Kehidupan Wida Winarti: Bertahan di Tengah Kesulitan Ekonomi
Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tantangan, ada banyak orang yang berjuang untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah Wida Winarti, seorang perempuan paruh baya yang menjalani kehidupan sederhana dengan berdagang minuman di Jalan Tunjungan, Surabaya. Meskipun usianya sudah mencapai 58 tahun, ia tetap gigih menjaga lapaknya setiap hari.
Berdagang dari Sore hingga Pagi
Wida mulai berjualan dari sore hari, sekitar jam 4 atau 5, hingga pagi hari, sekitar jam 6. Di hadapannya, sebuah peti pendingin sederhana diletakkan di atas meja, berisi berbagai jenis minuman dingin dengan harga Rp 5.000. Minuman tersebut disusun rapi di atas kayu kecil yang berfungsi sebagai etalase.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Selain minuman dingin, Wida juga menambah dagangannya saat malam semakin larut. Ia biasanya menjual kopi lesehan di pelataran depan tempat ia berdagang. Ini menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan yang ia andalkan.
Rutinitas Harian yang Melelahkan
Siang hari sepenuhnya dihabiskan oleh Wida untuk urusan rumah tangga, seperti memasak, membersihkan rumah, serta memastikan kebutuhan anaknya terpenuhi. Ketika matahari mulai condong ke barat, barulah ia bersiap bekerja hingga fajar menyingsing.
Namun, penghasilan dari berdagang tidak selalu stabil. Dalam sehari, hasil yang ia bawa pulang kerap tak menentu. Pada hari biasa, ia hanya memperoleh sekitar Rp 50.000. Namun, saat Sabtu malam atau ketika tanggal muda, pendapatannya bisa melonjak hingga Rp 200.000.

Duka yang Masih Menyisakan Luka
Di balik senyum ramah yang selalu ia suguhkan kepada para pembeli, Wida menyimpan duka yang masih sangat baru. Sekitar dua pekan lalu, suami yang selama ini menjadi pasangan hidupnya berpulang. Kehilangan itu bukan sekadar soal rasa, tetapi juga tentang bertahan hidup. Satu sumber penghasilan keluarga kini benar-benar hilang.
“Pas sudah hitungannya, ekonominya hilang satu,” katanya lirih. Namun, bagi Wida, berhenti bukan pilihan. “Kalau enggak jualan, ya gimana,” pungkasnya sambil menghela napas panjang.
Hidup yang Semakin Sederhana
Dari lima anak yang dimilikinya, kini hanya satu yang tinggal bersamanya, yaitu anak laki-laki yang baru lulus sekolah dan belum berkeluarga. Anak-anak lainnya telah menikah dan hidup mandiri. Wida pun tidak lagi tinggal di rumah miliknya sendiri. Rumah tersebut kini ditempati oleh anak perempuannya yang sudah berkeluarga.
Ia memilih ngekos di sebelah rumah itu, dengan beban biaya kos dan angsuran sepeda yang harus dibayar rutin setiap bulan. Di tengah semua keterbatasan itu, satu hal yang membuatnya terus bertahan adalah tanggung jawab ekonomi.
Mengajukan Permohonan Bantuan Sosial
Dalam kondisi terdesak, Wida sempat mencoba mencari pertolongan dengan cara yang tak lazim. Sekitar sepekan setelah kepergian suaminya, ia memberanikan diri mencari nomor telepon Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. “Saya nyari nomor telepon Pak Menteri Keuangan, nemunya dari Google,” kata Wida.
Ia mengirimkan pesan, mencurahkan beban hidup yang tengah ia pikul. Pesannya dibalas. Meski ia menduga balasan tersebut datang dari asisten sang menteri, Wida merasa sedikit lega. Ia diarahkan untuk mengurus bantuan sosial melalui jalur resmi.
Bertahan dari Hari ke Hari
Kini, hasil jualannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan paling dasar. “Uang jualan ini pun cukupnya buat makan sehari-hari saja,” ujarnya. Di usia 58 tahun, Wida tak lagi menggantungkan mimpi setinggi langit. Harapannya sederhana bisa bertahan dan menua dengan sedikit rasa aman.
“Yang saya mau ada uang untuk masa tua,” katanya. Ia berharap memiliki modal untuk terus berdagang, mampu membayar kos, melunasi angsuran sepeda, dan tetap bisa membantu anaknya.
Usai berkata demikian, Wida kembali berdiri di balik peti pendinginnya, menyambut pembeli dengan senyum ramah menjemput rezeki, di tengah duka yang belum sepenuhnya reda.