Catat! Astra International (ASII) Siarkan Dividen Akhir, Ini Besarannya


Pemegang saham PT Astra International Tbk (ASII) kini memiliki alasan untuk bersuka cita. Emiten otomotif terbesar di Indonesia itu berencana membagikan dividen final sebesar Rp 292 per saham. Rencana ini akan diajukan kepada para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang akan digelar pada April 2026 mendatang.

Presiden Direktur ASII, Djony Bunarto Tjondro, menjelaskan bahwa usulan dividen tersebut akan ditambah dengan dividen interim sebesar Rp 98 per saham yang telah dibagikan pada Oktober 2025. Dengan demikian, total dividen yang diusulkan untuk tahun 2025 mencapai Rp 390 per saham. Rasio pembayaran dividen tersebut mencapai 48%, menunjukkan komitmen perusahaan untuk memberikan keuntungan kepada pemegang saham.

Meski laba bersih ASII mengalami penurunan sebesar 3,33% menjadi Rp 32,76 triliun pada tahun 2025 dari periode tahun 2024 yang senilai Rp 33,9 triliun, perusahaan tetap mampu mempertahankan pembagian dividen yang cukup signifikan. Laba per saham juga turun menjadi Rp 810 dari sebelumnya Rp 837 per saham.

Dari sisi pendapatan, Astra mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp 323,39 triliun pada tahun 2025, turun tipis 1,54% dibandingkan pendapatan tahun 2024 yang mencapai Rp 328,48 triliun. Pendapatan tersebut berasal dari berbagai segmen bisnis, antara lain:

  • Segmen otomotif dan mobilitas: Rp 125,65 triliun
  • Jasa keuangan: Rp 33,44 triliun
  • Alat berat pertambangan, konstruksi, dan energi: Rp 131,3 triliun
  • Agribisnis: Rp 28,65 triliun
  • Infrastruktur: Rp 3,16 triliun
  • Teknologi informasi: Rp 2,99 triliun
  • Properti: Rp 1,13 triliun

Total pendapatan dari tujuh segmen tersebut dikurangi jumlah eliminasi sebesar Rp 2,95 triliun, sehingga menghasilkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 323,39 triliun.

Secara operasional, laba bruto Astra tercatat sebesar Rp 71,44 triliun pada tahun 2025, turun dari Rp 73,06 triliun pada tahun sebelumnya. Meskipun beban pokok pendapatan turun menjadi Rp 251,95 triliun dari Rp 255,42 triliun, hal ini belum cukup untuk mengimbangi penurunan pendapatan.

Di sisi beban operasional, beban penjualan meningkat menjadi Rp 11,74 triliun dari Rp 11,06 triliun. Sementara itu, beban umum dan administrasi naik menjadi Rp 21,03 triliun dari Rp 19,59 triliun. Namun, penghasilan bunga meningkat menjadi Rp 3,65 triliun dari Rp 3,29 triliun. Sayangnya, bagian atas hasil bersih ventura bersama dan entitas asosiasi turun menjadi Rp 9,62 triliun dari Rp 10,29 triliun.

Laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp 49,29 triliun, turun dari Rp 53,00 triliun pada 2024. Beban pajak penghasilan sebesar Rp 9,08 triliun membuat laba tahun berjalan berada di level Rp 40,2 triliun.

Dari sisi penghasilan komprehensif lain, Astra mencatat rugi bersih setelah pajak sebesar Rp 540 miliar pada tahun 2025, berbanding terbalik dengan surplus sebesar Rp 2,58 triliun pada 2024.

Hingga akhir tahun 2025, total aset Astra mencapai Rp 507,36 triliun, meningkat dari periode tahun 2024 senilai Rp 471,44 triliun. Jumlah liabilitas perusahaan juga meningkat menjadi Rp 216,55 triliun dari Rp 199,44 triliun. Total ekuitas perusahaan dilaporkan naik menjadi Rp 290,81 triliun dari sebelumnya Rp 272 triliun.

Selain itu, saldo kas dan setara kas Astra pada akhir tahun 2025 mencapai Rp 52,62 triliun, meningkat dari posisi Rp 48,43 triliun di akhir Desember 2024. Kenaikan ini menunjukkan kinerja keuangan yang relatif stabil meskipun ada tekanan pada pendapatan dan laba.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan