
aiotrade.CO.ID – JAKARTA.
Bencana banjir dan longsor yang terjadi di tiga provinsi di Sumatra, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak 23 November 2025, diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada Kuartal IV-2025. Dengan potensi pertumbuhan yang turun di bawah 5%, kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan para ahli ekonomi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNBP), bencana tersebut mulai terjadi sejak tanggal 23 November 2025, setelah hujan ekstrem terjadi sejak 18 hingga 20 November 2025. Hujan deras ini menyebabkan banjir dan longsoran yang mengganggu aktivitas ekonomi di wilayah-wilayah terdampak. Selama dua minggu terakhir, banyak daerah mengalami lumpuh total, bahkan hingga awal Desember 2025 masih ada wilayah yang terisolasi dan belum menerima bantuan karena akses jalan terganggu.
Masyarakat yang terkena dampak bencana kini sangat bergantung pada dukungan pemerintah serta bantuan dari berbagai pihak lainnya. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa gangguan ekonomi akibat bencana memang bersifat sementara. Namun, dampaknya tetap signifikan karena Sumatra berkontribusi sekitar 22% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
“Dengan terganggunya aktivitas ekonomi selama 10–15 hari di wilayah terdampak, tercipta kontraksi jangka pendek melalui terputusnya rantai logistik, tertahannya produksi pertanian dan industri berbasis sumber daya, serta melemahnya konsumsi rumah tangga akibat hilangnya pendapatan harian, khususnya di sektor informal,” jelas Rizal kepada aiotrade, Minggu (7/12/2025).
Ia menambahkan, tekanan ekonomi akan semakin besar jika proses pemulihan berlangsung lebih dari 15 hari. Meski tidak mengubah arah pertumbuhan tahunan, bencana ini cukup menekan momentum pertumbuhan kuartalan dan meningkatkan volatilitas ekonomi regional maupun nasional.
Rizal menjelaskan bahwa stimulus fiskal jangka pendek seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan bantuan sosial (bansos) hanya mampu menjaga daya beli minimum, dengan efek pengganda yang terbatas dalam satu kuartal. Stimulus lain, seperti program magang nasional, dinilai lebih relevan untuk perbaikan struktural jangka menengah dan bukan instrumen yang efektif untuk merespons perlambatan ekonomi Kuartal IV.
“Tanpa akselerasi belanja produktif dan pemulihan sektor riil di wilayah terdampak bencana, kontribusi stimulus terhadap pertumbuhan Kuartal IV akan tetap minim,” ujar Rizal.
Menurutnya, dalam skenario tanpa bencana, pertumbuhan ekonomi Kuartal IV-2025 dapat mencapai sekitar 5%. Namun disrupsi akibat banjir dan longsor diperkirakan memangkas pertumbuhan sekitar 0,27%, sehingga realisasi pertumbuhan kemungkinan berada di kisaran 4,73%.
“Sehingga realisasi pertumbuhan berpotensi berada di bawah level tersebut,” tambahnya.
Rizal menekankan bahwa stimulus fiskal pemerintah hanya mampu menahan perlambatan ekonomi agar tidak jatuh lebih dalam, namun tidak cukup kuat untuk sepenuhnya menutup kehilangan output. “Pertumbuhan Kuartal IV tetap positif, tetapi kualitasnya lebih rapuh dan berisiko menimbulkan tekanan pasokan di awal tahun berikutnya,” ujarnya.
Sebagai informasi, alih fungsi hutan menjadi salah satu faktor yang memperparah risiko bencana banjir bandang dan longsor di tiga provinsi tersebut. Greenpeace Indonesia mencatat hutan alam Sumatra kini hanya tersisa sekitar 11,6 juta hektare atau 24,4% dari total luas pulau, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi.