
Pergerakan Harga Bitcoin di Tengah Spekulasi Pasar
Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami penguatan, mencapai kisaran US$ 66.000 menjelang pembukaan perdagangan Wall Street. Penguatan ini terjadi di tengah beredarnya berbagai spekulasi mengenai dugaan tekanan dari institusi keuangan asal Amerika Serikat (AS). Data dari TradingView pada Rabu (25/2/2026) menunjukkan bahwa pasangan BTC/USD sempat menyentuh level US$ 66.300 di bursa Bitstamp sebelum mengalami konsolidasi. Secara harian, harga BTC masih mencatat kenaikan lebih dari 2%.
Spekulasi tentang Penjualan Algoritmik
Di kalangan pelaku pasar kripto, muncul spekulasi terkait potensi penekanan harga Bitcoin secara sengaja. Teori yang beredar di media sosial menyebut bahwa perusahaan investasi kuantitatif asal AS, Jane Street, diduga melakukan penjualan algoritmik terkoordinasi setiap pukul 10 pagi waktu Timur AS (10am Eastern time). Jane Street saat ini sedang menghadapi proses hukum yang diajukan oleh perusahaan kripto bangkrut, Terraform Labs.
Dalam gugatan tersebut, Terraform Labs menyinggung dugaan “manipulasi pasar” yang memengaruhi pasar kripto sepanjang 2022, tahun ketika Bitcoin mencetak titik terendah pasar bearish di level US$ 15.600 pada kuartal IV. Menurut teori yang beredar, strategi algoritmik tersebut disebut-sebut menjadi pemicu utama tekanan harga BTC sejak Oktober 2025.
Spekulasi berkembang bahwa proses hukum yang berjalan mungkin memaksa Jane Street menghentikan strategi tersebut, sehingga pasar memiliki ruang untuk pulih. Namun, Jane Street membantah tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai klaim yang “tidak berdasar dan oportunistis.”
Kritik terhadap Teori "10am Price Slam"
Tidak semua pelaku pasar percaya dengan teori “10am price slam” tersebut. Sejumlah analis menilai argumen tersebut terlalu sederhana untuk menjelaskan dinamika harga Bitcoin yang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor global. Mereka menekankan bahwa harga kripto dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kebijakan moneter, situasi geopolitik, dan sentimen pasar.
Resistensi di Area US$ 66.000
Meski harga menguat, sejumlah trader tetap berhati-hati. Analis kripto Jelle menilai BTC menghadapi resistensi kuat di area US$ 66.000, baik dari sisi batas bawah rentang harga lokal maupun tren 4 jam (4H). Sementara itu, Keith Alan, salah satu pendiri platform analisis Material Indicators, menyebut reli harga dipicu oleh likuiditas order book yang sangat tipis di bursa kripto.
Ia juga mengungkapkan bahwa likuiditas jual di atas harga pasar telah ditarik menjelang pidato kenegaraan Presiden AS, Donald Trump. Data dari CoinGlass menunjukkan total likuidasi pasar kripto dalam 24 jam terakhir mencapai US$ 333 juta, dengan posisi short menyumbang sekitar US$ 213 juta. Kondisi ini mengindikasikan banyak pelaku pasar yang memasang taruhan penurunan harga justru terpaksa menutup posisi akibat lonjakan BTC.
Volatilitas Tinggi dan Sentimen Pasar
Dengan volatilitas yang masih tinggi dan sentimen pasar yang sensitif terhadap isu hukum maupun kebijakan AS, pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek diperkirakan tetap fluktuatif. Pelaku pasar harus tetap waspada terhadap berbagai faktor yang dapat memengaruhi harga kripto, termasuk perkembangan hukum dan situasi ekonomi global.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar