
Penelitian Terbaru Mengungkap Tingkat Kontaminasi Mikroplastik di Udara 18 Kota di Indonesia
Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) menunjukkan bahwa udara di sejumlah kota di Indonesia mengandung partikel mikroplastik. Hasil riset ini memperkuat kekhawatiran akan dampak lingkungan akibat polusi mikroplastik, khususnya di wilayah perkotaan.
Jakarta Paling Terkontaminasi Mikroplastik
Dari 18 kota/kabupaten yang diteliti, Jakarta menjadi kota dengan tingkat paparan mikroplastik udara tertinggi. Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah partikel mikroplastik di Jakarta mencapai 37 partikel per 2 jam dalam area seluas 63 cm². Sementara itu, Bulukumba dan Malang dinilai aman karena kadar mikroplastiknya berada di bawah 4 partikel.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Ini wajar mengingat Jakarta adalah kota dengan aktivitas industri dan lalu lintas yang sangat tinggi. Dalam penelitian kami, kita melihat bahwa udara Jakarta mengandung banyak partikel mikroplastik yang dapat terbawa hingga ke air hujan,” ujar Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik ECOTON.
Daftar Lima Kota dengan Tingkat Kontaminasi Tertinggi
Penelitian ECOTON–SIEJ yang dilakukan antara Mei hingga Juli 2025 menemukan lima kota dengan kontaminasi mikroplastik udara tertinggi, yaitu:
- Jakarta Pusat – 37 partikel/2 jam/63 cm²
- Jakarta Selatan – 30 partikel
- Bandung – 16 partikel
- Semarang – 13 partikel
- Kupang – 13 partikel
Sementara itu, kota dengan kadar mikroplastik udara terendah adalah Malang dan Bulukumba, masing-masing dengan jumlah di bawah 4 partikel.
Jenis Partikel Mikroplastik yang Ditemukan
Dari total sampel yang dianalisis, ditemukan tiga jenis partikel mikroplastik:
- Fragmen – 53,26%
- Fiber/serat – 46,14%
- Film – 0,6%
Selain itu, beberapa jenis polimer seperti Poliester, Nilon, Polietilena, dan Polipropilen juga ditemukan. Adapun polimer tambahan seperti PTFE, Epoxy, Poliisobutylen, Poliolefin, dan Silika juga teridentifikasi.
Fenomena Hujan Mikroplastik di Jakarta
Hasil penelitian ECOTON–SIEJ memperkuat temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyebutkan adanya mikroplastik dalam air hujan Jakarta. Menurut M. Reza Cordova dari BRIN, sumber partikel tersebut berasal dari serat pakaian sintetis, ban kendaraan, debu, dan sisa pembakaran plastik.
“Partikel mikroplastik yang ada di atmosfer dapat diserap oleh air hujan, sehingga menjadikan hujan sebagai media penyebaran mikroplastik,” jelas Rafika Aprilianti.
Lokasi pengambilan sampel di Jakarta mencakup pasar-pasar besar seperti Pasar Tanah Abang, Jalan Sawah Besar, dan kawasan Ragunan. Wilayah ini menjadi hotspot mikroplastik karena tingginya lalu lintas, aktivitas bongkar-muat, serta pelepasan serat pakaian sintetis.
Perbedaan Tingkat Kontaminasi di Malang dan Bulukumba
Berbeda dengan Jakarta, Malang memiliki tingkat kontaminasi mikroplastik udara yang terendah. Hal ini dikarenakan rendahnya aktivitas industri dan tingginya tutupan vegetasi alami. Sementara itu, Bulukumba juga dinilai aman karena kadar mikroplastiknya jauh di bawah ambang batas.
Metode Penelitian yang Digunakan
Penelitian ini menggunakan metode deposisi pasif mikroplastik udara, yang melibatkan analisis mikroskopik dan FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy). Langkah-langkahnya meliputi:
- Penempatan cawan petri kaca pada ketinggian 1–1,5 meter (zona pernapasan manusia).
- Penangkapan partikel selama 2 jam menggunakan kertas Whatman basah steril.
- Identifikasi bentuk (fiber, film, fragmen), warna, ukuran, dan konfirmasi polimer dengan FTIR.
Metode ini merujuk pada studi Islam et al. (2024) dan Aini et al. (2024), serta disesuaikan dengan kondisi lingkungan perkotaan di Indonesia.
Sumber Utama Mikroplastik Udara
Menurut Sofi Azilan Aini, Koordinator Relawan Riset Mikroplastik, sumber utama mikroplastik udara di Indonesia berasal dari:
- Pembakaran terbuka sampah plastik dan rumah tangga (57%)
- Degradasi produk tekstil sintetis
- Emisi kendaraan bermotor akibat gesekan ban dan rem
“Pembakaran plastik menghasilkan partikel mikroplastik dan aerosol sintetis yang bisa bertahan lama di udara dan terbawa angin hingga ratusan kilometer,” jelas Sofi.
Rekomendasi Kebijakan dari ECOTON
Untuk menekan emisi mikroplastik udara, ECOTON memberikan lima rekomendasi kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK):
- Melarang pembakaran sampah terbuka dan memperkuat penegakan hukum lingkungan di tingkat kelurahan.
- Meningkatkan fasilitas pemilahan sampah dari sumber serta memperluas jaringan Zero Waste Cities di setiap kecamatan.
- Mengembangkan sistem pengolahan organik (kompos dan biodigester).
- Melakukan pemantauan berkala kandungan mikroplastik di udara dan air hujan.
- Menguatkan kampanye publik untuk mengubah perilaku pembakaran sampah dan penggunaan plastik sekali pakai.
“Dengan langkah-langkah ini, Jakarta dapat menurunkan emisi mikroplastik udara, melindungi kesehatan masyarakat, dan membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan,” tutup Rafika.