Pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang Mengesankan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sejak awal tahun. Pencapaian ini mencapai kenaikan sebesar 22,28%, menjadikannya sebagai yang terbesar kedua di kawasan ASEAN setelah VN-Index Vietnam yang melonjak hingga 38,44%. Namun, hal ini tidak sepenuhnya didukung oleh kinerja keuangan perusahaan-perusahaan yang terdaftar.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut data dari Mandiri Sekuritas, laba bersih perusahaan tercatat justru mengalami penurunan. Perusahaan ini memperkirakan bahwa laba emiten yang mereka pantau akan mengalami kontraksi sebesar 11,6% pada tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan IHSG lebih disebabkan oleh faktor-faktor eksternal daripada kinerja internal perusahaan.
Faktor Pendukung Pertumbuhan IHSG
Adrian Joezer, Head of Strategy and Equity Analyst dari Mandiri Sekuritas, menjelaskan bahwa laju IHSG lebih banyak dipengaruhi oleh likuiditas pasar. Kebijakan moneter yang longgar dan pemangkasan suku bunga BI menjadi salah satu faktor utama yang mendorong arus dana ke pasar saham. Selain itu, tambahan dana dari jatuh tempo Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga turut berkontribusi dalam meningkatkan likuiditas.
Perpindahan dana saldo anggaran lebih (SAL) Kementerian Keuangan ke perbankan juga turut memperbesar suplai uang di pasar. Adrian menyatakan bahwa masuknya likuiditas tersebut membuat valuasi IHSG terlihat lebih murah dibanding aset lain. Investor melihat pasar saham sebagai cerminan masa depan perusahaan.
Perspektif Analis Lain
Arinda Izzaty, Equity Analyst dari Pilarmas Investindo Sekuritas, menambahkan bahwa pelemahan earning per share (EPS) tahun ini sudah masuk hitungan pasar. Ekspektasi pemangkasan suku bunga global, terutama The Fed, ikut mendorong minat investor ke aset berisiko di negara berkembang seperti Indonesia.
Ia menilai bahwa stabilitas makro domestik, inflasi yang terkendali, serta kebijakan fiskal ekspansif untuk tahun 2026 membuat pasar lebih percaya diri. Menurut Arinda, pelaku pasar sedang "mendiskon masa depan", bukan hanya terpaku pada lemahnya laba saat ini.
Valuasi IHSG dan Proyeksi Kinerja
Secara valuasi, IHSG diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) 15,83 kali dan price to book value (PBV) 2,5 kali. Meskipun PER IHSG masih lebih rendah dibanding bursa China, Taiwan, dan Jepang, namun telah berada di atas Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Mandiri Sekuritas memperkirakan bahwa pemulihan kinerja emiten akan mulai terlihat pada tahun 2026. Adrian memproyeksikan laba bersih perusahaan yang mereka pantau tumbuh 14,2%, dengan pendapatan naik 7,8%.
Prediksi Pemulihan Pasar
Thomas Nugroho, Direktur Utama RHB Sekuritas, juga memprediksi bahwa pemulihan solid akan terjadi pada tahun 2026–2027. RHB memperkirakan laba bersih emiten akan tumbuh 10% pada tahun 2026, dipimpin oleh sektor keuangan terutama perbankan yang berpeluang naik 11,7% secara tahunan. Sektor konsumen non-siklikal juga diproyeksikan tumbuh 10,1%.
“Sektor energi dan barang konsumen siklikal juga menunjukkan kinerja baik, menciptakan pendapatan yang lebih terdiversifikasi dan memperkuat keyakinan terhadap pemulihan pasar,” kata Thomas.