
Jakarta — Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menyatakan bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen pada tahun ini dinilai sulit tercapai. Ia menyoroti dampak dari bencana banjir dan longsor yang terjadi di wilayah Sumatera terhadap target pemerintah tersebut.
“Menurut saya, target pertumbuhan ekonomi akan meleset pada tahun ini,” ujar Faisal saat dihubungi di Jakarta, Selasa (16/12/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Awalnya, Faisal mengharapkan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai angka 5,1 persen di akhir tahun atau sedikit di bawah target pemerintah. Namun, ia memperbaiki proyeksinya karena skala besar bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Sebenarnya ada potensi bisa sampai 5,1 persen. Dengan bencana di Sumatera ini, mungkin hanya di kisaran lima persen. Tapi yang jelas, target tidak tercapai dan kami perkirakan di lima persen,” ucap Faisal.
Faisal menjelaskan bahwa proyeksi ini tidak lepas dari peran penting tiga provinsi terdampak terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berkontribusi sekitar sembilan persen terhadap total produk domestik bruto (PDB) nasional.
“Bencananya terjadi di akhir November, berarti kerusakan sudah berlangsung sejak akhir November dan juga penuh selama Desember,” lanjut Faisal.
Ia menambahkan bahwa situasi bencana mengganggu aktivitas produksi maupun konsumsi masyarakat. Sejumlah sektor seperti pertanian, perkebunan, perdagangan, hingga jasa disebut terpukul akibat masifnya bencana tersebut.
“Hal ini akan mengoreksi pertumbuhan sehingga totalnya, walaupun disrupsi mungkin hanya terjadi dalam satu bulan, pada 2025 kami perkirakan hanya di kisaran lima persen,” sambungnya.
Faisal memperkirakan stagnasi ini berpotensi berlanjut pada tahun depan. Ia mengatakan tren pertumbuhan ekonomi ke depan sangat bergantung pada percepatan perbaikan infrastruktur pascabencana di Sumatera.
“Kalau di 2026, kami pikir kondisinya juga belum akan bisa pulih dengan cepat karena tingkat kerusakan yang masif. Awalnya kami perkirakan 4,9 persen sampai 5,1 persen, tetapi dengan adanya bencana mungkin lebih ke batas bawah untuk 2026,” kata Faisal.
Penyebab Utama Melesetnya Target Pertumbuhan Ekonomi
-
Dampak Bencana Banjir dan Longsor
Bencana yang terjadi di beberapa provinsi di Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi. Kerusakan infrastruktur dan gangguan produksi menjadi faktor utama penurunan pertumbuhan ekonomi. -
Kontribusi PDB Nasional dari Wilayah Terdampak
Tiga provinsi tersebut menyumbang sekitar sembilan persen terhadap total PDB nasional. Oleh karena itu, ketidakstabilan ekonomi di wilayah ini langsung memengaruhi pertumbuhan keseluruhan negara. -
Gangguan Aktivitas Produksi dan Konsumsi
Bencana menyebabkan gangguan dalam produksi dan konsumsi masyarakat. Sektor-sektor seperti pertanian, perkebunan, perdagangan, dan jasa terkena dampak langsung, yang berujung pada penurunan pertumbuhan ekonomi.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi untuk Tahun Mendatang
-
Tahun 2025
Meskipun bencana hanya berlangsung selama satu bulan, dampaknya terasa cukup signifikan. Faisal memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran lima persen. -
Tahun 2026
Faisal mengatakan bahwa kondisi ekonomi di 2026 masih akan terganggu karena tingkat kerusakan yang besar. Proyeksi pertumbuhan ekonomi di tahun ini diperkirakan antara 4,9 persen hingga 5,1 persen, dengan kemungkinan berada di batas bawah.
Kebutuhan Perbaikan Infrastruktur Pascabencana
-
Percepatan Pemulihan Infrastruktur
Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di masa depan, percepatan perbaikan infrastruktur di wilayah Sumatera menjadi sangat penting. Tanpa perbaikan yang cepat, pertumbuhan ekonomi akan terus tertahan. -
Kesiapan Pemerintah dalam Menghadapi Bencana
Faisal menyarankan agar pemerintah meningkatkan kesiapan dalam menghadapi bencana alam. Hal ini termasuk dalam pengelolaan risiko dan pemulihan ekonomi pasca-bencana.