
aiotrade.app
- Harga Bitcoin kembali mencatat rekor tertinggi baru pada Minggu (5/10/2025). Aset kripto terbesar di dunia ini naik 2,7 persen ke posisi 125.245,57 dollar AS atau sekitar Rp 2,07 miliar (asumsi kurs Rp 16.583 per dollar AS) pada pukul 05.12 GMT.
Rekor Harga Bitcoin yang Terus Berlanjut
Rekor sebelumnya terjadi pada pertengahan Agustus 2025, ketika harga Bitcoin menyentuh 124.480 dollar AS atau sekitar Rp 2,06 miliar. Pada saat itu, kenaikan harga Bitcoin didorong oleh kebijakan yang lebih ramah terhadap aset kripto dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta meningkatnya permintaan dari investor institusi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pada Jumat (3/10), harga Bitcoin juga mencatat kenaikan untuk kedelapan kalinya secara beruntun. Lonjakan ini diperkuat oleh penguatan indeks saham AS dan meningkatnya arus masuk ke dana exchange-traded fund (ETF) berbasis Bitcoin.
Perkembangan ETF Berbasis Bitcoin
Menurut laporan terbaru, BlackRock’s iShares Bitcoin Trust (IBIT) mencatat pencapaian signifikan menjelang rekor baru harga Bitcoin. ETF berbasis Bitcoin tersebut baru saja menembus daftar 20 besar ETF terbesar di AS berdasarkan total aset kelolaan.
Nilainya kini lebih dari 90 miliar dollar AS atau sekitar Rp1.492 triliun. IBIT menjadi ETF yang paling cepat menembus daftar tersebut dalam sejarah pasar keuangan AS.
Dampak Kebijakan Federal Reserve
Kenaikan harga Bitcoin juga terjadi setelah bank sentral AS (Federal Reserve) memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25 persen bulan lalu. Ini merupakan penurunan pertama sejak Desember 2024. Pasar kini memperkirakan peluang 96 persen adanya pemangkasan lanjutan sebesar 0,25 persen pada Oktober dan 86 persen kemungkinan penurunan kembali pada Desember, berdasarkan data CME FedWatch Tool.
Melemahnya Nilai Dollar AS
Sementara itu, nilai dollar AS justru melemah terhadap sejumlah mata uang utama pada akhir pekan. Ketidakpastian terkait potensi penghentian operasional pemerintahan AS (government shutdown) membuat rilis data ekonomi penting, seperti laporan ketenagakerjaan, tertunda.
Prediksi Harga Bitcoin dari Analis
Analis JPMorgan memperkirakan harga Bitcoin dapat mencapai 165.000 dollar AS atau sekitar Rp2,74 miliar pada akhir 2025. Mereka menilai Bitcoin berpotensi melanjutkan kenaikan seiring tren investor yang beralih dari dollar ke aset lindung nilai seperti emas dan Bitcoin dalam strategi yang disebut “debasement trade”.
Faktor Pendukung Kenaikan Harga Bitcoin
Beberapa faktor pendukung kenaikan harga Bitcoin antara lain:
Penurunan suku bunga oleh Federal Reserve yang memberikan likuiditas tambahan bagi pasar finansial.
Kenaikan arus masuk ke ETF berbasis Bitcoin, yang menunjukkan minat tinggi dari investor institusi.
Kebijakan pemerintah AS yang semakin ramah terhadap aset kripto.
Pergerakan nilai dollar AS yang cenderung melemah terhadap mata uang utama.
Tren Investasi yang Berkembang
Tren investasi yang berkembang menunjukkan bahwa banyak investor mulai beralih dari aset tradisional ke aset digital seperti Bitcoin. Hal ini dipengaruhi oleh kebutuhan akan diversifikasi portofolio dan perlindungan terhadap inflasi.
Dengan prediksi kenaikan harga Bitcoin yang terus meningkat, prospek aset kripto ini tampaknya masih sangat menjanjikan. Namun, investor tetap perlu memantau perkembangan pasar dan risiko yang mungkin timbul.