Peran Beras Segar dalam Meningkatkan Kualitas SDM Indonesia
Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia menuju visi 2045 sangat bergantung pada pola konsumsi masyarakat. Direktur Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (Seameo Biotrop), Edi Santoso, menyampaikan bahwa kebiasaan mengonsumsi beras poles yang minim nutrisi perlu segera diubah. Ia menekankan pentingnya transisi menuju "Beras Segar" untuk mendukung program strategis pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selama ini, masyarakat Indonesia terjebak pada standar estetika beras yang putih bersih. Padahal, proses poles yang berlebihan justru membuang bagian paling berharga dari bulir padi, yaitu embrio atau mata beras.
"Di negara lain, bagian mata beras (embrio) itu sangat dihargai. Padahal zat-zat terbaik itu sebenarnya bukan dari sari patinya, tapi dari embrionya. Namun di tempat kita, itu malah dibuang," ujar Edi Santoso, kepada IDN Times, Rabu (25/2/2025).
Integrasi Beras Segar ke Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Edi menilai program MBG yang dicanangkan Presiden merupakan momentum emas. Menurutnya, penggunaan beras segar yang baru dipanen dan langsung diolah secara ekonomis sangat masuk akal karena hanya membutuhkan pengaturan siklus logistik yang tepat.
"Sangat wajar dan ekonomis. Ini hanya tinggal mengatur siklusnya saja, dari yang tadinya menggunakan beras lama menjadi beras baru. Hasilnya? Stunting bisa sangat berkurang," tegasnya.
Transparansi Data Produksi 33 Juta Ton Beras
Menurut dia, untuk mewujudkan pemerataan beras segar, pemerintah diminta transparan dalam memetakan stok pangan nasional. Pengelolaan produksi 33 juta ton harus dibagi jelas antara konsumsi lokal, gudang pemerintah, dan sektor swasta agar tidak ada daerah yang tertinggal.
"Data itu harus transparan. Tidak perlu 'telanjang', tapi cukup transparan agar pengambil kebijakan tahu daerah mana yang belum mendapatkan akses beras segar," tambah Edi.
Prioritas untuk Daerah 3T demi Stabilitas Sosial
Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) seringkali menjadi wilayah yang paling akhir menerima distribusi pangan, sehingga hanya mendapatkan beras stok lama. Edi bahkan menyebut adanya korelasi antara kekurangan nutrisi akibat beras lama dengan kondisi psikososial masyarakat.
"Salah satunya, efek beras segar buat bahagia, bisa jadi masyarakat yang tinggal di daerah yang mungkin tingkat emosinya mudah tersulut, itu kemungkinan besar karena belum makan beras segar (nutrisinya tidak tercukupi)," ungkapnya.
Masalah Regulasi dan Harga Beras yang Mahal
Harga beras di Indonesia terus mahal sejak era 80-an. Menurut Edi Santosa, masalah utamanya adalah regulasi yang kurang optimal. Hal ini berdampak pada ketersediaan beras berkualitas yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Impor Beras 1.000 Ton dari AS
Pemerintah juga telah melakukan impor beras sebanyak 1.000 ton dari Amerika Serikat. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas pasokan beras di tengah fluktuasi produksi dalam negeri. Namun, hal ini juga mengundang pertanyaan tentang kualitas dan keberlanjutan pasokan beras yang akan diterima masyarakat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar