BGN Turun Tangan Selidiki Keracunan Massal di SMPN 1 Cisarua Bandung Barat

admin.aiotrade 17 Okt 2025 4 menit 25x dilihat
BGN Turun Tangan Selidiki Keracunan Massal di SMPN 1 Cisarua Bandung Barat
BGN Turun Tangan Selidiki Keracunan Massal di SMPN 1 Cisarua Bandung Barat

Tim Investigasi BGN Turun ke SMPN 1 Cisarua Pasca Keracunan Massal

Tim investigasi Badan Gizi Nasional (BGN) telah turun langsung ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, setelah terjadi kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kegiatan ini dilakukan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk mengecek hasil uji laboratorium dari sampel makanan yang diberikan kepada siswa.

Anggota tim investigasi BGN, Herman Susilo, menjelaskan bahwa pihaknya tidak hanya fokus pada hasil uji laboratorium, tetapi juga melakukan peninjauan langsung terhadap kondisi dapur dan sistem manajemen penyelenggaraan MBG di lapangan. Ia mengatakan bahwa tim independen ini akan memeriksa semua aspek sebelum menyusun kesimpulan resmi.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Kami akan melihat hasil uji lab terlebih dahulu. Setelah itu, kami akan menyusun kesimpulan resmi. Kami juga telah berkoordinasi dengan pihak terkait yang bergerak cepat menangani kerawanan pangan di Bandung Barat,” kata Herman Susilo saat ditemui di SMPN 1 Cisarua, Kamis 16 Oktober 2025.

Peninjauan Infrastruktur dan Manajemen Dapur

Herman menekankan bahwa BGN menyoroti infrastruktur dapur, sistem manajemen, serta kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang terlibat dalam pengelolaan MBG. Selain itu, ia menjelaskan bahwa jika ditemukan indikasi pelanggaran terhadap standar keamanan pangan, operasional dapur harus segera dihentikan sementara.

“Sesuai SOP BGN, jika terjadi kasus seperti ini, dapur harus langsung dihentikan operasionalnya sampai evaluasi selesai,” tuturnya.

Karakteristik Kasus Berbeda dan Pengawasan Sertifikat

Menyikapi kemungkinan adanya keracunan serupa di wilayah lain seperti Cipongkor dan Cihampelas, Herman menjelaskan bahwa setiap kasus memiliki karakteristik berbeda. Namun, pada kasus sebelumnya, ditemukan kadar nitrit berlebih dalam beberapa bahan pangan.

“Di Cipongkor kami menemukan kadar nitrit yang berlebih pada bahan makanan. Kasus di Cisarua ini juga akan kami telusuri satu per satu agar bisa diketahui penyebab pastinya,” katanya.

Selanjutnya, Herman menegaskan bahwa seluruh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sesuai regulasi. “Itu sudah menjadi kewajiban. BGN bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mendorong agar semua dapur SPPG di Bandung Barat segera memiliki SLHS,” ungkapnya.

Status Dapur SPPG dan Proses Sertifikasi

Saat ini, sebagian besar dapur SPPG di KBB belum memiliki SLHS dan sedang dalam proses sertifikasi. Pihaknya terus memantau agar pelaksanaannya sesuai standar. Sebagai informasi, sebanyak 107 dapur SPPG di Kabupaten Bandung Barat (KBB) tercatat belum memiliki SLHS.

Penutupan Posko dan Data Korban

Sementara itu, pantauan "PR" pada Kamis menjelang sore mendapati posko penanganan korban dugaan keracunan MBG di SMPN 1 Cisarua sudah ditutup. Di sana, tak terlihat adanya aktivitas hilir mudik ambulans serta pengangkutan para korban dugaan keracunan MBG sebagaimana hari sebelumnya. Suasana pun terlihat sepi.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan KBB dr. Lia Nurliana Sukandar mengatakan, posko tersebut dialihkan ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat. “Dialihkan ke faskes terdekat ya,” kata Lia lewat pesan WhatsApp-nya.

Lia juga memberikan data rekapitulasi kasus hingga Rabu 15 Oktober 2025, pukul 23.41. Jumlah total korban mencapai 502 orang dengan 50 masih dirawat dan 452 menjalani rawat jalan/pulang/sembuh.

Trauma dan Penolakan Program

Peristiwa dugaan keracunan MBG di Kecamatan Cisarua menimbulkan trauma bagi warga yang anak dan kerabatnya menjadi korban. Warga pun menyatakan menolak dan meminta penghentian program dari Presiden Prabowo Subianto tersebut.

Salah satu warga yang trauma dengan kejadian itu adalah Yayah (41), ibunda dari Aprilianti (14), siswa kelas VIII SMPN 1 Cisarua. Sang anak menjadi bagian dari para murid yang mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi MBG di sekolah itu Selasa 14 Oktober 2025. Yayah masih bisa mengingat betul bagaimana mencekam dan mengerikannya kejadian tersebut. Ia tak menyangka, Aprilianti turut menjadi korban.

Soalnya, distribusi MBG sudah masuk ke SMPN 1 Cisarua sejak beberapa bulan lalu. “Enggak ada keluhan, kejadian. Anak saya tiba-tiba mual,” ucapnya kepada “PR” di dekat SMPN 1 Cisarua, Jalan Kolonel Masturi, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kamis 16 Oktober 2025.

Aprilianti akhirnya dibawa ke posko penanganan di SMP tersebut. Kendati tak sampai dirujuk ke rumah sakit, Yayah masih bisa mengingat banyaknya siswa yang dirawat karena mengalami gejala yang sama.

Hal itu membuatnya trauma dan enggan anaknya mengonsumsi kembali MBG. “Jadi takut (anak saya keracunan lagi). Enggak usah dimakan karena takut kejadian,” ucapnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan