Bursa Asia Bergerak Bervariasi Saat Investor Pantau Data Ekonomi AS

admin.aiotrade 17 Nov 2025 2 menit 15x dilihat
Bursa Asia Bergerak Bervariasi Saat Investor Pantau Data Ekonomi AS


aiotrade, JAKARTA – Bursa Asia dibuka dengan pergerakan yang beragam pada perdagangan awal pekan, Senin (17/11/2025), mengingat sikap para investor yang sedang bersiap menghadapi rilis serangkaian data ekonomi Amerika Serikat (AS) di tengah ketidakpastian terkait arah kebijakan Federal Reserve atau The Fed.

Berdasarkan laporan Bloomberg, indeks Topix Jepang terpantau melemah sebesar 0,69% pada level 3.336,78 saat dibuka. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia juga turun sebesar 0,22% pada level 8.615,50. Di sisi lain, indeks Kospi Korea Selatan naik sebesar 1,4% ke level 4.066,85. Kontrak berjangka indeks saham AS juga bergerak menguat secara terbatas. Sementara itu, yen tetap stabil setelah ekonomi Jepang tercatat mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam enam kuartal.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Setelah beberapa minggu minimnya rilis data ekonomi, pelaku pasar akhirnya akan mendapatkan sinyal baru mengenai kondisi perekonomian AS ketika berbagai lembaga mulai merilis indikator penting, termasuk data tenaga kerja. Investor juga menghadapi berbagai risiko, seperti valuasi tinggi saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) serta kembali memanasnya hubungan antara China dan Jepang. Di sisi lain, selera risiko tampak menurun dengan Bitcoin yang bertahan di sekitar US$94.000 dan hampir menghapus seluruh kenaikan tahunannya.

“November sejauh ini menjadi periode yang cukup bergejolak bagi pasar saham,” ujar Shane Oliver, kepala ekonom sekaligus Kepala Strategi Investasi AMP Ltd., dalam catatan kepada klien. Ia menuturkan bahwa pasar saham masih berisiko mengalami koreksi karena valuasi yang terlalu tinggi, risiko tarif AS, serta pasar tenaga kerja AS yang mulai melemah.

Beberapa pejabat The Fed dalam beberapa pekan terakhir juga menyampaikan keraguan atas perlunya pemangkasan suku bunga pada Desember, bahkan sebagian dari mereka menolaknya secara terbuka. Hal ini terjadi kurang dari sebulan setelah Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga Desember bukanlah sesuatu yang pasti.

Pekan lalu, pelaku pasar di kontrak berjangka menurunkan probabilitas penurunan suku bunga seperempat poin pada Desember menjadi di bawah 50%, setelah beberapa pejabat The Fed memberi sinyal bahwa langkah tersebut masih jauh dari kepastian. Ketidakpastian jangka pendek ini turut mendorong naiknya indeks volatilitas pasar obligasi yang sebelumnya berada di dekat level terendah empat tahun.

Analis Commonwealth Bank of Australia yang dipimpin Joseph Capurso dalam catatan kepada klien menuturkan bahwa meskipun ada pertanyaan tentang kualitas data, pelaku pasar tetap akan merespons informasi baru. “Kami memperkirakan laporan non-farm payrolls September akan berada di bawah ekspektasi kenaikan 50.000 tenaga kerja,” jelasnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan