua belum bisa menjadi basis lumbung pangan nasional. Oleh karena itu, fokus utama seharusnya pada peningkatan kapasitas petani, bukan semata kebijakan instan seperti subsidi pupuk atau pembagian alat pertanian.
Tantangan Perubahan Iklim dan Minat Generasi Muda
Heru Sutomo, Ketua P4S Restu Bumi, menyoroti tantangan perubahan iklim dan menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Ia menyebutkan bahwa fenomena kemarau basah menjadi keluhan petani selama tiga tahun terakhir. Berdasarkan data BPS akhir 2024, produksi padi justru menurun.
Menurut Heru, rata-rata petani hanya menggarap lahan seluas 1.000 meter persegi dengan pendapatan sekitar Rp6 juta per tahun. Hal ini membuat regenerasi petani berjalan lambat. Ia menilai profesi pertanian dianggap melelahkan, kotor, dan panas oleh generasi muda.
Peran Pemuda dalam Inovasi Pertanian
Dari perspektif mahasiswa, I Nyoman Sugidana, Pimpinan Pusat KMHDI 2023–2025, menekankan pentingnya inovasi dan peran aktif pemuda. Ia mengatakan bahwa dirinya sebagai anak petani akrab dengan dunia pertanian sejak kecil.
Menurutnya, saat ini persoalan pertanian mencakup alih fungsi lahan, perubahan iklim, pupuk, irigasi, dan minimnya regenerasi. Ia menyarankan mahasiswa untuk kreatif dan inovatif, misalnya dengan rekayasa teknologi untuk mempercepat masa panen dan meningkatkan hasil pertanian.
Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah melalui BP BUMN Pupuk Indonesia yang bergerak cepat dengan memperkuat sistem distribusi, memastikan ketersediaan stok di lapangan, serta mempercepat penyaluran pupuk bersubsidi hingga ke tingkat petani.
Langkah Responsif Pemerintah
Langkah responsif ini menjadi bukti nyata sinergi antara kebijakan pemerintah dan implementasi di lapangan, sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh petani.
“Kami sebagai pemuda tentunya mendukung program swasembada pangan, ini perlu ditindaklanjuti secara serius bagaimana dalam mewujudkannya,” ujarnya.
Beberapa kebijakan di sektor pertanian sudah diberlakukan, salah satunya pemangkasan jalur distribusi pupuk agar dapat langsung ke tangan petani, sehingga memotong rantai distribusi. Selanjutnya ada kebijakan penurunan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen yang tentunya menjadi angin segar bagi petani di Indonesia.
Implementasi Kebijakan Presiden Prabowo
Menurut Nyoman, tindaklanjut instansi di sektor pertanian atas kebijakan pemerintah berdampak baik bagi pertanian tanah air.
“Kebijakan kebijakan Presiden Prabowo di sektor pertanian ini harus diimplementasi dengan baik oleh instansi terkait, salah satunya BUMN, contohnya Pupuk Indonesia yang telah menerapkan kebijakan penurunan harga eceran tertinggi pupuk subsidi dan pendistribusian dilaksanakan dengan baik oleh BUMN ini, dan ini bisa menjadi contoh bagi BUMN lain dalam menindaklanjuti kebijakan dari bapak Presiden Prabowo,” katanya.