
Inovasi Energi Alternatif yang Menarik Perhatian Masyarakat
Beberapa waktu terakhir, muncul sebuah inovasi energi alternatif yang menarik perhatian publik. Inovasi ini diberi nama Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos! atau Bobibos. Dalam wawancara dengan aiotrade, penemu Bobibos, M Ikhlas Thamrin, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari riset selama satu dekade bersama timnya. Setelah melalui berbagai tahap pengembangan, Bobibos akhirnya diluncurkan di Bumi Sultan Jonggol, Kabupaten Bogor, pada hari Ahad (2/11/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Bobibos disebut berasal dari tanaman yang mudah tumbuh di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di lahan persawahan. Konsep ini tidak hanya fokus pada ketahanan energi, tetapi juga mendukung ketahanan pangan nasional. Hal ini menjadi salah satu keunggulan utama dari Bobibos.
Menurut Ikhlas, hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa Bobibos memiliki RON (Research Octane Number) mendekati 98. Performa yang ditawarkan oleh Bobibos dinilai lebih baik dibandingkan bahan bakar solar konvensional dalam hal jarak tempuh. Ikhlas menyatakan siap membuktikan kebenaran klaim tersebut kepada semua pihak yang meragukan Bobibos.
Ikhlas mengklaim bahwa ia telah mengantongi data hasil laboratorium dari Lemigas serta hasil uji fungsi dari berbagai kendaraan seperti sepeda motor, mobil, hingga genset. Selain itu, ada data komparasi full spec dengan bahan bakar lain yang sudah beredar. Dari keseluruhan data tersebut, Ikhlas sangat yakin dan optimis bahwa Bobibos bisa menjadi alternatif energi baru terbarukan.
Ikhlas optimistis bahwa Bobibos dapat digunakan sebagai bahan bakar di Indonesia. Ia menegaskan bahwa Bobibos memiliki kualitas yang baik, harga ekonomis, rendah emisi, dan aman bagi kendaraan. Dengan kombinasi fitur-fitur tersebut, Ikhlas percaya bahwa Bobibos bisa bersaing di pasar.
Komunikasi dengan pemerintah, termasuk Kementerian ESDM, juga terus dilakukan oleh para inisiator Bobibos. Tujuannya adalah untuk mendapatkan perizinan terhadap Bobibos dan produknya. Ikhlas menyatakan bahwa pihaknya ingin segera legal agar bisa menjadi solusi bahan bakar alternatif sebagai energi merah putih yang berkualitas dan ekonomis.
Selain itu, Ikhlas menjelaskan bahwa penelitian mengenai penggunaan Bobibos sebagai bahan bakar sudah menyeluruh. Pengembangan Bobibos melalui tiga tahap. Pertama, penelitian teknologi Bobibos yang mencakup pemilihan tanaman bahan baku, proses produksi, pembuatan mesin produksi, hingga tes uji fungsi pada kendaraan roda dua beragam merek, mobil, hingga genset.
Tahap kedua adalah penelitian aspek komersialisasi. Dengan visi ekonomis, Bobibos berupaya menghadirkan empat kriteria aspek komersial yakni kualitas bagus, emisi rendah, aman bagi mesin, dan bisa produksi jangka panjang. Ikhlas menyatakan bahwa Bobibos sudah memenuhi empat syarat komersial ini.
Tahap ketiga adalah penerimaan secara politik. Ikhlas melakukan riset terhadap regulasi dan bagaimana membuka komunikasi dengan segenap stakeholder regulator. Kedepannya, Bobibos berencana memiliki SPBU dan BosMini (pom bensin ukuran mini). Targetnya adalah Bobibos menjadi energi rakyat, sehingga harus ada di seluruh pelosok negeri dengan satu harga yang terjangkau tetapi kualitas baik, emisi rendah, sehingga Indonesia memiliki kualitas udara yang lebih baik dengan hadirnya Bobibos.
Sementara itu, Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (PUSKEP UI) menyoroti klaim kadar RON 98 pada produk Bobibos. Direktur Eksekutif PUSKEP UI Ali Ahmudi menyatakan bahwa bahan baku nabati memang dapat diolah menjadi BBM karena kandungan hidrokarbon dalam biomaterial seperti tanaman dapat dikonversi menjadi energi. Namun, dia menilai klaim Bobibos memiliki kadar RON setara 98 perlu dibuktikan secara empiris melalui uji resmi oleh lembaga pemerintah. Hal ini mengingat kadar RON 98 umumnya hanya dihasilkan melalui proses panjang di kilang minyak dengan tambahan berbagai zat aditif.
Ali menyebut pengembangan bahan bakar nonfosil seperti bioetanol memiliki prospek besar bagi ketahanan energi nasional. Inovasi energi terbarukan dari sumber nabati dapat menjadi langkah penting menuju kemandirian energi, sejalan dengan tren global menuju penggunaan bahan bakar ramah lingkungan.