
Komitmen Indonesia dalam TFFF: Tantangan dan Harapan
Indonesia telah menunjukkan komitmennya terhadap inisiatif dana konservasi hutan Tropical Forest Forever Facility (TFFF) yang diinisiasi oleh tuan rumah COP30, Brasil. Namun, beberapa catatan penting perlu diperhatikan untuk memastikan bahwa inisiatif ini tidak hanya menjadi janji-janji kosong, tetapi juga berdampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat lokal.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam pidato resmi di Leaders Summit COP30 pada hari Kamis (6/11/2025), Utusan Khusus Presiden RI untuk Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengonfirmasi kembali janji pendanaan sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp16,8 triliun yang sebelumnya disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan ini menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam TFFF.
Hashim juga menyebutkan capaian Indonesia dalam mengurangi laju deforestasi. Menurutnya, tingkat deforestasi telah mencapai level terendah dalam dua dekade dengan penurunan sebesar 75% sejak 2019. Selain itu, Indonesia juga telah melakukan investasi dalam perlindungan keanekaragaman hayati melalui pengembangan koridor gajah dan program konservasi berbasis komunitas lokal.
Perlindungan Ekosistem dan Keberlanjutan
Hashim menekankan bahwa perlindungan dan pemulihan ekosistem sangat penting, bukan hanya sebagai penyimpan cadangan karbon, tetapi juga sebagai pendukung keberlangsungan hidup masyarakat lokal. Ia menyoroti peran ekosistem hutan dan pesisir dalam meningkatkan produksi perikanan, melindungi pesisir pantai dari erosi dan kenaikan muka laut, serta menjaga keanekaragaman hayati laut.
Selain itu, Indonesia menekankan bahwa aksi iklim harus adil, inklusif, dan berpusat pada manusia. Pernyataan ini menunjukkan kesadaran bahwa perubahan iklim lebih berdampak pada kelompok rentan, seperti masyarakat adat, perempuan, dan orang-orang dengan disabilitas.
Penilaian dari Greenpeace
Meskipun ada harapan besar terhadap TFFF, organisasi lingkungan Greenpeace memberikan sejumlah catatan penting. Ketua Tim Politik untuk Kampanye Solusi Hutan Global Greenpeace, Rayhan Dudayev, menyoroti bahwa TFFF mengharuskan alokasi pendanaan sebesar 20% langsung untuk Masyarakat Adat. Namun, ia mengingatkan bahwa jika pemerintah terus membiarkan atau bahkan menjadi pelaku yang merampas hak-hak Masyarakat Adat, kontribusi Indonesia di TFFF akan menjadi performatif saja.
Greenpeace juga menyoroti beberapa aspek penting yang perlu diperbaiki dari skema TFFF. Di antaranya adalah ambang batas tutupan hutan yang masih rendah, yaitu sebesar 20–30% dari tutupan kanopi, padahal secara sains, angka ini mestinya minimal 50%. Selain itu, TFFF belum memiliki ketentuan jelas dalam mencegah keterlibatan investasi industri dengan risiko lingkungan.
Target Nol Deforestasi dan Tantangan Nyata
Greenpeace menilai bahwa tujuan dibentuknya TFFF tidak akan tercapai jika poin-poin krusial ini tidak dibenahi. Mereka juga menyoroti bahwa Indonesia belum menunjukkan komitmen konkret untuk mencapai target nol deforestasi. Dalam satu dekade terakhir, luas deforestasi hampir mencapai 3,5 juta hektare, setara enam kali luas Pulau Bali. Laju deforestasi tahunan juga kian meningkat sejak 2022 dan mencapai 216.200 hektare pada 2024.
Syahrul Fitra, Juru Kampanye Hutan Senior Greenpeace Indonesia, menegaskan bahwa meskipun rata-rata deforestasi menurun hingga 75% dibanding 2019, fakta tetap menunjukkan bahwa deforestasi masih terjadi. Hal ini berdampak pada Masyarakat Adat yang kehilangan hutan tempat mereka hidup, serta kehilangan keanekaragaman hayati yang menjadi benteng iklim.
Dukungan Internasional untuk TFFF
Sejauh ini, TFFF telah mendapatkan dukungan dari lebih dari 53 negara dan investor. Komitmen pendanaan senilai lebih dari US$5,5 miliar juga diumumkan dalam peresmian TFFF. Beberapa negara seperti Norwegia, Brasil, dan Indonesia telah menyatakan komitmen pendanaan masing-masing sebesar US$3 miliar, US$1 miliar, dan US$1 miliar. Sementara itu, Portugal, Prancis, Belanda, dan Jerman juga memberikan dukungan finansial yang berbeda-beda.
Secara keseluruhan, 34 negara pemilik hutan tropis menandatangani Deklarasi TFFF, yang mencakup lebih dari 90% hutan tropis di negara berkembang, termasuk Indonesia, Republik Demokratik Kongo, dan China.