
Peneliti Mengungkap Bahaya Mikroplastik yang Terbawa Angin dan Turun Melalui Hujan
Mikroplastik, yang sering dianggap sebagai limbah dari aktivitas manusia, ternyata bisa terbang ke langit dan kemudian turun kembali ke permukaan bumi melalui air hujan. Hal ini disampaikan oleh pengamat meteorologi dan geofisika dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwi Atmoko, dalam sebuah diskusi di Balai Kota Jakarta pada Jumat, 24 Oktober 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Dwi, mikroplastik merupakan bagian dari aerosol atau partikel berat yang dapat berbentuk padat, tersuspensi, atau termampatkan di atmosfer. "Aerosol ini ada di mana-mana, bahkan ada juga yang berbentuk cair seperti parfum atau zat yang terdapat dalam botol," ujarnya.
Aerosol dengan ukuran sangat kecil ini bisa terbawa oleh angin dan dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Dalam atmosfer, aerosol bisa bergerak secara vertikal maupun horizontal karena pengaruh gaya gravitasi. Ketika tidak ada angin, aerosol yang mengandung mikroplastik dan polutan lainnya bisa jatuh sendiri dan mengendap di berbagai tempat, seperti badan air, dedaunan, atau permukaan bangunan.
Selain itu, aerosol yang mengandung mikroplastik juga bisa hilang dari atmosfer melalui proses deposisi basah. "Permasalahannya, aerosol juga bisa bergerak ke atas dan mencapai ketinggian yang sangat tinggi," kata Dwi.
BMKG pernah melakukan penelitian menggunakan satelit Cloud-Aerosol Lidar and Infrared Pathfinder Satellite Observation (CALIPSO) yang menunjukkan bahwa aerosol bisa terbang hingga ketinggian 15 kilometer atau sekitar 49 ribu kaki. Pada ketinggian tersebut, hujan tidak akan terjadi, sehingga aerosol yang mengandung mikroplastik tidak akan turun ke tanah. Namun, jika tidak ada angin, aerosol tersebut bisa jatuh ke permukaan bumi akibat pengaruh gravitasi.
Dwi juga mengingatkan bahwa polutan seperti mikroplastik bisa terbawa dari satu daerah ke daerah lain. Contohnya, hasil penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa mikroplastik dalam air hujan di Jakarta bisa berasal dari daerah sekitar ibu kota. Selain itu, mikroplastik juga bisa berasal dari aktivitas pembakaran sampah secara terbuka di Jakarta.
Sampah plastik yang terbakar akan terpecah menjadi pecahan mikroplastik yang akhirnya mengudara. Saat hujan, mikroplastik tersebut akan turun kembali ke tanah karena terbawa oleh air hujan. "Mikroplastik dan aerosol yang ada di dalam udara terdeposisikan basah melalui air hujan yang terbawa ke permukaan lagi," ujar Dwi.
Sifat Mikroplastik yang Menyerap Polutan Lain
Peneliti dari BRIN, Muhammad Reza Cordova, menjelaskan bahwa mikroplastik berukuran kurang dari 50 mikron (0,05 milimeter) memiliki sifat mirip seperti spons pencuci piring. Polutan ini akan menyerap zat atau polutan lain yang beterbangan di udara.
Reza menggambarkan mikroplastik seperti busa yang bisa membawa polutan lain, bahkan virus dan mikroba yang bisa masuk ke dalam tubuh manusia. Namun, mikroplastik bisa lepas ketika manusia bersin dan tertahan di bulu hidung atau tenggorokan. "Jika hal ini terjadi, bisa menyebabkan efek peradangan meskipun tingkatannya bisa berbeda," katanya.
Dalam penelitian Reza dan rekan-rekannya berjudul The deposition of atmospheric microplastics in Jakarta-Indonesia: The coastal urban area yang terbit pada 9 Desember 2021, diketahui bahwa mikroplastik bisa berasal dari berbagai sumber seperti pakaian berbahan nilon, tekstil sintetis, emisi kendaraan, emisi pabrik, limbah plastik, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang menerapkan sistem pembuangan terbuka, hingga bekas traksi ban karet yang melaju di aspal.
Langkah untuk Menekan Penyebaran Mikroplastik
Untuk mengurangi penyebaran mikroplastik, Reza menyarankan agar masyarakat menghindari membuang sampah sembarangan dan membakar sampah. Selain itu, diperlukan penanganan sampah yang tepat. "Meskipun fenomena ini bisa terjadi lebih lama, namun baru terdeteksi beberapa tahun terakhir karena alat yang semakin sensitif," katanya.