BI Pastikan Redenominasi Rupiah Tidak Pengaruhi Nilai dan Daya Beli Masyarakat

admin.aiotrade 12 Nov 2025 2 menit 13x dilihat
BI Pastikan Redenominasi Rupiah Tidak Pengaruhi Nilai dan Daya Beli Masyarakat

Bank Indonesia Jelaskan Tujuan Redenominasi Rupiah

Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa rencana redenominasi rupiah tidak akan memengaruhi nilai tukar maupun daya beli masyarakat. Kebijakan ini hanya bertujuan untuk menyederhanakan jumlah digit pada pecahan uang tanpa mengubah nilai riilnya terhadap harga barang dan jasa.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Redenominasi rupiah merupakan langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi transaksi, memperkuat kredibilitas rupiah, dan mendukung modernisasi sistem pembayaran nasional,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso di Jakarta, Senin (10/11).

Menurut Denny, proses redenominasi akan dirancang secara hati-hati dengan koordinasi lintas lembaga. Saat ini, Rancangan Undang-Undang (RUU) Redenominasi Rupiah telah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Jangka Menengah 2025–2029, sebagai inisiatif pemerintah melalui usulan BI.

Ia menambahkan, pembahasan lebih lanjut akan dilakukan bersama Pemerintah dan DPR, dengan mempertimbangkan faktor stabilitas politik, ekonomi, sosial, serta kesiapan teknis, mulai dari infrastruktur hukum hingga sistem logistik dan teknologi informasi.

“Selama proses ini berlangsung, Bank Indonesia akan tetap menjaga stabilitas nilai rupiah serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tegas Denny.

Pandangan Beragam dari Kalangan Ekonom

Namun, wacana redenominasi ini memunculkan pandangan beragam dari kalangan ekonom. Pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai langkah tersebut belum menjadi prioritas di tengah kondisi ekonomi yang masih rapuh akibat lemahnya daya beli dan stagnasi investasi.

“Masalahnya bukan pada konsep redenominasi, tapi pada timing dan motivasinya. Saat rakyat masih berjuang dengan harga bahan pokok dan pengangguran meningkat, redenominasi terasa seperti mempercantik dinding rumah yang retak tanpa memperbaiki fondasinya,” ujarnya.

Achmad menilai, kebijakan ini lebih bersifat simbolik — menonjolkan gengsi dan citra politik ekonomi — ketimbang menjawab persoalan nyata masyarakat. Ia mencontohkan bahwa redenominasi hanya efektif di negara dengan stabilitas makroekonomi kuat dan kepercayaan publik tinggi, seperti Turki dan Korea Selatan.

“Indonesia belum berada di tahap itu. Nilai tukar rupiah masih sensitif terhadap tekanan eksternal, dan masyarakat belum terbiasa dengan nominal kecil. Perubahan ke Rupiah Baru justru bisa menimbulkan kebingungan harga dan persepsi inflasi,” jelasnya.

Fokus pada Penguatan Ekonomi Riil

Ia menegaskan, ketimbang memoles angka di lembar uang, pemerintah sebaiknya fokus memperkuat ekonomi riil, menciptakan lapangan kerja, menstabilkan harga pangan, dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

“Martabat rupiah tidak ditentukan oleh berapa nol di belakangnya, tapi oleh seberapa kuat rakyatnya menopang perekonomian nasional,” pungkas Achmad.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan