
Rebranding Logo BRI: Transformasi Menuju Bank Universal yang Lebih Modern
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melakukan rebranding logo pada peringatan hari ulang tahun ke-130. Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa rebranding ini dilakukan agar perseroan tetap relevan dengan perkembangan zaman dan mampu bertransformasi menjadi bank universal yang lebih modern.
Logo baru BRI menampilkan nuansa yang lebih modern. Tulisan “BRI” menggunakan warna biru yang lebih cerah dibandingkan logo sebelumnya yang berwarna biru gelap. Di bagian bawah logo juga disematkan kembali tagline “Bank Rakyat Indonesia”.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam acara Launching BRI Corporate Rebranding di Menara BRILiaN, Selasa (16/12), Hery menjelaskan bahwa BRI akan melakukan transformasi dari sisi bisnis, sumber daya manusia, hingga budaya perusahaan. Tujuan utamanya adalah untuk melanjutkan perjalanan yang progresif dan memperkuat posisi sebagai bank universal.
Tiga Warna Korporasi Baru
Dalam rebranding ini, perseroan menetapkan tiga warna korporasi utama, yaitu Nusantara Blue, Mentari Blue, dan Cakrawala Blue. Ketiga warna tersebut akan digunakan sesuai dengan medium dan latar yang digunakan BRI, menggantikan corporate color yang sebelumnya, yaitu biru dan oranye.
Hery menjelaskan bahwa terdapat tujuh insight utama berdasarkan riset yang dilakukan oleh Kantar, Kadence, dan Nielsen yang melatarbelakangi rebranding ini:
- Pertama, BRI dinilai sebagai bank yang tepercaya dan mudah diakses, namun masih terlalu bergantung pada citra “merakyat”.
- Kedua, muncul persepsi sebagai bank “tua” di kalangan masyarakat urban dan generasi muda.
- Ketiga, layanan digital yang ada belum dianggap aspiratif.
- Keempat, koneksi emosional antara brand dan nasabah masih lemah.
- Kelima, identitas merek belum sepenuhnya selaras dengan ekspektasi Gen Z.
- Keenam, terdapat ketidaksinkronan sistemik dalam pengelolaan brand.
- Ketujuh, less considered di segmen urban masih rendah, terutama untuk bisnis konsumer kecil dan menengah.
Perubahan Mendasar dalam Pola Pikir
Melalui rebranding ini, perseroan ingin mengubah persepsi publik bahwa BRI bukan hanya bank untuk masyarakat kecil atau segmen yang kurang terlayani, melainkan bank universal yang melayani seluruh segmen. Dalam transformasi tersebut, perusahaan tetap memegang lima nilai utama, yakni integritas, kolaborasi, kapabilitas, growth mindset, dan fokus pada pelanggan.
Di sisi bisnis, perseroan juga terus memperkuat struktur pendanaan serta funding franchise, dengan kredit tetap menjadi bisnis inti, khususnya di segmen mikro.
Penekanan pada Perubahan Pola Pikir
Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), Dony Oskaria, menegaskan bahwa perubahan ini tidak sekadar soal logo atau tampilan visual. Ia menyatakan bahwa ini bukan hanya perubahan logo, tetapi perubahan pola pikir, perilaku, dan cara mengelola perusahaan.
“Tidak boleh ada sekat antara manajemen dan pekerja. Semua harus menyatu sebagai satu keluarga besar dengan tujuan yang sama,” ujar Dony.
Ia berharap momentum rebranding ini menjadi perubahan yang substantif dan menyeluruh dalam seluruh aspek pengelolaan perusahaan. Dengan langkah-langkah ini, BRI berkomitmen untuk terus berkembang dan memberikan layanan terbaik bagi seluruh nasabahnya.