Bitcoin Melemah, Sedikit Pemicu untuk Dorong Harga Akhir Tahun

admin.aiotrade 17 Nov 2025 2 menit 15x dilihat
Bitcoin Melemah, Sedikit Pemicu untuk Dorong Harga Akhir Tahun

aiotrade.CO.ID – JAKARTA.

Bitcoin kembali mengalami tekanan di awal pekan ini, dengan kondisi pasar kripto yang tidak menunjukkan adanya katalis positif. Selain itu, meningkatnya ketidakpastian makroekonomi setelah pemerintahan Amerika Serikat (AS) kembali dibuka juga turut memengaruhi pergerakan harga aset digital ini.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pergerakan harga Bitcoin diperkirakan akan terus mengalami risiko koreksi lebih dalam hingga akhir tahun. Harga Bitcoin pada awal pekan ini menunjukkan penurunan, dengan data dari Cointelegraph pada Senin (17/11/2025) pukul 19.28 WIB menunjukkan bahwa harga BTC saat ini berada di sekitar US$ 95,393. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,24% secara harian dan 10,00% dalam seminggu terakhir.

Christopher Tahir, co-founder CryptoWatch dan pengelola Channel Duit Pintar, menyatakan bahwa sentimen negatif terhadap Bitcoin terkait dengan kurangnya katalis positif dari pasar kripto sendiri. Ia menilai bahwa hal ini menjadi faktor utama yang menyebabkan pelemahan harga aset digital tersebut.

Selain itu, pada Kamis, 13 November 2025 lalu, Presiden Donald Trump telah menandatangani rancangan undang-undang untuk mengakhiri government shutdown AS setelah hari ke-43 penutupan pemerintahan. Meskipun situasi ini memberikan sedikit optimisme, pelaku pasar tetap waspada terhadap eksposur berlebihan akibat ketidakpastian pasca pembukaan kembali pemerintahan AS.

Chris menambahkan bahwa pernyataan kurang dovish dari para pejabat The Fed juga turut memperparah situasi. Hal ini menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global, termasuk pasar kripto.

Dalam sepekan ke depan, Chris memprediksi bahwa pergerakan harga Bitcoin akan cenderung volatil. Pergerakan ini akan bergantung pada rilis data ekonomi yang tertunda. Jika data ekonomi memburuk, maka akan ada sentimen positif jangka pendek karena meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga The Fed. Namun, jika data ekonomi memburuk, risiko juga akan meningkat, sehingga kenaikan harga Bitcoin mungkin tidak bertahan lama.

Di sisi lain, jika data ekonomi membaik, maka potensi kenaikan harga Bitcoin bisa terjadi. Namun, Chris menegaskan bahwa situasi ini masih sangat tidak pasti dan harus dipantau dengan cermat.

Mengenai prospek Bitcoin pada tahun 2026, Chris menilai bahwa pertumbuhan harga hanya akan didukung oleh minat dari investor dan institusi. Ia menyatakan bahwa tidak ada katalis tambahan lain yang dapat mendukung harga Bitcoin ke depannya.

Karena itu, Chris menyarankan investor untuk mulai mengurangi risiko atau eksposur terhadap Bitcoin. Di samping itu, ia merekomendasikan investor untuk menyimpan lebih banyak uang tunai (cash) sebagai strategi perlindungan.

Hingga akhir tahun, Chris memproyeksikan bahwa akan ada risiko koreksi yang cukup dalam. Ia memperkirakan bahwa harga Bitcoin bisa melemah hingga ke level US$ 75.000.

“Bisa mencapai US$ 75.000 lagi. Menurut saya belum ada katalis kuat pendorong kenaikan,” kata Chris.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan