
Wakil Menteri Dalam Negeri Ajak Kader HMI dan Kohati Jadi Motor Penggerak Kepemimpinan Perempuan
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengajak kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps HMI-Wati (Kohati) untuk menjadi motor penggerak dalam memperkuat kepemimpinan perempuan di ruang publik. Ajakan ini disampaikan Bima saat membuka Sekolah Pimpinan Kohati 2025 di Aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Minggu (26/10/2025).
Tren Positif Keterlibatan Perempuan di Politik
Dalam sambutannya, Bima menyampaikan apresiasinya terhadap tren meningkatnya partisipasi perempuan di dunia politik dan pemerintahan. Ia menyoroti bahwa keterwakilan perempuan di berbagai level mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Tren keterwakilan perempuan itu naik. Baik di DPR, yang maju Pilkada, dan yang menang Pilkada. Ini data yang baik sekali secara kuantitatif,” ujarnya.
Meski belum merata, ia menilai kemajuan ini merupakan sinyal positif bagi masa depan kepemimpinan nasional yang lebih inklusif dan berkeadilan gender.
Langkah Nyata Saat Jadi Wali Kota Bogor
Bima kemudian mencontohkan kebijakan afirmatif yang pernah diterapkannya saat menjabat sebagai Wali Kota Bogor. Ia menjelaskan bahwa pada masa itu, ia membuka ruang seluas-luasnya bagi perempuan untuk menduduki jabatan strategis di pemerintahan daerah.
“Waktu jadi wali kota, saya kasih kuota. Camat harus ada perempuan. Dari enam camat, minimal satu, kalau bisa dua perempuan. Dari 68 lurah, ada lebih dari 10 perempuan — dulu cuma satu-dua saja. Bahkan, Sekda pertama dalam sejarah Kota Bogor perempuan itu di masa saya,” tutur Bima.
Hadapi Era Disrupsi: Siapkan Pemimpin Adaptif
Lebih jauh, Bima menekankan pentingnya pola pikir adaptif di tengah era disrupsi dan ketidakpastian global. Ia mengingatkan bahwa perubahan sosial, politik, dan teknologi bergerak sangat cepat, sehingga para aktivis muda perlu siap menghadapi kompetisi kepemimpinan yang semakin terbuka.
“Kita hidup di masa yang serba tak terprediksi. Tiba-tiba muncul aktor baru, orang-orang yang dulu tidak diperhitungkan. Dunia berubah dalam hitungan menit,” kata Bima menggambarkan.
Ia juga mengutip buku “The Great Wave: The Era of Radical Disruption and the Rise of the Outsider” karya Michiko Kakutani, untuk menjelaskan fenomena munculnya “outsider” atau tokoh-tokoh baru yang mengguncang tatanan lama di berbagai bidang.
“Dunia hari ini dipenuhi disrupsi radikal dan kemunculan outsider. Enggak ada lagi pakem yang ajek. Kita harus siap-siap,” tegasnya.
Visi Lintas Generasi dan Kolaborasi Jadi Kunci
Menurut Bima, pemimpin masa depan tidak hanya dituntut untuk cerdas dan berintegritas, tetapi juga harus memiliki visi lintas generasi, kemampuan inovasi, serta semangat kolaboratif.
“Banyak orang ingin jadi pemimpin, tapi tidak semua bisa memimpin dengan efektif. Ini era kolaborasi dan inovasi — enggak bisa sendiri,” tandasnya.
Acara Sekolah Pimpinan Kohati 2025 turut dihadiri oleh Ketua Umum PB HMI 2024–2026 Bagas Kurniawan, Ketua Umum Kohati PB HMI 2024–2026 Sri Meisista, serta puluhan kader HMI dari berbagai daerah di Indonesia.
Melalui forum ini, Bima berharap para kader HMI dan Kohati mampu menjadi pelopor kepemimpinan perempuan yang berintegritas, adaptif, dan kolaboratif — pemimpin yang siap menghadapi gelombang perubahan zaman.