Dampak Bencana di Sumatera terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, termasuk Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar), telah menarik perhatian para ekonom. Mereka menyatakan bahwa bencana tersebut berpotensi mengurangi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV 2025.
Menurut Pengamat Ekonomi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Muhammad Syarkawi Rauf, kontribusi wilayah Sumatera terhadap perekonomian nasional mencapai sekitar 25 persen. Jika pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut menurun akibat bencana, maka kontribusinya terhadap pertumbuhan nasional juga akan turun secara signifikan. Hal ini terutama berlaku untuk Sumut, Aceh, dan Sumbar, yang memiliki perekonomian yang besar di Pulau Sumatera.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2025 tercatat sebesar 5,04 persen. Pulau Jawa menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi sebesar 56,68 persen. Disusul oleh Pulau Sumatera dengan kontribusi 22,42 persen. Sementara itu, Pulau Kalimantan menyumbang 8,02 persen, Sulawesi 7,36 persen, Bali dan Nusa Tenggara 2,83 persen, serta Maluku dan Papua 2,69 persen.
Syarkawi menjelaskan bahwa andil kontribusi Sumatera terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2025 secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai sekitar 1,225 persen, dengan pertumbuhan ekonomi Sumatera sebesar 4,9 persen. Dari angka tersebut, Aceh berkontribusi 0,25 persen, Sumut 1,06 persen, dan Sumbar 0,25 persen. Untuk mencapai pertumbuhan nasional yang lebih tinggi pada kuartal IV 2025, Sumatera idealnya tumbuh di atas 4,9 persen.
“Dalam situasi bencana alam seperti sekarang hampir mustahil untuk tumbuh lebih tinggi,” ujar Syarkawi.
Karena itu, ia menilai perekonomian Pulau Jawa yang menyumbang lebih dari 56 persen terhadap perekonomian nasional perlu dipacu lebih kuat. Sebab, kontribusi Pulau Sulawesi dan Kalimantan terhadap nasional relatif kecil sehingga sulit menjadi pengungkit pada saat terjadi tekanan ekonomi.
Syarkawi juga mengkalkulasi kontribusi Aceh, Sumut, dan Sumbar terhadap perekonomian nasional per kuartal sepanjang 2025 secara yoy. Mengolah data BPS, kontribusi ketiga daerah tersebut pada kuartal I hingga III berada pada kisaran 0,323—0,348 persen dalam pertumbuhan 4,87—5,12 persen. Pada kuartal III 2025, dengan pertumbuhan nasional 5,04 persen, kontribusi ketiganya tercatat sekitar 0,323 persen.
“Sehingga penurunan 30 persen saja perekonomian ketiga daerah tersebut akibat banjir di kuartal IV 2025 menurunkan pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 0,1 persen,” ungkapnya.
Ia menambahkan perhitungan tersebut belum memasukkan spillover effect antardaerah, mengingat Sumut berperan sebagai regional hub dengan hubungan dagang kuat di Sumatera.
“Tentu asumsinya ceteris paribus. Jika banjir membuat kapasitas ketiga perekonomian di atas, Aceh, Sumut dan Sumbar berkurang 50 persen, maka efeknya terhadap pertumbuhan nasional bisa mencapai 0,2 persen pada kuartal IV 2025,” terangnya.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 berada pada level 5,2 persen sesuai asumsi APBN. Pertumbuhan pada kuartal I tercatat 4,87 persen, kuartal II 5,12 persen, dan kuartal III 5,04 persen. Pemerintah mengejar capaian 5,4—5,6 persen untuk kuartal IV 2025.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menyatakan optimistis target tersebut dapat tercapai meskipun Sumatera sedang dilanda bencana. Pemerintah telah menyiapkan ragam stimulus dan program untuk mendorong konsumsi masyarakat sebagai pengungkit ekonomi.
Airlangga juga menyebut bakal mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi di luar tiga daerah yang terdampak bencana. “Kita tetap memacu di angka 5,4 persen sampai 5,6 persen,” tegasnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (4/12/2025).