
Harga Bitcoin Melonjak, Kenaikan Dipengaruhi oleh Berbagai Faktor
Harga Bitcoin (BTC) saat ini sedang mengalami tren pertumbuhan yang signifikan. Data dari CoinMarketCap dan TradingView menunjukkan bahwa harga aset kripto terbesar di dunia ini telah melampaui 120.000 dolar AS atau sekitar Rp 2 miliar. Lonjakan ini tidak hanya terjadi secara acak, tetapi didorong oleh beberapa faktor penting.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa kenaikan harga BTC dipengaruhi oleh volume perdagangan ETF Bitcoin spot yang mencapai 5 miliar dolar AS dalam sehari. Selain itu, arus masuk modal institusional juga menjadi salah satu pendorong utama. Dalam beberapa hari terakhir, dana institusional yang masuk ke pasar Bitcoin mencapai 676 juta dolar AS. Beberapa perusahaan besar seperti BlackRock iShares Bitcoin Trust (IBIT) dan Fidelity turut berkontribusi dalam peningkatan tersebut. IBIT diketahui menyerap dana sebesar 405 juta dolar AS, sementara Fidelity menambahkan 1.570 BTC senilai 179 juta dolar AS.
Dari segi analisis teknikal, Bitcoin kini memasuki fase price discovery, yaitu proses pencarian harga yang lebih stabil. Dengan potensi kenaikan menuju level 128.000β135.000 dolar AS atau setara Rp 2,1 miliarβRp 2,3 miliar. Namun, Antony Kusuma juga mengingatkan adanya zona support penting di level 110.000β112.000 dolar AS atau setara Rp 1,8 miliar. Zona ini bisa menjadi indikator untuk menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.
Penutupan Pemerintahan AS Mempengaruhi Pergerakan Harga
Peningkatan harga Bitcoin juga terjadi seiring dengan penutupan pemerintahan AS yang memasuki hari ketiga. Pada Jumat (3/10/2025), waktu setempat, harga Bitcoin melonjak hingga mendekati rekor tertingginya. Aset kripto pertama di dunia ini diperdagangkan naik sekitar 2 persen ke level 123.874 dolar AS. Angka ini hanya sekitar 1 persen di bawah harga tertinggi sepanjang masa, yakni sedikit di atas 124.000 dolar AS yang dicapai pada pertengahan Agustus 2025.
Penutupan pemerintahan AS ini memicu investor untuk berbondong-bondong masuk ke aset terdesentralisasi seperti Bitcoin. Hal ini terjadi setelah anggota parlemen AS gagal mencapai kesepakatan terkait pendanaan federal, sehingga memaksa pemerintah AS menutup sebagian kegiatan sejak Rabu.
Geoff Kendrick dari Standard Chartered mengatakan, Bitcoin sudah naik 12 persen hanya dalam sepekan terakhir. "Penutupan pemerintahan kali ini memang berpengaruh. Saat penutupan pemerintahan era Trump sebelumnya (22 Desember 2018 hingga 25 Januari 2019), kondisi Bitcoin berbeda sehingga dampaknya minim," ujar dia.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Harga
Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga Bitcoin antara lain:
- Volume perdagangan ETF Bitcoin β Volume perdagangan ETF Bitcoin spot mencapai 5 miliar dolar AS dalam sehari.
- Arus masuk modal institusional β Dana institusional yang masuk ke pasar Bitcoin mencapai 676 juta dolar AS.
- Kebijakan pemerintahan AS β Penutupan pemerintahan AS memicu investor untuk mencari alternatif investasi yang lebih aman, termasuk Bitcoin.
- Analisis teknikal β Bitcoin memasuki fase price discovery dengan potensi kenaikan menuju level 128.000β135.000 dolar AS.
Dengan berbagai faktor yang saling terkait, harga Bitcoin terus bergerak naik. Meski demikian, para ahli tetap memantau zona support penting untuk memastikan stabilitas pasar. Perkembangan ini menunjukkan bahwa Bitcoin masih menjadi aset yang diminati oleh banyak investor, baik individu maupun institusi.