
Perkembangan Teknologi Kereta Api di Indonesia
Direktur PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, mengungkapkan bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan penggunaan lokomotif bertenaga baterai sebagai bagian dari modernisasi armada. Ini dilakukan untuk menekan emisi dan meningkatkan efisiensi operasional.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Kami sedang berdiskusi dengan salah satu industri di Tiongkok tentang bagaimana mereka dapat membantu kami melakukan peremajaan armada. Sebagian besar lokomotif kami masih menggunakan mesin diesel, dan kami ingin beralih ke sistem elektrifikasi atau kereta berbasis baterai,” ujar Bobby saat berada di Beijing, Rabu.
Bobby turut serta dalam kunjungan kerja ke Beijing, Qingdao, dan beberapa kota lainnya di Tiongkok bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono, serta pejabat terkait lainnya. Tujuan utamanya adalah bertemu dengan Menteri Transportasi dan pelaku industri perkeretaapian.
“Jika mobil listrik disebut EV (electric vehicle), maka kereta listrik ini disebut e-train. Teknologi ini bisa meningkatkan efisiensi layanan, menurunkan biaya operasional, mengurangi emisi, sekaligus memperkuat program hijau KAI,” jelasnya.
Bobby menjelaskan bahwa kereta bertenaga baterai dapat diterapkan untuk berbagai layanan, baik antarkota maupun perkotaan seperti KRL Jabodetabek. “Dulu kereta listrik harus terhubung ke jaringan listrik di atas rel, tetapi kini dengan teknologi baterai, kereta bisa beroperasi mandiri. Di Tiongkok, e-lokomotif seperti ini sudah banyak digunakan,” tambahnya.
Menurut Bobby, penggunaan lokomotif baterai akan menjadi lompatan besar dalam transformasi teknologi KAI. “Kami ke sini untuk mempelajari teknologi, skema pengoperasian, hingga integrasi antarmoda transportasi,” katanya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa belum ada kesepakatan pembelian rangkaian baru dari Tiongkok. “Pengadaan memang bagian dari modernisasi, tetapi belum dibahas secara spesifik. Fokus kami masih pada konversi lokomotif diesel ke tenaga listrik,” ujarnya.
Saat ini, KAI memiliki ratusan lokomotif diesel berbagai tipe, termasuk CC202 dan CC205 untuk angkutan batu bara di Sumatera serta CC206 untuk barang dan penumpang di Jawa. Selain itu, KAI memesan 11 rangkaian KRL dari Tiongkok; delapan telah beroperasi, sementara tiga lainnya masih menjalani uji kelaikan teknis sebelum beroperasi penuh.