
aiotrade, JAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus mengalami peningkatan yang signifikan. Hingga pertengahan Oktober 2025, tercatat sebanyak 36,7 juta penerima manfaat telah menerima layanan dari program ini. Proyeksi menunjukkan bahwa jumlah tersebut akan melampaui 40 juta penerima pada akhir bulan ini.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dadan setelah menghadiri Sidang Kabinet Paripurna 1 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto–Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, di Istana Negara, Senin (20/10/2025) malam.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Saya pernah berjanji kepada Bapak Presiden bahwa dalam ulang tahun pertama pemerintahan kita, target 40 juta penerima manfaat akan tercapai. Hari ini kita sudah mencapai 36,7 juta, dan insyaallah akan tercapai di akhir Oktober,” ujar Dadan.
Dadan menjelaskan bahwa peningkatan jumlah penerima manfaat didukung oleh pertambahan harian sekitar 150–200 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setiap SPPG mampu melayani sekitar 450–600 anak penerima manfaat per hari. Dengan tren ini, capaian target masih berada di jalur yang realistis.
Dorong Zero Defect dan Penguatan Standar Keamanan
Tahun kedua pelaksanaan MBG akan difokuskan pada penerapan standar “zero defect”, yaitu tanpa kesalahan dan bebas dari kasus gangguan pencernaan. Untuk itu, BGN telah menetapkan batas rata-rata penerima manfaat per SPPG antara 2.000–2.500 anak, dengan kemungkinan diperluas hingga 3.000 jika dapur memiliki ahli masak bersertifikat.
Setiap SPPG baru akan didampingi oleh juru masak profesional selama lima hari, guna memastikan penerapan SOP kebersihan dan pengolahan pangan sesuai standar. Selain itu, BGN sedang melengkapi seluruh SPPG dengan rapid test untuk menguji bahan baku. Pengalaman Jepang menunjukkan bahwa 90 persen gangguan pencernaan berasal dari kualitas bahan baku. Oleh karena itu, penting agar makanan bisa dites di sekolah sebelum dibagikan.
BGN juga tengah mengupayakan penyediaan alat sterilisasi food tray di seluruh dapur umum MBG. Alat tersebut dapat mengeringkan peralatan makan dalam waktu tiga menit pada suhu 120 derajat Celsius, sehingga menjamin higienitas sebelum digunakan kembali.
Selain bahan makanan, kualitas air juga menjadi perhatian. Menurut Dadan, masih banyak kasus gangguan pencernaan yang berasal dari penggunaan air yang tidak layak. Air yang digunakan harus bersertifikat, minimal air isi ulang yang sudah melalui proses sertifikasi. Karena kualitas air di Indonesia belum merata, hal ini sedang menjadi prioritas.
Menjawab Kritik: 3T dan Anak Mampu
Menanggapi kritik bahwa program MBG belum sepenuhnya menjangkau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta masih menyentuh anak-anak dari keluarga mampu, Dadan menjelaskan bahwa data prevalensi stunting menunjukkan beban terbesar secara absolut berada di tiga provinsi padat penduduk: Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
“Anak stunting banyak di daerah tertinggal secara persentase, tapi secara jumlah terbesar ada di Jawa. Karena banyak anak lahir dari orang tua dengan pendidikan rata-rata hanya sembilan tahun. Jawa Barat 8,8 tahun, Jawa Tengah 8,01, Jawa Timur 8,1,” ujarnya.
Kondisi sosial ekonomi tersebut berpengaruh langsung pada akses gizi keluarga. Banyak keluarga di daerah tersebut tidak mampu membeli susu, bahkan sebagian besar anak penerima manfaat baru pertama kali minum susu melalui program MBG.
“Itu hal yang sangat mengharukan, dan menjadi tanggung jawab moral kami. Saat ini MBG baru menjangkau sekitar 40 persen anak Indonesia. Artinya masih ada 60 persen anak yang harus segera kita penuhi haknya untuk mendapatkan menu gizi seimbang,” tegas Dadan.