ACEH UTARA, aiotrade – Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, yang akrab disapa Ayahwa, mengajukan permohonan kepada Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf, untuk segera mengirimkan tenda pengungsi bagi korban banjir di wilayahnya. Permintaan ini juga telah disampaikan secara langsung kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto saat kunjungannya ke Aceh Utara.
“Kasihan pengungsi kita, tenda swadaya dan seadanya. Semua tenda milik desa sudah digunakan, tapi belum memadai juga. Kita harap Mensos membantu mengirimkan tenda layak untuk pengungsi secepatnya,” ujar Ayahwa pada Rabu (17/12/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Bupati menjelaskan, tenda berukuran 4 x 4 meter, yang sering disebut sebagai tenda keluarga, sangat dibutuhkan. Hal ini bertujuan agar setiap pengungsi dapat memiliki satu tenda yang dapat digunakan oleh satu keluarga. “Sekarang satu tenda bisa dua atau tiga kepala keluarga. Kita sudah minta sejak awal sampai hari ini kita minta terus ke Kemensos dan BNPB,” tambahnya.
71.637 Pengungsi di 226 Titik Pengungsian
Saat ini, tercatat sebanyak 71.637 pengungsi korban banjir yang bertahan di 226 titik pengungsian. “Kalau bahan pangan kita sudah cukup untuk beberapa hari ke depan, secara berkala kita kirim ke posko kecamatan seterusnya ke desa secara berjenjang,” jelas Ayahwa.
Selain itu, data terbaru menunjukkan, sebanyak 1.111 orang mengalami kerugian akibat bencana ini. Kemudian, 163 orang dilaporkan meninggal dunia, dan enam orang masih dalam pencarian. Kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir juga meliputi 12 daerah irigasi dan 8 daerah irigasi tersier.
Luas area pertanian yang terdampak mencapai 14.509 hektar, dengan sawah yang kini dipenuhi lumpur sisa banjir setinggi satu hingga dua meter dan tidak dapat digunakan lagi.
Kondisi Pengungsi yang Memprihatinkan
Pengungsi di Aceh Utara menghadapi kondisi yang sangat memprihatinkan. Tenda yang tersedia tidak cukup untuk menampung seluruh pengungsi. Bahkan, banyak dari mereka harus berbagi tenda dengan keluarga lain. Hal ini menyebabkan ketidaknyamanan dan risiko kesehatan yang tinggi.
Ayahwa mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya memperbaiki situasi. Namun, tanpa bantuan tambahan dari pemerintah pusat, kondisi akan sulit dikelola. Ia berharap pemerintah dapat segera merespons permohonan tersebut agar pengungsi dapat mendapatkan perlindungan yang layak.
Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Meski bahan pangan masih cukup, pengungsi tetap membutuhkan bantuan logistik yang lebih stabil. Ayahwa menjelaskan bahwa distribusi bahan pangan dilakukan secara berjenjang, mulai dari posko kecamatan hingga ke desa-desa. Namun, hal ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi.
Selain makanan, kebutuhan lain seperti air bersih, obat-obatan, dan perlengkapan kebersihan juga menjadi fokus utama. Pihak pemerintah daerah sedang berupaya keras untuk memastikan semua kebutuhan tersebut terpenuhi.
Dampak Banjir yang Luas
Banjir yang terjadi di Aceh Utara telah menimbulkan kerusakan yang sangat luas. Selain mengganggu kehidupan pengungsi, banjir juga merusak infrastruktur penting seperti daerah irigasi. Dampak ini berpotensi memengaruhi produksi pertanian di masa depan.
Luas area pertanian yang terkena dampak banjir mencapai 14.509 hektar. Sawah-sawah yang biasanya menjadi sumber penghidupan petani kini tertutup lumpur setinggi satu hingga dua meter. Hal ini membuat lahan pertanian tidak dapat digunakan dalam waktu yang lama.
Upaya Pemulihan dan Perbaikan
Pemerintah Aceh Utara terus melakukan upaya pemulihan pasca-banjir. Salah satunya adalah perbaikan infrastruktur yang rusak dan pembersihan areal pertanian. Namun, upaya ini memerlukan dukungan yang lebih besar dari pihak lain.
Ayahwa berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga bantuan, dan masyarakat dapat segera terwujud. Dengan begitu, proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan efisien.