Keterlibatan Calista Amore dalam Kasus Bullying yang Menghebohkan
Nama Calista Amore Manurung kini menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan keterlibatannya dalam aksi bullying terhadap rekan kampusnya, Timothy Anugerah Saputra. Calista adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran di Universitas Udayana (Unud), Bali. Selain aktif di kampus, ia dikabarkan sedang menjalani ko-asisten (koas) di RS Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar.
Namun, kabar ini memicu kontroversi karena ada indikasi bahwa Calista ikut serta dalam percakapan grup WhatsApp yang memperolok tragedi kematian Timothy. Dalam percakapan tersebut, terdapat komentar seperti “gaberasa lt 2 mah (nggak terasa jatuh dari lantai 2 mah)” dan “visit yu” yang ditulis oleh Calista. Komentar-komentar ini dinilai tidak berempati dan menunjukkan sikap tidak peduli terhadap kesedihan keluarga korban.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Hingga saat ini, Calista belum muncul secara terbuka untuk meminta maaf atau mengklarifikasi dugaan keterlibatannya dalam kasus ini. Hal ini memperkuat spekulasi bahwa ia memang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Kronologi Kasus dan Hubungan dengan Calista Amore
Kasus ini bermula ketika mahasiswa FISIP Unud, Timothy Anugerah Saputra, dilaporkan meninggal dunia usai melompat dari gedung lantai 2 pada Rabu, 15 Oktober 2025. Peristiwa ini memicu perhatian besar karena adanya dugaan bullying yang dialami Timothy sebelum kematiannya.
Setelah kematian Timothy, muncul tangkapan layar dari grup WhatsApp yang menampilkan komentar penuh ejekan terhadap kematiannya. Dalam percakapan tersebut, selain komentar-komentar di atas, juga terdengar olokan seperti “Nanggung banget kalau bunuh diri dari lantai 2 yak.” Calista kemudian menjadi sorotan publik karena namanya disebut-sebut sebagai salah satu pengguna chat yang tidak berempati.
Banyak orang mulai bertanya: Apakah benar Calista Amore koas di RS tertentu? Dan apakah ia memang terlibat dalam perilaku bullying tersebut?
Koas di RS Mana? Realitas atau Spekulasi?

Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial dan diskusi publik, disebutkan bahwa Calista Amore Manurung masih aktif melakukan koas di RS Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar, Bali. Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari rumah sakit atau kampus yang secara terbuka menyebutkan status koasnya.
Netizen merespons dengan keras begitu kabar ini viral. Mereka merasa khawatir dan “ngeri” jika seseorang yang diduga ikut dalam perundungan menjadi calon dokter atau sudah menjadi koas di sebuah rumah sakit. Beberapa komentar netizen antara lain:
- “serem kl msh ada yg mau jd pasien para dktr pembully,” tulis chrtinl*.
- “Hati2 banget ketemu dokter punya karakter kayak gini, serem banget,” komentar user6833621592***.
- “TAKUTNYEUUU BEROBAT SAMA DOKTER MACAM NI,” kata @ar***.
Selain itu, ada juga laporan bahwa usai kasus mencuat, Calista tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa di RS tersebut dan bahkan tertawa riang, menambah kesan bahwa ia “tidak merasa bersalah”.
Karena itu, kata kunci “Calista Amore koas” sering muncul dalam pencarian netizen. Artikel ini akan terus menggunakan kata kunci utama tersebut secara alami agar visibilitas pencarian meningkat.
Dampak Publik dan Tuntutan Untuk Transparansi
Kasus ini memicu gelombang kemarahan di media sosial. Banyak pihak menyerukan agar kampus serta rumah sakit terkait bertindak tegas. Secara khusus, publik menyoroti dua hal: pertama, bahwa sebuah institusi pendidikan tinggi seperti Unud seharusnya menjadi lingkungan yang aman dan menghormati martabat mahasiswa; kedua, bahwa jika memang benar Calista Amore koas di RS Ngoerah, maka pihak rumah sakit perlu memberikan klarifikasi.
Di sisi lain, kampus Unud telah merespons dengan membentuk tim investigasi internal. Rektor Unud menyatakan bahwa universitas tidak akan mentolerir segala bentuk kekerasan verbal maupun fisik.
Namun, banyak pihak menilai bahwa langkah tersebut masih kurang karena belum ada pernyataan publik yang spesifik menyebut nama-nama termasuk Calista.
Terlebih lagi, kehadiran mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani koas di RS menimbulkan pertanyaan etika: Apakah calon dokter yang sedang terlatih memiliki karakter yang sesuai dengan profesinya? Jika benar Calista Amore koas di RS tetapi ikut dalam perundungan, maka ini bisa jadi preseden buruk untuk kepercayaan publik terhadap tenaga medis.