
Peringatan Cuaca Ekstrem di Jawa Barat
Warga Jawa Barat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi akibat prakiraan cuaca ekstrem. Hujan lebat hingga sangat lebat disertai angin kencang diprediksi dapat menyebabkan banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan kerusakan lainnya.
Stasiun Geofisika BMKG Jabar telah mengeluarkan prakiraan cuaca yang berlaku mulai Minggu 9 November 2025 hingga Rabu 12 November 2025. Kepala Stasiun Geofisika BMKG Jabar Teguh Rahayu menyampaikan bahwa beberapa hari ke depan masih terdapat faktor-faktor yang signifikan mendukung pertumbuhan awan konvektif dan peningkatan potensi hujan. Sirkulasi siklonik atau pusat tekanan rendah juga diprakirakan masih berpotensi terbentuk di Samudera Hindia Barat Selat Sunda.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kondisi ini berpotensi membentuk belokan angin maupun area konvergensi di sekitar wilayah Jabar. “Labilitas atmosfer berada pada kategori labil ringan hingga kuat, mengindikasikan adanya potensi pembentukan awan konvektif pada skala lokal,” ujar Rahayu, Minggu 9 November 2025.
Rahayu menegaskan, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, bahkan sangat lebat disertai petir dan angin kencang dapat terjadi sewaktu-waktu. “Dapat terjadi pada skala lokal dan durasi singkat ada di sebagian wilayah,” katanya.
BMKG merinci sejumlah wilayah Jabar yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem. Pada Senin 10 November 2025, potensi ada di Subang, Cianjur, Kabupaten dan Kota Sukabumi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Sumedang, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Garut, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, dan Pangandaran.
Pada Selasa 11 November 2025, wilayah terdampak meliputi Kabupaten dan Kota Bogor, Depok, Purwakarta, Subang, Cianjur, Kabupaten dan Kota Sukabumi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Sumedang, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Garut, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran.
Pada Rabu 12 November 2025, wilayah terdampak meliputi Kabupaten Bogor, Cianjur, Kabupaten dan Kota Sukabumi, Kabupaten Bandung, Sumedang, kabupaten dan kota Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Garut, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran.
Rahayu mengimbau masyarakat tetap tenang tapi senantiasa waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Prediksi Curah Hujan Tinggi di Jabar
Menurut Yuni Yulianti, Pengamat Meteorologi dan Klimatologi Muda BMKG Bandung, dalam periode tiga bulan ke depan atau November-Januari 2026, curah hujan di Jabar diprediksi masuk dalam kategori tinggi hingga sangat tinggi, dengan perkiraan intensitas antara 300-500 mm per bulan.
Puncak musim hujan di Jabar bervariasi, mulai dari Desember 2025, Januari, Februari, hingga Maret 2026. Secara spesifik, untuk Bandung Raya, puncak musim hujan diprediksi terjadi Januari 2026. Namun, ada kemungkinan intensitas hujan kembali tinggi pada Maret 2026. Pola hujan di Bandung Raya cenderung menurun Februari, lalu kembali meningkat awal Maret.
Masyarakat dihimbau waspada terhadap bencana hidrologis yang diakibatkan peningkatan curah hujan ini, yaitu genangan, banjir, dan tanah longsor. Banjir diwaspadai terutama di daerah aliran sungai (DAS). Tanah longsor diwaspadai di daerah berbukit, bertopografi curam, atau bergunung. Selain itu, perlu diwaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang lebat, bahkan sangat lebat, yang dapat disertai petir, kilat, maupun angin kencang.
Yuni mengimbau masyarakat yang tinggal di dekat sungai agar memastikan sistem drainase berfungsi baik, tidak terjadi sedimentasi, dan terbebas dari sampah.
Siaga Bencana di Kota Bandung
Terpisah, Wakil Wali Kota Bandung Erwin menyatakan, Pemkot Bandung siap siaga menghadapi potensi bencana di musim hujan ini. Namun, sistem tanggap bencana yang cepat dan terkoordinasi memerlukan keterlibatan masyarakat dan berbagai pihak.
“Kami sudah punya 27 rumah pompa untuk mengatasi banjir di titik-titik rawan. Kami juga membangun 14 kolam retensi, dua sedang dikerjakan, dan dua lagi akan dibangun di 2026. Targetnya ada 30 kolam retensi di seluruh Kota Bandung,” kata Erwin, Minggu 9 November 2025.
Rumah pompa dan kolam retensi itu untuk mengantisipasi bencana banjir. Kolam retensi yang telah dibangun di antaranya Retensi Taman Lansia, Sarimas, Sirnaraga, Kandaga Puspa, Rancabolang, Cisurupan, dan Gedebage.