
Pertumbuhan Energi Terbarukan di Asia Pasifik
Laporan terbaru dari lembaga analisis energi global, Wood Mackenzie, menunjukkan bahwa biaya pokok produksi listrik dari energi terbarukan, khususnya pembangkit tenaga surya dan angin, telah menjadi yang terendah di dunia. Hal ini sangat terasa di kawasan Asia Pasifik, yang menjadi episentrum pertumbuhan energi hijau. Kondisi ini menciptakan peluang sekaligus tekanan kompetitif bagi negara-negara di kawasan tersebut, termasuk Indonesia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Berdasarkan laporan Levelised Cost of Electricity (LCOE) 2025, pengembangan pembangkit berbasis energi terbarukan tidak lagi hanya soal komitmen lingkungan, tetapi telah menjadi pilihan ekonomi yang paling masuk akal. Tercatat, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mencatat biaya pembangkitan terendah di seluruh Asia Pasifik. China menjadi negara dengan biaya LCOE terendah sebesar US$27 per Megawatt hour (MWh), sementara Jepang tercatat US$118/MWh pada 2025.
Ahmed Jameel Abdullah, Senior Research Analyst di Wood Mackenzie, menyatakan dalam keterangan tertulis, Rabu (22/10/2025), bahwa "Di semua wilayah, teknologi terbarukan menunjukkan keunggulan biaya yang jelas dibandingkan pembangkit konvensional."
Tidak hanya tenaga surya, pembangkit listrik tenaga angin PLTB yang beroperasi di darat (onshore) juga muncul sebagai pilihan yang sangat kompetitif. China, India, dan Vietnam bahkan menjadi pemimpin global dengan biaya PLTB onshore berkisar antara US$25-US$70/MWh.
Woodmac memperkirakan kawasan ini tidak hanya mengandalkan satu jenis energi terbarukan, tetapi membangun portofolio yang beragam dan murah. Dengan adanya berbagai sumber energi terbarukan, kawasan ini dapat meningkatkan stabilitas pasokan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Namun, laporan ini juga menyoroti tantangan. Biaya untuk PLTB lepas pantai masih (offshore) sangat tinggi di sebagian besar negara Asia Pasifik, kecuali China, dan diperkirakan baru akan turun signifikan setelah 2030. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun energi terbarukan semakin kompetitif, beberapa teknologi masih memerlukan waktu dan investasi tambahan untuk mencapai biaya yang lebih rendah.
"Transisi energi global sedang berakselerasi pada kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. PLTS dan PLTB onshore telah menjadi opsi berbiaya rendah yang dominan di seluruh dunia," tambah Abdullah.
Keunggulan Energi Terbarukan di Asia Pasifik
Kawasan Asia Pasifik terus menunjukkan kemajuan pesat dalam pengembangan energi terbarukan. Dalam laporan LCOE 2025, terlihat bahwa biaya produksi listrik dari energi terbarukan semakin menurun, membuatnya menjadi pilihan yang lebih ekonomis dibandingkan sumber-sumber konvensional seperti batu bara atau minyak bumi.
Berikut adalah beberapa hal penting yang terungkap dalam laporan ini:
- Pengembangan PLTS yang cepat: Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang paling efisien dan murah di Asia Pasifik. Negara-negara seperti China dan Jepang telah berhasil menurunkan biaya produksi secara signifikan.
- Keunggulan PLTB onshore: Pembangkit listrik tenaga angin darat (PLTB onshore) juga menunjukkan daya saing yang kuat. Negara-negara seperti China, India, dan Vietnam memiliki biaya yang relatif rendah dan stabil.
- Diversifikasi energi: Karena biaya produksi yang rendah, banyak negara di kawasan ini mulai membangun portofolio energi yang beragam, termasuk kombinasi antara tenaga surya, angin, dan sumber-sumber lainnya.
- Tantangan untuk PLTB offshore: Meskipun PLTB offshore memiliki potensi besar, biayanya masih relatif tinggi di sebagian besar negara Asia Pasifik. Hanya China yang sudah berhasil menurunkan biaya secara signifikan.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Meskipun ada banyak keuntungan dari pengembangan energi terbarukan, kawasan Asia Pasifik masih menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah biaya yang masih tinggi untuk PLTB offshore. Teknologi ini membutuhkan investasi besar dan pengembangan infrastruktur yang kompleks, sehingga biaya produksinya masih lebih mahal dibandingkan sumber-sumber lain.
Namun, dengan perkembangan teknologi dan peningkatan kapasitas produksi, biaya PLTB offshore diharapkan akan menurun dalam beberapa tahun ke depan. Wood Mackenzie memprediksi bahwa setelah 2030, biaya tersebut akan menjadi lebih kompetitif dan bisa menjadi bagian dari portofolio energi yang lebih luas.
Selain itu, transisi energi global yang sedang berlangsung dengan cepat memperkuat posisi energi terbarukan sebagai pilihan utama. Dengan penurunan biaya dan peningkatan efisiensi, energi terbarukan akan semakin menjadi andalan dalam memenuhi kebutuhan listrik di kawasan Asia Pasifik dan dunia secara keseluruhan.