
Kinerja Keuangan TOWR di Kuartal III 2025
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mencatat kinerja positif pada kuartal III tahun 2025. Pendapatan yang diperoleh perusahaan sebesar Rp 9,68 triliun selama Januari hingga September 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 2,52% secara tahunan (year on year/ YoY). Laba bersih perusahaan juga meningkat menjadi Rp 2,55 triliun, naik 4,41% YoY.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh pendapatan dari sewa menara pihak ketiga, yang menyumbang sebesar Rp 8,5 triliun. Selain itu, layanan dan pendapatan lainnya mencapai Rp 1,1 triliun. Beberapa pelanggan utama TOWR antara lain PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Indosat Tbk (ISAT), dan Telkomsel dengan kontribusi masing-masing sebesar Rp 3,9 triliun, Rp 3,3 triliun, dan Rp 1,1 triliun.
Perkembangan Aset dan Ekuitas TOWR
Pada akhir kuartal III tahun 2025, total aset TOWR mencapai Rp 78,2 triliun, naik dari Rp 77,8 triliun pada akhir tahun 2024. Total kewajiban turun menjadi Rp 51,9 triliun dari Rp 58,6 triliun, sementara total ekuitas tumbuh menjadi Rp 26,3 triliun dibandingkan dengan Rp 19,1 triliun pada tahun 2024.
Selain itu, aset Fiber to the Home (FTTH) mencapai sekitar 1.795.900 rumah yang terhubung, dengan 235.890 rumah yang terhubung, mencerminkan tingkat penetrasi sebesar 13%. Perusahaan juga aktif memperluas layanan konektivitasnya melalui berbagai penawaran Very Small Aperture Terminal (VSAT), nirkabel, dan kabel di bawah pengaturan B2B dan B2G, mencapai 25.163 aktivasi.
Pertumbuhan EBITDA dan Strategi Manajemen
EBITDA sembilan bulan di 2025 naik 1% YoY menjadi Rp 8,0 triliun. Manajemen TOWR mempertahankan panduan tahun 2025 untuk pertumbuhan pendapatan satu digit rendah, didukung oleh ekspansi non-menara dan peningkatan jaringan di Jawa dan kota-kota terpilih.
Setelah penerbitan saham baru senilai Rp 5,5 triliun, TOWR berfokus pada efisiensi belanja modal dan sinergi di seluruh menara, fiber, dan konektivitas. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan profitabilitas dan memperkuat struktur modalnya.
Proyeksi Pertumbuhan Penyewaan Menara
Gani, Equity Analyst OCBC Sekuritas, menyoroti bahwa bisnis penyewaan menara yang lesu kemungkinan akan berlanjut hingga tahun 2026. Ia mencatat bahwa TOWR hanya menambahkan 178 penyewa bersih dalam sembilan bulan di 2025, sebuah kontras yang mencolok dengan tahun-tahun puncaknya antara tahun 2019 sampai 2021. Saat itu, penambahan organik rata-rata sekitar 2.000–3.000 penyewa setiap tahun.
Perlambatan tersebut disebabkan oleh merger ISAT–Hutchison, yang telah mendorong konsolidasi jaringan dan meredam permintaan tambahan. Meskipun integrasi ISAT seharusnya selesai pada akhir tahun 2025, hambatan serupa muncul dari merger EXCL–FREN tahun ini.
Akibatnya, Gani memperkirakan pertumbuhan penyewaan akan tetap lesu hingga 2026–2027, dengan penambahan bersih 250–300 penyewa setiap tahun. Ia juga memperkirakan penurunan bertahap dalam rasio penyewaan dari 1,64 kali pada tahun 2024 menjadi 1,61 kali–1,59 kali pada tahun 2025–2026.
Proyeksi Kinerja TOWR di Tahun 2026
Harry Su, Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, memproyeksikan kinerja TOWR pada awal tahun depan akan cenderung flat dikarenakan belum adanya sentimen positif yang signifikan. Ia menambahkan bahwa low purchasing power yang akan mempengaruhi industri telekomunikasi juga akan menekan industri tower telekomunikasi. Menurutnya, ada potensi permintaan sewa baru pada awal tahun, tetapi mungkin tidak begitu signifikan.
Jika ekonomi membaik dan pemain telco serentak menaikan rata-rata pendapatan per pengguna atau ARPU, maka akan mendorong ekspansi dan meningkatkan permintaan tower.
Rekomendasi Saham dan Risiko Investasi
Gani, Arief, dan Harry Su merekomendasikan Buy saham TOWR dengan target harga masing-masing Rp 700 per saham, Rp 715 per saham, dan Rp 1.050 per saham. Adapun risiko investasi yang perlu diwaspadai antara lain ekspansi operator jaringan telekomunikasi (Mobile Network Operator/MNO) yang lebih lambat, kemajuan teknologi baru yang mengganggu bisnis, dan penundaan penurunan suku bunga.