BRI Cabang Maumere Berikan Pendampingan dan Pembinaan kepada Nasabah Mikro
BRI Cabang Maumere tidak hanya fokus pada penyaluran pinjaman melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), tetapi juga aktif dalam memberikan pendampingan dan pembinaan kepada para nasabah mikro agar usaha mereka dapat berkembang secara berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan memperhatikan pengelolaan keuangan dan pemanfaatan layanan digital yang tersedia.
Kepala Kantor BRI Cabang Maumere, I Nyoman Slamet Destrawan menjelaskan bahwa selain menyalurkan dana, BRI juga melakukan pembinaan intensif kepada debitur, khususnya pelaku usaha kecil. Pendampingan tersebut dilakukan oleh mantri-mantri BRI yang bertugas untuk memantau aktivitas usaha nasabah, memberikan edukasi mengenai pengelolaan keuangan, serta mengajarkan penggunaan layanan digital seperti agen BRILink.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Mantri-mantri kami memiliki peran penting. Kami bukan hanya menyalurkan kredit, tetapi juga mendampingi dan mengedukasi nasabah agar pengelolaan keuangannya tertib dan pembayarannya lancar,” ujar Nyoman di Maumere, Jumat, 24 Oktober 2025.
Ia juga menegaskan bahwa proses pengajuan kredit di BRI sebenarnya tidak sulit seperti yang sering disalahpahami masyarakat. Menurutnya, semua proses penyaluran kredit diatur dengan sistem yang terhubung langsung dengan Bank Indonesia (BI) melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

“Semua pengajuan bergantung pada hasil pemeriksaan SLIK. Jika informasi keuangan nasabah bermasalah, tentu tidak bisa kami layani,” jelas Nyoman Destrawan.
Hingga Oktober 2025, BRI Cabang Maumere telah menyalurkan sebanyak Rp259 miliar untuk pinjaman KUR di wilayah Kabupaten Sikka. Namun, penyaluran KUR diperkirakan akan segera ditutup karena kuota hampir terpenuhi.
“Untuk KUR ritel dengan plafon Rp100 juta hingga Rp500 juta sudah kami tutup karena kuota terpenuhi,” katanya.
Nyoman Destrawan menambahkan bahwa penyaluran KUR difokuskan bagi pelaku usaha yang sudah berjalan dan menunjukkan perkembangan positif, bukan untuk usaha yang baru dirintis. “Jika ada usaha yang sudah berjalan dan layak, pasti kami layani,” ujarnya.
Terkait kendala yang sering dialami, Nyoman mengungkapkan bahwa permasalahan SLIK menjadi faktor utama yang sering menghambat proses persetujuan kredit. Banyak calon nasabah gagal memperoleh KUR karena memiliki tunggakan di koperasi atau lembaga keuangan lain.
“Sekarang KUR sampai Rp100 juta bisa tanpa jaminan, tapi kami tetap selektif. Biasanya kami mulai dari Rp25 juta, lalu naik bertahap. Jika di SLIK-nya ada tunggakan, otomatis tidak bisa kami proses,” jelasnya.
Nyoman menegaskan bahwa BRI tidak pernah menolak pengajuan kredit tanpa alasan yang jelas atau dengan sentimen pribadi. Semua keputusan didasarkan pada kelayakan usaha dan riwayat kredit calon debitur.
“Jika usaha layak dan rekam jejak keuangannya bersih, pasti kami bantu. Jadi jika ada yang bilang susah dapat KUR, sebenarnya tidak. Hanya saja masyarakat perlu memahami bahwa tunggakan di tempat lain bisa memengaruhi penilaian,” katanya.

Ia pun mengimbau masyarakat Kabupaten Sikka untuk terus mengembangkan usahanya dengan menjaga kedisiplinan pembayaran.
“Ayo terus berkembang. Jika butuh bantuan modal usaha datang ke BRI, pasti kita layani. Tapi ingat, jangan sampai telat dalam pembayaran dan jaga semua pembayaran di bank, koperasi dan lain sebagainya berjalan lancar,” pesan Nyoman.