BI Tetap, Apindo Minta Kemudahan Kredit

admin.aiotrade 22 Okt 2025 2 menit 13x dilihat
BI Tetap, Apindo Minta Kemudahan Kredit


aiotrade, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menginginkan kemudahan akses kredit sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI rate pada angka 4,75%.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menyatakan bahwa kebijakan moneter bank sentral ini diambil dengan mempertimbangkan kinerja nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada Selasa (21/10/2025), nilai tukar rupiah mencapai Rp16.585 per dolar AS, atau menguat 0,45% dibandingkan posisi akhir September 2025. Meski demikian, rupiah melemah sebesar 1,05% dibandingkan Agustus 2025.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Kebijakan ini masih selaras dengan pertimbangan macroprudential ekonomi Indonesia, khususnya dalam konteks potensi pelemahan nilai tukar yang masih relatif tinggi,” ujar Shinta.

Meskipun suku bunga acuan rendah, Shinta mengakui bahwa hal tersebut belum mampu mendorong sektor riil karena masih ada kendala dalam akses kredit. Ia menyarankan pemerintah untuk memperhatikan ketersediaan dana untuk kredit serta melakukan relaksasi terhadap ketentuan dan penilaian risiko kredit oleh perbankan.

“Salah satu instrumen penting untuk menciptakan quantitative easing bagi sektor riil adalah relaksasi ketentuan kredit dan penilaian risiko kredit oleh perbankan, agar sektor perbankan dapat memberikan kredit lebih banyak kepada peminjam dengan persepsi risiko lebih tinggi seperti UMKM,” jelasnya.

Berdasarkan data BI, penurunan suku bunga acuan sebesar 150 basis poin (bps) sepanjang tahun ini ternyata tidak cukup untuk menurunkan suku bunga kredit secara signifikan. Penurunan hanya sebesar 15 bps, dari 9,2% pada awal tahun menjadi 9,05% pada September 2025.

Tidak heran jika Shinta menyebut penurunan suku bunga acuan saja tidak cukup untuk menggerakkan perekonomian. Ia menjelaskan bahwa jika tiga faktor—suku bunga kompetitif, ketersediaan dana, dan relaksasi kredit—dilakukan secara serentak, dampak percepatan ekonomi bisa terlihat dalam 3–6 bulan dan akan berlanjut lebih lama jika dilakukan secara konsisten.

Lebih lanjut, dia menekankan bahwa upaya mendorong pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dari sisi pembiayaan. Saat ini, tantangan utama justru berasal dari meningkatnya ketidakpastian dan ketidakpastian iklim usaha, baik di dalam maupun luar negeri.

“Stimulasi pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya dari sisi financing. Kelesuan ekonomi saat ini lebih disebabkan oleh meningkatnya uncertainty (ketidakpastian) dan unpredictability iklim usaha, sehingga banyak pelaku usaha memilih menahan ekspansi,” tegasnya.

Shinta pun mendorong pemerintah untuk meningkatkan efisiensi biaya berusaha serta mempercepat deregulasi dan pemangkasan birokrasi perizinan usaha sebagai langkah konkret memperkuat kepercayaan pelaku usaha dan investor. Terkait strategi ekspansi ke depan, Apindo menilai sebagian besar pelaku usaha lebih memilih memperkuat bisnis inti dan menjaga pangsa pasar yang sudah ada.

“Banyak perusahaan memilih membentuk konsorsium untuk menurunkan risiko usaha, atau mengadopsi teknologi guna meningkatkan produktivitas tanpa menambah beban tenaga kerja secara berlebihan,” tuturnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan