
Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) Martin D Siyaranamual menjelaskan bahwa biaya dana obligasi SMF berpotensi menurun setelah obligasi perusahaan dapat dijadikan sebagai underlying repo di Bank Indonesia. Hal ini memberi peluang bagi SMF untuk meningkatkan daya ungkit pendanaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
“Jika cost of fund dari kami turun, maka kami bisa leverage atau ungkit FLPP lebih besar,” ujar Martin di Surakarta, Sabtu, 15 November 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Ia menjelaskan bahwa ketika obligasi SMF semakin diterima oleh investor dan pasar, kebutuhan perusahaan untuk memberikan imbal hasil tinggi akan berkurang. Contohnya, spread imbal hasil obligasi SMF terhadap SBN saat ini berada di kisaran 100-150 basis poin (bps). Dengan adanya fasilitas repo, SMF bisa menawarkan spread yang lebih rendah, misalnya sekitar 80 bps. Penurunan spread ini secara langsung memengaruhi penurunan biaya dana perseroan.
Dengan biaya dana yang lebih rendah, kemampuan SMF untuk meningkatkan porsi pendamping FLPP juga meningkat. Saat ini, SMF menyediakan porsi dana pendamping sebesar 25 persen untuk pembiayaan KPR FLPP. Penurunan biaya dana tersebut pada akhirnya berpotensi mendorong volume penyaluran KPR subsidi.
Selain itu, fasilitas repo juga membantu meningkatkan likuiditas pasar obligasi jangka panjang. Investor yang sebelumnya kurang tertarik pada tenor 10, 15, hingga 20 tahun, kini lebih terbuka untuk membeli obligasi jangka panjang karena obligasi SMF dapat direpo ke Bank Indonesia.
“Dengan adanya obligasi SMF sebagai underlying repo, bank tahu mereka bisa memperoleh likuiditas cepat. Ini membantu menjaga stabilitas likuiditas perbankan dan rasio kecukupan likuiditas,” ujar Martin.
Sebagai informasi, BI memiliki beberapa kriteria bagi surat berharga yang dapat diterima sebagai underlying, antara lain jenis aset likuid berkualitas tinggi (high-quality liquid assets/HQLA).
Direktur Bisnis SMF Heliantopo menambahkan bahwa akses repo akan meningkatkan minat investor membeli obligasi SMF karena mereka memiliki exit option yang likuid. Ia mengingatkan, program perumahan nasional sebanyak 3 juta rumah membutuhkan likuiditas besar. Maka, obligasi SMF yang bisa menjadi underlying repo ini diharapkan dapat memperlancar perputaran dana dan meningkatkan volume penyaluran KPR FLPP.
Adapun hingga saat ini, surat berharga yang bisa direpo di BI hanya mencakup obligasi SMF yang konvensional maupun syariah. Sementara untuk Efek Beragun Aset (EBA), keterbatasan jumlah dan likuiditas menjadi kendala. Namun, SMF berharap EBA dapat dijadikan underlying repo di masa depan jika likuiditas dan kualitasnya memadai.