Bobibos ubah sawah jadi sumber energi, petani sejahtera

admin.aiotrade 15 Des 2025 3 menit 15x dilihat
Bobibos ubah sawah jadi sumber energi, petani sejahtera
Bobibos ubah sawah jadi sumber energi, petani sejahtera

Inovasi Bobibos: Bahan Bakar Alternatif dari Jerami

Bobibos, atau Bahan Bakar Original Buatan Indonesia (Bos!), merupakan inovasi terbaru yang menarik perhatian publik sejak diluncurkan bulan November lalu di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Produk ini mengubah jerami, yang selama ini dianggap sebagai limbah pascapanen dan bahkan dibakar di sawah, menjadi sumber energi baru yang berpotensi memberikan dampak positif.

Inisiator Gree Merah Putih Fauzan Rachmansyah menyampaikan bahwa upaya masyarakat Indonesia dalam menciptakan energi terbarukan adalah langkah yang sangat baik. Ia menilai inovasi Bobibos memiliki potensi besar untuk mengubah cara masyarakat memandang jerami sebagai limbah.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

"Jerami bisa menjadi energi terbarukan itu memberikan dampak yang sangat positif," ujar Fauzan kepada wartawan, Senin (15/12/2025). Dengan kehadiran Bobibos, masyarakat akan semakin antusias menanam padi karena hasilnya tidak hanya berupa beras, tetapi juga jerami yang sebelumnya sulit dikelola.

"Padinya jadi beras dan dijual dan jeraminya yang selama ini para petani bingung mau diapakan bisa menjadi sesuatu nilai tinggi," tambahnya. Namun, ia juga menyebut bahwa ada petani yang memanfaatkan jerami sebagai pakan sapi. Dengan pengelolaan yang tepat, pendekatan ini berpotensi mengurangi pencemaran udara, meningkatkan nilai ekonomi limbah pertanian, serta membuka lapangan kerja di desa.

Dari sisi kebijakan, Fauzan menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto cukup memberikan perhatian terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. Arah kebijakan yang menempatkan sustainability sebagai agenda penting membuka ruang bagi riset dan inovasi energi alternatif.

“Semakin banyak pihak yang melakukan riset dan mencari solusi, semakin besar peluang Indonesia menemukan jalan keluar dari persoalan energi dan lingkungan,” ungkapnya.

Pandangan Pengamat Otomotif

Senada dengan Fauzan, Pengamat otomotif Bebin Juana menilai transisi energi merupakan keharusan strategis. Namun, keberhasilan energi alternatif tidak dapat ditentukan oleh popularitas atau uji coba semata, melainkan oleh kesiapan skala ekonomi, pasokan bahan baku, dan kemampuan memenuhi kebutuhan nasional.

"Minyak bumi pasti akan habis. Tapi mencari penggantinya tidak bisa sekadar berdasarkan tren. Energi alternatif harus layak secara ekonomi, bisa diproduksi massal, dan tidak membebani konsumen," ujar Bebin.

Bebin mencontohkan, Brazil berhasil menggunakan energi terbarukan karena mereka surplus tebu dan didukung kebijakan negara yang konsisten. Dia menilai Bobibos yang berbasis jerami memiliki potensi ke arah sana. "Secara konsep, ada potensi karena jerami adalah limbah. Tapi kita belum tahu apakah jumlahnya cukup untuk kebutuhan nasional dan apakah pasokannya stabil. Yang penting itu kualitas dan volumenya harus konsisten," tuturnya.

Potensi dan Tantangan Bobibos

Menurut Bebin, jerami adalah residu pertanian yang selama ini tidak memiliki nilai ekonomi tinggi. Jika bisa diolah menjadi bahan bakar, jerami dapat mengurangi biaya bahan baku sekaligus memberi nilai tambah pada sektor pertanian. "Di Indonesia ada sekitar 11 juta hektare sawah dan tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tentu ini lebih mudah didapat daripada aren atau sawit," imbuhnya.

Selain itu, Bebin menilai bahan bakar berbasis aren memiliki keterbatasan dari sisi volume dan kesinambungan pasokan. Kebutuhan energi nasional, kata dia, tidak hanya untuk kendaraan darat, tetapi juga sektor perikanan, logistik, dan industri. "Berapa banyak aren di Indonesia? Kebutuhan bahan bakar itu besar sekali, bukan hanya untuk kendaraan darat, tapi juga kapal nelayan."

Masyarakat di media sosial membandingkan dua hal ini secara sederhana, padahal kasusnya tidak sesederhana itu. Untuk biodiesel, Bebin mengakui Indonesia surplus minyak sawit sehingga logis untuk dibuat. Tetapi nyatanya harus berhati-hati karena tidak ada merek mobil yang siap menerima B35. "Ketika persentasenya dinaikkan terlalu tinggi, itu berbahaya. Tidak ada merek mobil yang siap menerima B35. Harus berhati-hati agar konsumen tidak rugi. Selain itu ada unsur politis dalam urusan kilang minyak dan kualitas BBM kita yang tertinggal dibanding negara lain," tandasnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan