
Sosok Budiyono: Intelektual Organik yang Berjuang untuk Keadilan
Dalam dunia akademik modern, di mana banyak intelektual terjebak dalam rutinitas menulis jurnal dan mengejar gelar semata, muncul sosok yang menolak menjadi bagian dari arus besar pragmatisme ilmu pengetahuan. Ia memilih jalan berbeda—jalan yang memadukan nalar dan nurani, teori dan aksi, ruang kuliah dan jalanan perjuangan. Sosok itu adalah Budiyono, dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung, yang kini dikenal luas sebagai simbol “intelektual organik”—seorang pemikir yang lahir dari rahim rakyat dan terus berpihak pada kepentingan rakyat.
Dalam pandangan filsuf Italia Antonio Gramsci, setiap perjuangan sosial membutuhkan intelektualnya sendiri. Ada intelektual tradisional yang hidup di menara gading, memandang dunia dari kejauhan, dan ada intelektual organik yang tumbuh bersama rakyat, memahami penderitaan mereka, serta berjuang untuk mengubahnya. Budiyono adalah representasi nyata dari kategori kedua itu. Ia bukan sekadar akademisi yang menulis teori hukum di atas kertas, tetapi seorang penggerak yang menghidupkan teori itu dalam tindakan nyata.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Ruang Pembebasan dan Pembentukan Kesadaran Kritis
Kelas yang ia ajar di Fakultas Hukum bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan, tetapi menjadi ruang pembebasan dan pembentukan kesadaran kritis. Ia mengajak mahasiswa untuk membaca hukum tidak hanya sebagai kumpulan pasal dan aturan, tetapi sebagai cermin pertarungan antara kekuasaan dan keadilan. Baginya, hukum adalah medan politik yang menentukan siapa yang diuntungkan dan siapa yang dikorbankan. Melalui gaya mengajarnya yang reflektif dan kontekstual, Budiyono menanamkan kesadaran bahwa memahami hukum berarti memahami relasi kekuasaan di baliknya.
Di Luar Kampus, Budiyono Hadir di Tengah Masyarakat
Namun, keistimewaan Budiyono tidak berhenti di ruang kuliah. Di luar kampus, ia hadir di tengah-tengah masyarakat yang tertindas. Ia mendampingi warga yang menghadapi penggusuran lahan, memperjuangkan hak-hak buruh yang terabaikan, hingga ikut dalam gerakan mahasiswa menolak kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Dalam setiap langkahnya, Budiyono tidak tampil sebagai “pengamat netral”, melainkan bagian dari perjuangan itu sendiri. Ia memahami bahwa netralitas intelektual hanyalah ilusi—karena setiap pengetahuan, pada hakikatnya, berpihak.
Sikap ini menjadikannya sosok yang dihormati sekaligus dikagumi, tidak hanya di kalangan akademisi, tetapi juga di kalangan aktivis sosial dan mahasiswa. Banyak yang menyebutnya sebagai “guru rakyat”, karena keberadaannya menjembatani dunia kampus dan dunia perjuangan. Ia membumikan ilmu, mengubah teori menjadi alat emansipasi, bukan alat dominasi. Dalam diskursus akademik, ini dikenal sebagai praktik counter-hegemonic, yaitu upaya melawan hegemoni kekuasaan dengan senjata pengetahuan.
Menolak Komersialisasi Pendidikan Tinggi
Budiyono juga dikenal sebagai sosok yang menolak komersialisasi pendidikan tinggi. Ia sering mengkritik keras sistem pendidikan yang berubah menjadi pasar, di mana universitas berperan seperti korporasi dan mahasiswa hanya dianggap konsumen. Baginya, universitas seharusnya menjadi ruang publik kritis, tempat di mana mahasiswa belajar berpikir bebas dan berani menggugat ketidakadilan. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Paulo Freire, yang menyebut pendidikan sebagai praksis pembebasan—proses untuk membaca dunia dan mengubahnya.
Pendidikan Hukum yang Berpihak pada Kehidupan
Dalam berbagai diskusi akademik, Budiyono selalu menegaskan bahwa pendidikan hukum tidak boleh steril dari realitas sosial. Ia percaya bahwa hukum yang sejati adalah hukum yang berpihak pada kehidupan, bukan sekadar melayani kepentingan elite. Karena itu, ia menolak menjadikan hukum sebagai instrumen kekuasaan, melainkan mengajarkannya sebagai alat untuk memperjuangkan keadilan sosial.
Di balik ketegasannya, Budiyono tetap dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Ia tidak mencari popularitas, tidak mengejar penghargaan, dan tidak berambisi menjadi selebritas akademik. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan kekuatan moral dan keberanian intelektual yang jarang ditemui di dunia akademik masa kini. Ia tidak mengukur keberhasilannya dari seberapa banyak publikasi yang dimuat di jurnal internasional, tetapi dari seberapa besar ilmu dan keberpihakannya memberi manfaat bagi masyarakat.
Sebuah Perjalanan Panjang dan Harapan Baru
Pada usia 51 tahun, Budiyono telah menempuh perjalanan panjang sebagai dosen, aktivis, dan pembela rakyat. Ia menjadi teladan bagi mahasiswa dan rekan sejawat bahwa menjadi intelektual sejati bukanlah tentang prestise, melainkan tentang keberanian untuk berpihak dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Sosok seperti Budiyono membuktikan bahwa kampus bukanlah tempat yang harus terpisah dari realitas sosial, melainkan laboratorium kehidupan di mana teori diuji melalui pengalaman rakyat. Di tengah krisis moral dan intelektual yang melanda banyak institusi pendidikan, Budiyono menghadirkan harapan baru: bahwa ilmu pengetahuan masih bisa menjadi senjata untuk keadilan dan kemanusiaan.
Menyalakan Kesadaran Sosial
Ia tidak hanya mengajar hukum, tetapi juga menyalakan kesadaran sosial. Ia tidak sekadar berbicara tentang perubahan, tetapi menghidupinya. Dalam dirinya, teori Gramsci menemukan bentuknya: seorang intelektual organik yang menjadikan ilmu bukan sekadar alat berpikir, tetapi alat berjuang.
Kini, ketika banyak intelektual sibuk mengejar karier dan pengakuan, Budiyono tetap teguh di jalur yang ia yakini: jalur keberpihakan pada rakyat. Dalam setiap langkahnya, ia membuktikan bahwa pengetahuan tanpa keberpihakan adalah kesia-siaan, dan keberpihakan tanpa pengetahuan adalah kebutaan.
Melalui sosoknya, kita diingatkan kembali akan makna sejati dari intelektualitas—bukan sekadar kemampuan berpikir, tetapi keberanian untuk bertindak. Dan di tengah dunia yang kian pragmatis, Budiyono berdiri sebagai mercusuar yang menuntun arah: bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang membebaskan.