BPH Migas usulkan SPBG jadi Stasiun CNG

BPH Migas usulkan SPBG jadi Stasiun CNG

Percepatan Regulasi untuk Pengembangan Infrastruktur Gas Bumi

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) sedang mempercepat regulasi terkait Stasiun Induk Compressed Natural Gas (CNG) dan Terminal Mini-Liquefied Natural Gas (LNG). Langkah ini diambil guna mempercepat masuknya investasi sektor gas bumi. Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, menyatakan bahwa langkah tersebut diperlukan untuk mendukung target pengembangan jaringan gas rumah tangga, khususnya di wilayah Indonesia Timur yang memiliki tantangan geografis.

Selain regulasi, skema pembiayaan melalui Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dinilai penting untuk mempercepat pembangunan infrastruktur gas bumi. Dalam keterangan tertulis, ia menjelaskan bahwa untuk memperluas jangkauan jargas menggunakan CNG, dapat dilakukan melalui konversi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) menjadi Stasiun Induk (Mother Station). Sedangkan untuk penyaluran jargas non-pipa dapat menggunakan mini-LNG.

Dukung Alternatif Energi Selain LPG


BPH Migas juga mendorong optimalisasi pemanfaatan CNG dan percepatan pengembangan mini-LNG sebagai alternatif energi rumah tangga. Fathul mengatakan, pengembangan stasiun induk CNG dan infrastruktur mini-LNG dapat membuka pilihan energi bagi masyarakat selain LPG. Menurut dia, pemanfaatan CNG dan LNG juga dinilai dapat meningkatkan efektivitas distribusi gas sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih aman, bersih, dan efisien.

Jadi, tidak terbatas LPG saja, tetapi ada pilihan menggunakan CNG dan LNG. Pilihan energi ini juga dapat meningkatkan efektivitas penyaluran gas dan mendukung target Pemerintah dalam konversi energi ke energi yang lebih aman, bersih dan efisien, paparnya.

Impor LPG Disebut Capai 81 Persen


Fathul menuturkan, kebutuhan energi rumah tangga saat ini masih didominasi LPG bersubsidi. Kondisi itu dinilai membebani fiskal negara sekaligus meningkatkan ketergantungan impor. Dia menyebut impor LPG Indonesia saat ini telah mencapai 81 persen dari total kebutuhan masyarakat.

Menurut dia, pengembangan CNG dan LNG untuk rumah tangga juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong swasembada energi nasional. Selain itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menyampaikan bahwa CNG merupakan gas yang berbeda dengan LPG, namun memiliki fungsi serupa sebagai sumber energi. Adapun, pemanfaatan CNG saat ini sudah mulai digunakan di sektor komersial seperti hotel dan restoran, katanya.

Kolaborasi Dinilai Penting


Fathul menilai kolaborasi antara regulator dan pelaku industri menjadi faktor penting untuk mempercepat pemanfaatan gas bumi nasional. Kerja sama tersebut diperlukan agar potensi gas alam domestik dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung kemandirian energi nasional.

Sehingga potensi gas alam yang melimpah dapat segera dirasakan manfaatnya demi mewujudkan kemandirian energi nasional, ujarnya.

Potensi Hemat Devisa

Indonesia memiliki potensi besar dalam menghemat devisa jika beralih dari LPG ke CNG. Dengan penggunaan CNG, negara bisa menghemat hingga Rp137 triliun. Hal ini disebabkan oleh pengurangan ketergantungan pada impor LPG yang saat ini mencapai 81 persen.

Harga CNG Lebih Murah

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan bahwa harga CNG sebagai pengganti LPG akan lebih murah sebesar 30 persen. Ini menjadi salah satu alasan utama untuk mendorong penggunaan CNG sebagai alternatif energi.

Uji Coba Tabung CNG 3 Kg

Bahlil juga menargetkan uji coba tabung CNG 3 kg selesai dalam waktu tiga bulan. Target ini bertujuan untuk mempercepat adopsi CNG di kalangan masyarakat rumah tangga. Dengan demikian, masyarakat akan memiliki pilihan energi yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.