
aiotrade.CO.ID – JAKARTA
Pasar kripto yang sebelumnya mencatatkan reli signifikan sepanjang tahun 2025, kini menutup tahun tersebut dengan koreksi tajam. Harga Bitcoin kini berada di kisaran US$87.436. Kondisi ini menunjukkan perubahan drastis dalam sentimen pasar, yang juga turut memengaruhi kapitalisasi pasar kripto global.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sebelumnya, kapitalisasi pasar kripto sempat mencapai rekor tertinggi sebesar US$4,28 triliun pada Oktober 2025. Namun, saat ini, angka tersebut telah terkoreksi ke sekitar US$3,0 triliun. Hal ini menandai adanya tekanan jual yang cukup besar, meskipun ada indikator yang menunjukkan potensi pemulihan menjelang 2026.
Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin, mengungkapkan bahwa meski pasar masih dibayangi ketidakpastian makroekonomi global, beberapa indikator menunjukkan adanya kemungkinan pemulihan. Menurutnya, koreksi yang terjadi merupakan bagian dari siklus pasar yang wajar dan bisa menjadi fondasi baru untuk siklus berikutnya.
Fahmi menyebutkan bahwa sejumlah lembaga keuangan global telah merilis proyeksi harga Bitcoin untuk tahun 2026. Proyeksi tersebut memiliki rentang yang cukup luas. Misalnya, J.P. Morgan memperkirakan bahwa Bitcoin berpotensi naik hingga US$170.000. Sementara itu, Fundstrat memproyeksikan harga Bitcoin berada di kisaran US$200.000 hingga US$250.000. Di sisi lain, Standard Chartered justru menurunkan estimasinya ke level US$150.000.
Menurut Fahmi, dinamika pasar Bitcoin kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada siklus empat tahunan yang berkaitan dengan peristiwa halving. Partisipasi investor institusional serta pengaruh kondisi makroekonomi global dinilai semakin dominan dalam membentuk pergerakan harga aset kripto utama tersebut.
“Koreksi 2025 ini berpotensi menyerupai pola akhir siklus seperti di 2015 dan 2018, di mana penurunan tajam diikuti oleh pemulihan yang kuat. Namun, fase pemulihannya kemungkinan akan lebih panjang, terutama jika The Fed tidak melakukan pelonggaran secara agresif,” jelas Fahmi.
Sejalan dengan pandangan tersebut, COO Upbit Indonesia, Resna Raniadi, menyampaikan bahwa pergerakan harga Bitcoin pada 2026 akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, baik dari sisi internal maupun eksternal pasar. Faktor-faktor tersebut meliputi:
- Kondisi makroekonomi global
- Arus masuk dana institusional
- Dinamika supply dan demand di pasar kripto
“Oleh karena itu, proyeksi harga perlu disikapi secara dinamis dengan mempertimbangkan berbagai hal, bukan hanya satu asumsi tunggal,” ucap Resna.
Dengan volatilitas yang masih tinggi dan beragam proyeksi dari pelaku industri, investor dinilai perlu mencermati perkembangan pasar secara menyeluruh serta menerapkan strategi manajemen risiko yang matang dalam menghadapi potensi pergerakan Bitcoin menuju 2026.