Etanol Bukan Bahan Bakar Baru, Sudah Digunakan Sejak Tahun 1908

Etanol bukanlah bahan bakar yang baru dikenal dalam dunia otomotif. Meski saat ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat, penggunaan etanol sebagai bahan bakar telah dimulai sejak tahun 1908. Penjelasan ini datang dari Prof. Ir. Ronny Purwadi, M.T., Ph.D, seorang peneliti Teknik Pangan Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung (FTI-ITB). Dalam diskusi bertajuk Peranan Bioethanol dalam Industri dan Otomotif yang diselenggarakan oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Jakarta, Senin (20/10/2025), ia menjelaskan bahwa penggunaan etanol tidaklah baru.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Prof. Ronny, mobil pertama yang diproduksi secara massal oleh Henry Ford, yaitu T Model pada tahun 1908, menggunakan etanol sebagai bahan bakar. Pada masa itu, minyak bumi belum ditemukan, sehingga etanol menjadi alternatif utama. Ia menambahkan bahwa pada waktu itu, etanol dianggap sebagai bahan bakar masa depan karena dapat dibuat oleh rakyat dan membantu perekonomian daerah.

Namun, sekitar tahun 1930-an, minyak bumi mulai ditemukan dan kemudian diproduksi secara besar-besaran. Harga minyak bumi yang lebih murah membuatnya menjadi pilihan yang lebih menarik dibandingkan etanol. Akibatnya, penggunaan etanol mulai menurun dan hampir terlupakan.
Saat ini, etanol kembali mendapatkan perhatian dari berbagai negara, terutama karena isu lingkungan. Orang mulai menyadari bahwa penggunaan minyak bumi memiliki dampak negatif terhadap lingkungan karena sisa pembakarannya tidak ramah lingkungan. Berbeda dengan bioetanol, yang memiliki kelebihan dalam hal renewable dan net zero emission.
Prof. Ronny menjelaskan bahwa ketika etanol digunakan dalam kendaraan, CO2 yang dihasilkan dapat diserap kembali oleh tanaman melalui proses fotosintesis. Tanaman tersebut kemudian dapat diolah kembali menjadi etanol, menciptakan siklus yang berkelanjutan. Dengan demikian, tidak ada penambahan CO2 di udara, sehingga disebut sebagai net zero emission.
Meskipun etanol kini menjadi perbincangan hangat di Indonesia, fakta sejarah menunjukkan bahwa penggunaannya sudah ada jauh sebelum bahan bakar minyak hadir. Ini menunjukkan bahwa etanol adalah solusi yang telah teruji dan memiliki potensi besar dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Keuntungan Penggunaan Etanol
- Ramah Lingkungan: Etanol menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar minyak.
- Berkelanjutan: Etanol dapat diproduksi dari bahan-bahan alami seperti jagung atau tebu, sehingga tidak menghabiskan sumber daya tak terbarukan.
- Membantu Ekonomi Daerah: Produksi etanol bisa memberikan peluang ekonomi bagi petani dan masyarakat lokal.
Tantangan dan Perspektif Masa Depan
Meski memiliki banyak keuntungan, penggunaan etanol juga memiliki tantangan. Misalnya, produksi etanol membutuhkan lahan yang cukup luas, sehingga bisa bersaing dengan produksi pangan. Selain itu, penggunaan etanol dalam bensin juga bisa memengaruhi performa mesin jika tidak dikelola dengan baik.
Namun, dengan perkembangan teknologi dan kesadaran lingkungan yang semakin tinggi, etanol memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari solusi energi masa depan. Negara-negara seperti Amerika Serikat dan Brasil telah sukses dalam mengadopsi etanol sebagai bahan bakar alternatif.
Dengan demikian, etanol bukan hanya bahan bakar yang lama, tetapi juga solusi yang layak dipertimbangkan dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim.