Peran Penting Angkutan Perintis di Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah provinsi yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki infrastruktur jalan yang tidak sebaik di Pulau Jawa dan Bali. Oleh karena itu, layanan angkutan perintis, baik melalui laut, udara, maupun darat, sangat diperlukan untuk mendukung mobilitas masyarakat. Layanan ini menjadi solusi bagi warga yang tidak dapat mengakses transportasi komersial karena biayanya yang terlalu mahal.
Layanan bus Angkutan Perintis sangat penting di wilayah NTT karena wilayah daratnya cukup luas dan infrastruktur jalannya tidak sebagus di Jawa. Hal ini membuat swasta kurang tertarik memberikan layanan transportasi secara komersial, terutama karena jumlah penduduk yang tidak sebanyak di Jawa, sehingga potensi penumpang (demand) juga tidak terlalu tinggi. Untuk mengatasi hal ini, Angkutan Perintis yang berbasis bus sangat diperlukan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Layanan bus Angkutan Perintis yang dimaksudkan di sini adalah layanan dengan tarif bersubsidi agar ongkosnya terjangkau oleh masyarakat NTT, tetapi juga tidak merugikan operator. Selisih antara biaya operasional bus dengan tarif yang dibayarkan oleh masyarakat ditanggung oleh Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Batasan suatu rute perlu dilayani oleh Angkutan Perintis jika Tingkat keterisian armada (load factor) di rute tersebut kurang dari 70%. Bila sudah mencapai di atas 70%, maka rute tersebut dapat dilayani oleh angkutan komersial.

Saat ini, Angkutan Perintis berbasis bus yang ada di NTT terdapat di Pulau Timor, relasi Kupang – Ayutopas – Besikama (230 km), Pulau Flores, relasi Ende – Maronggelo (185 km), dan Sumba (Waingapu – Tabundung (190 km)). Namun sejak 2024 masuk operator swasta PO Sinar Jaya. Menurut Kepala BPTD NTT Robert Tall, sejak dirinya menjadi Kepala BPTD NTT memang mengundang operator swasta untuk turut melayani Angkutan Perintis di wilayah kerjanya dengan maksud untuk menciptakan peningkatan layanan yang lebih baik.

Dan ternyata, operator baru ini mampu menyediakan layanan yang lebih baik, dengan armada yang digunakan lebih baru. Sebagai contoh, Angkutan Perintis yang dijalankan oleh Perum DAMRI untuk rute Kupang – Ayotupas sepanjang 232 km, tarifnya hanya Rp. 50.000,-. Tarif yang dibayarkan oleh masyarakat tergantung jarak tempuhnya. Sebagai contoh untuk rute yang sama, tapi warga yang naik dari Soe menuju ke Ayotupas sepanjang 122 km tarifnya Rp. 30.000,-; rute Niki-niki – Ayotupas dengan jarak 96 km tarifnya sebesar Rp. 25.000,-.

Tarif yang dibayarkan oleh masyarakat berdasarkan jarak tempuh ini cukup meringankan beban warga. Dengan kondisi jalan yang naik turun dan kalau hujan juga becek, tarif tersebut tergolong murah, dan itu hanya terjadi karena tarifnya disubsidi oleh Pemerintah. Subsidi dari Pemerintah itu amat penting mengingat tingkat keterisian bus Angkutan Perintis yang dioperasikan oleh DAMRI selama lima tahun terakhir cenderung rendah dan fluktuatif.

Sebagai contoh, rute Kupang – Naimata dengan jarak tempuh 20 km. Pada tahun 2020 dari 952 ritase hanya mengangkut 2.729 penumpang atau tingkat keterisiannya 7,54% saja. Berturut-turut menjadi 5,78% (2021), 2,11% (2022), kemudian ngedrop menjadi 0,67% (2023), dan naik cukup signifikan pada tahun 2024 menjadi 13,15%. Tingkat keterisian tertinggi pernah terjadi pada rute Kefamenanu – Naob yang pada tahun 2020 dari 600 ritase mampu mengangkut 9.326 penumpang (46,26%).

Namun setelah itu berturut-turut turun menjadi 39,78% (2021), 33,80% (2022), kemudian merosot menjadi 8,01% (2023), dan merosot lagi menjadi 1,95% (2024). Kecenderungan jumlah penumpang yang fluktuatif juga terjadi pada rute Enge – Nggela dengan jarak tempuh 95 km. Pada tahun 2020 tingkat keterisian mencapai 19,22%, kemudian naik menjadi 27,89% (2021), naik lagi menjadi 28,76% (2022), tapi kemudian merosot menjadi 8,39% (2023), kemudian kembali naik menjadi 16,14% (2024), dan 2025 hingga bulan Juli mencapai 37,87%.

Fenomena yang sama terjadi pada layanan Angkutan Perintis di Pulau Sumba untuk rute Waingapu – Tanarara – Kananggar sepanjang 119 km. Pada tahun 2020 tingkat keterisian mencapai 25,31%, tapi kemudian merosot menjadi 16,23% (2021), turun lagi menjadi 11,27% (2022), turun lagi menjadi 8,05% (2023), lalu ngedrop tinggal 1,39% (2024), dan pada tahun 2025 ini sampai bulan Juli mencapai 24,92%. Meskipun ada kecenderungan jumlah penumpang Angkutan Perintis menurun, tapi tidak berarti kebijakan Angkutan Perintis perlu dihentikan.

Kebijakan tersebut tetap perlu dijalankan guna memberikan layanan transportasi bagi warga yang tinggal di daerah-daerah dan memerlukan angkutan umum yang terjangkau untuk melakukan mobilitas geografis. Yang diperlukan adalah kajian khusus mengenai faktor penurunannya dan strategi untuk mengoptimalkan Angkutan Perintis berbasis bus ini.
Kebutuhan sarana baru
Boleh jadi salah satu persoalan yang memicu merosotnya jumlah penumpang untuk Angkutan Perintis berbasis bus ini adalah kondisi sarana yang kurang memadai. Selain terbatas jumlahnya kualitasnya juga rendah. Sebagian armada yang digunakan saat ini sudah berusia lebih dari 10 tahun sehingga wajar memerlukan pembaruan. Hal ini membuka ruang bagi dukungan pemerintah dan operator untuk menghadirkan layanan yang lebih prima.

Keterbatasan sarana memang merupakan kendala utama pelaksanaan Angkutan Perintis di NTT yang dilaksanakan oleh Perum DAMRI. Dengan hanya tersedia satu unit (armada) untuk satu rute, tentu tidak mampu memberikan layanan secara optimal karena tidak dapat melayani dua arah dalam waktu yang bersamaan.

Yang terjadi selama ini adalah misalkan Hari Senin pagi berangkat dari Kupang menuju Ayutopas, maka layanan Ayutopas – Kupang baru dapat dilaksanakan Hari Selasa (esok hari), karena menunggu kedatangan bus yang dari Kupang. Kecuali jumlahnya yang amat minim dan kondisi kendaraannya yang sudah lebih dari 10 tahun, kendala layanan Bus Perintis ini menurut Robert Tall, Kepala BPTD NTT adalah soal keberadaan sarana yang tidak sesuai dengan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat.

Kondisi geografis di NTT itu tidak datar, naik turun dan kondisi jalannya banyak yang rusak. Kebutuhan masyarakat juga tidak hanya untuk pergerakan orang saja, tapi juga barang-barang hasil tani, kebon, hutan, ternak, dan laut yang akan mereka jual ke kota (Kupang dan sekitarnya). Oleh karena itu, jenis kendaraan yang dibutuhkan juga yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat NTT akan angkutan orang dan barang. Dengan demikian, warga dari daerah-daerah di NTT bisa menjual barang-barang hasil tani, hutan, kebon, ternak, atau laut ke kota dengan biaya yang lebih murah sehingga kesejahteraannya meningkat.