BPS Alokasikan Rp1,3 Triliun untuk Sensus Ekonomi, Sasar 30 Juta Usaha

Anggaran dan Persiapan Sensus Ekonomi 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) telah menyiapkan anggaran sebesar Rp1,3 triliun untuk pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Proses ini akan dimulai pada tahun ini dan menjadi salah satu agenda penting dalam pengumpulan data ekonomi nasional. Dalam sensus kali ini, BPS juga akan memasukkan aktivitas ekonomi digital seperti YouTuber, influencer, hingga perdagangan online yang sebelumnya belum sepenuhnya terdata.

Sekretaris Utama BPS, Zulkipli, menyatakan bahwa pihaknya resmi memulai kick off pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Ia berharap seluruh masyarakat, khususnya pelaku usaha yang akan menjadi responden, mengetahui dimulainya tahapan sensus tersebut. Dalam acara peluncuran kick off Sensus Ekonomi 2026, Rabu (25/2), ia mengatakan:

“Kami akan memulai kick off pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 dan harapannya mulai hari ini seluruh kegiatan Sensus Ekonomi 2026 diketahui oleh seluruh masyarakat terutama para pelaku usaha.”

Pendanaan dan Kepatuhan pada Amanat Undang-Undang

Terkait anggaran, Zulkipli menyebut dukungan pendanaan masih dalam kondisi baik meskipun terdapat isu efisiensi belanja negara. Ia menegaskan bahwa sensus tetap harus dilaksanakan karena merupakan amanat undang-undang. Total anggaran yang dialokasikan diperkirakan sekitar Rp1,3 triliun untuk keseluruhan tahapan sensus.

Dalam pelaksanaannya, BPS akan merekrut petugas dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, masyarakat umum, hingga pegawai organik BPS di seluruh Indonesia. Mahasiswa statistik disebut akan dilibatkan secara aktif, termasuk mitra-mitra BPS yang selama ini bekerja sama dalam kegiatan pendataan.

Sasaran Lebih dari 30 Juta Usaha Termasuk YouTuber

BPS memperkirakan jumlah badan usaha yang akan menjadi target sensus mencapai lebih dari 30 juta unit berdasarkan data statistik business register saat ini. Jumlah tersebut mencakup usaha mikro, kecil, hingga perusahaan besar. Melalui sensus ini, BPS akan mengumpulkan data karakteristik perusahaan, profil usaha, perkembangan bisnis, omzet, hingga margin usaha. Selain itu, akan ditanyakan pula aspek penggunaan ekonomi hijau dalam aktivitas bisnis.

Zulkipli menegaskan salah satu pembaruan penting dalam Sensus Ekonomi 2026 adalah pendataan aktivitas ekonomi berbasis digital. Perdagangan online, industri kreator konten seperti YouTuber dan influencer, serta berbagai aktivitas ekonomi berbasis rumah tangga yang terhubung secara digital akan mulai dicatat secara lebih sistematis.

“Perdagangan online itu banyak yang tidak terlacak. Industri digital, YouTuber, di rumah-rumah banyak aktivitas yang terhubung dengan ekonomi. Di tahun 2016 lalu itu hampir tidak ada,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan struktur ekonomi pasca pandemi Covid-19 membuat pembaruan pendataan menjadi krusial.

Momentum Pelaksanaan Sensus Ekonomi Berikutnya

Sebagai informasi, BPS melaksanakan tiga sensus besar dalam satu dekade, yakni Sensus Penduduk pada tahun berakhiran 0, Sensus Pertanian pada tahun berakhiran 3, dan Sensus Ekonomi pada tahun berakhiran 6. Tahun 2026 menjadi momentum pelaksanaan Sensus Ekonomi berikutnya untuk memotret kondisi terbaru dunia usaha di Indonesia.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan