
Pergerakan Saham BREN yang Menurun Meski Ada Sentimen Positif
Harga saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang dimiliki oleh Prajogo Pangestu, mengalami penurunan pada perdagangan kemarin, Kamis, 23 Oktober 2025. Meskipun sebelumnya BREN telah merilis informasi positif terkait ekspansi bisnis panas bumi di Maluku Utara, harga saham ini harus ditutup di zona merah.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BREN ditutup turun 75 poin atau -0,82% ke level Rp 9.025 per lembar. Selama sesi perdagangan, saham ini bergerak secara volatil dengan rentang harga antara Rp 8.850 (terendah) hingga Rp 9.175 (tertinggi).
Penurunan ini disebabkan oleh tekanan jual yang kuat dari investor asing. Data transaksi BEI menunjukkan bahwa investor asing melakukan penjualan masif (gross sell) sebanyak 7,23 juta lembar saham, sementara aksi beli (gross buy) hanya mencapai 3,19 juta lembar. Hal ini menyebabkan terjadinya penjualan bersih (Net Sell) oleh investor asing sebesar 4,04 juta lembar saham dalam satu hari perdagangan.
Ekspansi Bisnis Panas Bumi di Maluku Utara
Pelemahan saham BREN ini terbilang aneh, mengingat perseroan baru saja mengumumkan rencana ekspansi strategis pada Senin, 20 Oktober 2025. Melalui siaran pers resmi, BREN menyatakan bahwa anak usahanya, PT Star Energy Geothermal Indonesia (SEGI), telah memulai pengeboran sumur eksplorasi pertama di wilayah Hamiding, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.
Proyek ini merupakan bagian dari Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) yang diberikan Kementerian ESDM sejak 2018. Proyek Hamiding diproyeksikan memiliki potensi sumber daya panas bumi yang besar, yaitu sekitar 275–550 MW. Pengeboran sumur pertama ini menjadi langkah awal untuk membuktikan adanya reservoir yang dapat dikembangkan menjadi pembangkit listrik.
CEO Barito Renewables, Hendra Soetjipto Tan, menjelaskan bahwa rencana tahap awal pengembangan di Hamiding akan mencapai 50 MW dari target total 300 MW kapasitas terpasang. "Kegiatan tajak sumur ini merupakan bagian dari perjalanan untuk menghadirkan energi bersih bagi Indonesia. Selama ini ketiga lapangan panas bumi yang kami operasikan di Salak, Darajat, dan Wayang Windu telah berkontribusi menerangi jutaan rumah," ujar Hendra dalam keterangan resmi (20/10).
Pasar Mengabaikan Sentimen Jangka Panjang
Namun, sentimen fundamental jangka panjang yang positif ini tampaknya diabaikan oleh pasar dalam jangka pendek. Hal ini terbukti dari tekanan jual asing yang menekan harga BREN kemarin. Meskipun ada harapan tinggi terhadap proyek Hamiding, investor tampaknya lebih fokus pada fluktuasi pasar dan kekhawatiran jangka pendek.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Meskipun saat ini saham BREN mengalami penurunan, proyek Hamiding tetap menawarkan peluang besar bagi perusahaan. Dengan potensi sumber daya yang sangat besar, proyek ini bisa menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang signifikan bagi Indonesia. Namun, untuk memperkuat posisi BREN di pasar modal, perusahaan perlu membangun kepercayaan investor melalui konsistensi dalam kinerja dan komunikasi yang transparan.
Selain itu, BREN juga perlu memperhatikan dinamika pasar dan mengelola harapan investor agar tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi jangka pendek. Dengan strategi yang tepat dan komitmen terhadap pengembangan energi terbarukan, BREN memiliki potensi untuk menjadi pemain utama dalam industri energi Indonesia.