Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada tingkat 4,75% dalam pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Desember 2025 yang akan diumumkan hari ini. Meski demikian, terdapat peluang pemangkasan suku bunga BI jika kondisi ekonomi dan pasar memungkinkan.
Josua menyatakan bahwa kemungkinan pemotongan suku bunga BI masih terbuka. Hal ini didukung oleh kebijakan The Fed yang menunjukkan sikap dovish, terutama dalam pernyataan FOMC bulan Desember 2025. Dari sisi domestik, inflasi tetap berada dalam rentang target BI yaitu 1,5% hingga 3,5%. Selain itu, surplus perdagangan yang terus berlanjut juga memberikan ruang bagi BI untuk melakukan pemangkasan BI-Rate.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Namun, Josua menyoroti bahwa investor global saat ini cenderung risk-off dan menunggu keputusan BI. Hal ini berdampak pada aliran modal (capital flows) yang pada akhirnya memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah yang saat ini sedang dalam tren sideways.
Data-data regional Asia Pasifik, khususnya dari Cina yang terus menunjukkan pelemahan, menambah risiko outlook ekonomi RI. Namun, Josua menilai bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid. Risiko dari sisi pelebaran defisit fiskal di tengah agenda pro pertumbuhan juga membuat investor global lebih waspada. Perubahan regulasi, seperti aturan terkait devisa hasil ekspor, meningkatkan ketidakpastian sehingga membuat investor lebih waspada.
Kondisi yang saling bertolak belakang ini menjadi tantangan bagi BI dalam mengukur risiko dan mengambil keputusan terkait BI-Rate pada RDG Desember 2025.
Inflasi Berpeluang Naik
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) juga menilai bahwa BI perlu mempertahankan suku bunganya pada akhir tahun ini. Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menyatakan hal ini karena ada potensi peningkatan inflasi pada akhir tahun.
Inflasi tercatat melambat dari 2,86% secara tahunan (yoy) pada Oktober 2025 menjadi 2,72% yoy pada November 2025. Namun, Riefky menyebut periode libur akhir tahun berpotensi menambah tekanan inflasi.
Di sisi lain, meskipun rupiah cenderung menguat dalam beberapa pekan terakhir, Riefky mengatakan pergerakan nilai tukar masih cenderung fluktuatif. Riefky menegaskan bahwa mempertimbangkan perkembangan terkini pada inflasi dan nilai tukar, pemotongan suku bunga oleh BI berisiko memicu naiknya tekanan inflasi dan berpotensi mendorong pelemahan nilai tukar rupiah.
βOleh karena itu, kami berpandangan bahwa Bank Indonesia perlu menahan suku bunga acuannya di 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur terakhir di 2025,β ujar Riefky.
Selain itu, Riefky menekankan bahwa Bank Indonesia juga perlu terus menjaga fokusnya pada usaha stabilisasi nilai tukar rupiah dan intervensi nilai tukar apabila diperlukan.