
Badan Gizi Nasional (BGN) mengajukan penambahan anggaran sebesar Rp 28,63 triliun kepada Menteri Keuangan. Penambahan dana ini dimaksudkan untuk menutup kebutuhan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pengembangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah terpencil hingga akhir tahun 2025.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa proyeksi kebutuhan tambahan anggaran muncul karena serapan dana dari program MBG terus meningkat menjelang akhir tahun 2025. Dalam waktu sekitar satu bulan dua puluh hari ke depan, BGN memproyeksikan penyerapan tambahan sebesar Rp 29,5 triliun. Rincian proyeksi tersebut adalah sebagai berikut:
Rp 8,5 triliun pada akhir November
Rp 10 triliun pada pertengahan Desember
* Rp 11 triliun pada akhir Desember 2025
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dadan menyampaikan bahwa total kebutuhan anggaran tambahan yang diajukan ke Kementerian Keuangan adalah sebesar Rp 28,63 triliun. Dengan demikian, Badan Gizi Nasional diprediksi akan menyerap 99 persen dana sebesar Rp 71 triliun, ditambah dengan Rp 28,63 triliun. Sehingga, total anggaran yang dibutuhkan oleh BGN di tahun 2025 mencapai sekitar Rp 99 triliun.

Dari total pagu anggaran bantuan pemerintah untuk MBG sebesar Rp 51,2 triliun tahun ini, hingga kini sudah terserap sebesar Rp 36,23 triliun. Hal ini membuat anggaran yang masih tersedia hanya sebesar Rp 14,97 triliun.
Dengan kebutuhan tambahan sebesar Rp 29,5 triliun hingga akhir tahun, Dadan memperkirakan kekurangan dana sekitar Rp 14,53 triliun hanya untuk program MBG. Selain itu, BGN juga tengah mengembangkan SPPG di sekitar 8.000 titik daerah terpencil. Pengembangan ini membutuhkan tambahan anggaran sebesar sekitar Rp 14,1 triliun. Kedua komponen ini kemudian membentuk total kebutuhan tambahan yang diajukan BGN ke Kemenkeu.
Dadan menjelaskan bahwa pengembangan SPPG dilakukan di daerah-daerah terpencil yang telah didata sebanyak 8 ribu titik. Proses ini bertujuan untuk memastikan akses layanan gizi yang lebih merata dan mudah dijangkau oleh masyarakat di wilayah-wilayah yang kurang memiliki fasilitas kesehatan atau layanan pangan bergizi.
Selain itu, BGN juga berkomitmen untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program MBG. Dengan adanya penambahan anggaran, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat, terutama di daerah-daerah yang sebelumnya tidak mendapatkan akses layanan gizi secara optimal.
Proses pengajuan anggaran ini juga dilakukan dalam rangka memastikan bahwa program-program yang telah dirancang oleh BGN dapat berjalan sesuai rencana. Dengan penambahan dana, diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek-proyek strategis seperti pengembangan SPPG dan penguatan infrastruktur pendukung lainnya.
Sebagai langkah selanjutnya, BGN akan terus melakukan evaluasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk Kementerian Keuangan, untuk memastikan proses pengajuan anggaran berjalan lancar dan dapat segera terealisasi. Hal ini penting untuk menjamin kelangsungan program dan keberlanjutan pelayanan gizi bagi masyarakat.