
Peran SPPG dalam Membangun Narasi Positif Program MBG
Badan Gizi Nasional (BGN) menekankan pentingnya peran pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam menciptakan konten positif di media sosial, khususnya TikTok. Tujuan dari langkah ini adalah untuk mengimbangi penyebaran informasi negatif yang sering kali tidak proporsional dengan realitas program Makan Bergizi Gratis (MBG).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan, menjelaskan bahwa meskipun jumlah porsi makanan yang telah disajikan mencapai 1,6 miliar, hanya sekitar 9 ribu orang yang mengalami keracunan, atau sekitar 0,0001 persen. Namun, isu tersebut terus dikaitkan dengan program MBG.
"Kita harus melawan narasi-narasi negatif ini karena sangat berbahaya," ujarnya saat menyampaikan materi dalam kegiatan Sosialisasi Kebijakan dan Tata Kelola MBG di Hotel Soll Marina Bangka, Kamis, 23 Oktober 2025.
Tigor juga menyoroti kurangnya apresiasi terhadap usaha BGN dalam menjalankan program MBG. Ia meminta seluruh pimpinan yayasan hingga mitra untuk membuat konten positif di TikTok guna meningkatkan pemahaman dan semangat masyarakat terhadap dampak baik dari program ini.
Dampak Ekonomi Program MBG di Bangka Belitung
Salah satu contoh nyata dari dampak positif program MBG dapat dilihat di Bangka Belitung. Di wilayah tambang timah ini, dari 120 titik SPPG yang ditetapkan, 36 di antaranya sudah beroperasi dan memberikan pengaruh signifikan terhadap perekonomian masyarakat.
"Bayangkan jika satu SPPG menghabiskan dana Rp 500 juta per bulan untuk belanja, maka total perputaran uang di Bangka Belitung bisa mencapai lebih dari Rp 15 miliar setiap bulannya," ujar Tigor.
Ia menambahkan bahwa ekonomi di wilayah ini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada industri tambang timah. Justru, program MBG menjadi salah satu motor penggerak perekonomian lokal melalui pembelian bahan-bahan makanan seperti sayur-sayuran dan ayam.
Kendala dalam Implementasi Program MBG
Meski memiliki potensi besar, program MBG di Bangka Belitung menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah jarak antar dapur yang terlalu dekat atau jauh. Beberapa dapur bahkan harus melayani area yang jauh hingga lebih dari 6 kilometer, sehingga risiko makanan menjadi basi meningkat.
"Tidak boleh ada dapur yang harus melayani jarak lebih dari 6 kilometer atau melebihi 30 menit. Itu yang paling kita khawatirkan," ujar Tigor.
Selain itu, ketergantungan pada pasokan bahan pangan dari luar wilayah seperti Palembang, Sumatera Selatan, juga menjadi kendala. Untuk mengatasi hal ini, Tigor menyarankan pemerintah setempat membangun prasarana pertanian, seperti produksi sayur, ayam petelur, maupun ikan.
"Kita harap masyarakat Bangka Belitung mulai bertani karena pasti akan dibeli oleh dapur-dapur SPPG," ujarnya.