Inovasi Bahan Bakar Baru yang Menggegerkan Pasar
BOBIBOS, bahan bakar karya anak bangsa, baru saja diluncurkan di Bumi Sultan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penemu dari bahan bakar ini, M Iklas Thamrin, mengklaim bahwa BOBIBOS memiliki Research Octane Number (RON) 98. Dengan angka tersebut, BOBIBOS disebut sejajar dengan bahan bakar premium seperti Pertamax Turbo Niaga atau Shell V-Power Nitro.
Iklas menjelaskan bahwa BOBIBOS adalah hasil riset selama satu dekade. Produk ini diklaim memiliki emisi hampir nol dan merupakan inovasi yang sangat penting untuk pengembangan energi nasional. Pengujian internal menunjukkan bahwa RON BOBIBOS mencapai 98,1 setelah melalui uji coba di Lemigas, lembaga paling berwenang dalam hal pengujian bahan bakar di Indonesia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pengujian di Lemigas menjadi langkah penting bagi Iklas untuk memastikan kualitas BOBIBOS. Ia mengungkapkan kekagetannya ketika hasil uji menunjukkan RON 98,1. Meskipun ada data internal, Iklas ingin mendapatkan hasil pasti dari pengujian independen.
"Kita tidak pede walau ada data sendiri, kita datang ke Lemigas. Syarat kita penuhi, kasih sampel keluar uji labnya dinyatakan bensinnya (RON) 98,1. Dari situ kita terkejut," kata Iklas dalam konferensi pers.
Iklas juga menjelaskan bahwa sebelum pengujian di Lemigas, BOBIBOS telah melewati uji fungsi internal. Pengujian ini dilakukan secara bertahap, mulai dari mesin genset, sepeda motor, mobil hingga bus. Proses ini dilakukan dengan hati-hati dan berlangsung selama beberapa tahun.
Pemilihan Bahan Baku yang Tepat
Iklas menjelaskan bahwa pemilihan bahan baku didasarkan pada riset panjang. Tujuannya adalah untuk memperoleh bahan baku yang melimpah, mudah diperoleh, dan tidak membuat harga pokok produksi (HPP) melambung. Salah satu bahan baku utama yang digunakan adalah jerami.
"Bagaimana bahan baku ini kita cari yang melimpah, kita nggak perlu suruh masyarakat untuk tanam. Basisnya sawah itu hasilkan padi, jerami, nah itu yang kita manfaatkan," ujar Iklas.
Iklas yakin bahwa penggunaan jerami sebagai bahan baku adalah keputusan yang tepat. Hal ini karena jerami tidak membuat HPP membengkak, sehingga nantinya harga jual BOBIBOS bisa lebih murah dibandingkan bahan bakar lain.
"Poinnya kenapa jerami? Dari riset kami jerami yang buat HPP bisa bersaing," ujar Iklas.
Proses Produksi yang Rahasia
Proses produksi BOBIBOS melibatkan ekstraksi jerami menggunakan biochemistry dan mesin yang dirancang khusus. Tahapan proses ini terdiri dari lima tahap, yang akhirnya menghasilkan bahan bakar nabati berkualitas tinggi.
"Jerami dikelola untuk ekstraksi dengan bio chemistry, ekstrak tanaman. Gunakan mesin yang kita rancang yang memang dari nol dirancang. Tahapannya 5 tahap. Akhirnya outputnya bahan bakar nabati berkinerja tinggi," ujar Iklas.
Meski sempat mencoba bahan baku lain, Iklas menyatakan bahwa tidak ada tanaman yang bisa menyesuaikan dengan target HPP rendah seperti jerami. Contohnya, mikro alga pernah dicoba, tetapi tidak sesuai dengan harapan.
Kesiapan Produk untuk Pasar
Meskipun BOBIBOS belum sepenuhnya resmi diterima oleh pemerintah, Iklas dan timnya yakin bahwa produk ini akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Pihak BOBIBOS berkomitmen untuk menjaga harga yang lebih murah dibandingkan bahan bakar lain yang sudah beredar.
"Soal harga kami patuh pemerintah, intinya kami ingin kurangi beban masyarakat. Kami minta harga lebih murah. Nilainya silakan pemerintah tentukan," ujar Mulyadi, Pembina BOBIBOS sekaligus Anggota DPR RI.
Persyaratan Pengujian dan Sertifikasi
Kementerian ESDM menegaskan bahwa setiap inovasi bahan bakar baru harus menjalani serangkaian uji teknis dan evaluasi selama sedikitnya delapan bulan sebelum dinyatakan layak digunakan. Uji coba mencakup uji oksidasi, uji mesin, dan evaluasi untuk memastikan produk memenuhi standar mutu nasional.
Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa hasil pengujian di Laboratorium Lemigas masih belum dapat dipublikasikan karena adanya perjanjian tertutup antara lembaga penguji dan pengembang. Menurut dia, laporan uji hanya bersifat teknis dan tidak dapat disimpulkan sebagai bentuk sertifikasi resmi.
Laode menambahkan bahwa proses pengesahan BBM dapat dilakukan melalui kerja sama antara badan usaha dan Kementerian ESDM agar seluruh mekanisme pengujian berjalan sesuai prosedur. Pemerintah membuka ruang inovasi energi dalam negeri, namun setiap produk wajib mengikuti jalur legal dan pengujian berstandar nasional.