Cegah Stunting Dari Awal, Remaja Jombang Ikuti Program Ini

admin.aiotrade 01 Okt 2025 3 menit 13x dilihat
Cegah Stunting Dari Awal, Remaja Jombang Ikuti Program Ini
Cegah Stunting Dari Awal, Remaja Jombang Ikuti Program Ini

Seminar Pencegahan Stunting di Jombang, Melibatkan Remaja Sejak Dini

Di Desa Denanyar, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, puluhan remaja mengikuti seminar pencegahan stunting sejak muda. Acara ini digelar di Pawon Djowo pada Selasa (30/9/2025) dan menarik perhatian banyak peserta yang tampak serius dalam mengikuti paparan dari para pemateri.

Para dosen Universitas Airlangga Surabaya hadir sebagai pembicara utama. Mereka memberikan penjelasan tentang pentingnya memahami peran besar yang harus dipikul sejak dini, yaitu mencegah stunting agar generasi mendatang tumbuh sehat dan cerdas.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Program ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat Unair dengan dukungan pendanaan pemerintah. Tujuannya adalah membekali remaja dengan pengetahuan seputar gizi, kesehatan reproduksi, serta perencanaan keluarga.

Menurut Veni Istiani dari BKKBN Kabupaten Jombang, upaya percepatan penurunan angka stunting harus dimulai jauh sebelum anak lahir. “Kesadaran hari ini akan menentukan kualitas generasi mendatang,” katanya saat dikonfirmasi terpisah pada Rabu (1/10/2025).

Pesan yang disampaikan para pemateri sederhana namun mendalam. Stunting bukan hanya urusan pemerintah atau tenaga kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama. Terutama generasi muda, yang kelak akan menjadi orang tua sekaligus teladan bagi lingkungannya.

“Remaja memiliki posisi strategis dalam upaya ini. Mereka adalah calon pengantin, calon ayah, calon ibu, sekaligus agen perubahan di masyarakat,” ucap Candra, dosen Unair yang memimpin kegiatan.

Hal senada juga diuraikan oleh tim dosen lainnya. Materi tentang kesehatan reproduksi diberikan agar remaja lebih siap secara fisik dan mental ketika kelak memasuki pernikahan.

“Remaja yang sehat dan berpengetahuan akan mampu merencanakan pernikahan dengan matang, membangun keluarga yang berkualitas, serta melahirkan anak-anak unggul,” ungkap Haryono, salah satu pemateri.

Topik tentang stunting kerap dikaitkan dengan kurangnya asupan makanan bergizi. Namun Sylvie Puspita, dosen Unair lainnya, mengingatkan bahwa persoalan ini lebih kompleks.

“Stunting bukan hanya soal gizi, tetapi juga kesiapan dalam membangun keluarga. Dari pola makan, perencanaan pernikahan, sampai tanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak harus dipikirkan sejak dini,” bebernya.

Ia menambahkan, anak dari orang tua yang mengalami stunting sekalipun tetap memiliki peluang tumbuh lebih tinggi dan sehat jika kebutuhan gizinya tercukupi. Fakta ini menjadi harapan bahwa stunting bisa dicegah, asalkan ada kesadaran dan tindakan nyata.

Dalam sesi berikutnya, diskusi bergeser pada pentingnya protein hewani. M. Nur Ghoyatul Amin, pemateri lain yang merupakan dosen Unair, mengajak peserta untuk melirik potensi besar yang dimiliki Indonesia sebagai negara maritim.

“Dengan 73 persen wilayah berupa perairan, sumber protein dari ikan seharusnya bisa dioptimalkan untuk kebutuhan gizi sehari-hari,” tuturnya.

Menurutnya, konsumsi ikan sejak masa remaja hingga kehamilan berpengaruh besar terhadap kecerdasan dan produktivitas generasi penerus.

Acara kemudian ditutup dengan diskusi interaktif. Para remaja tak segan melontarkan pertanyaan hingga berbagi pengalaman. Dari pola makan keluarga, peran teman sebaya, hingga tantangan membangun kesadaran di lingkungan masing-masing, semua menjadi bahan refleksi bersama.

Angka stunting di Jombang pada Februari 2024 adalah 5,88 persen, menurun dari 6,29 persen di tahun 2023. Pemerintah Kabupaten Jombang menargetkan angka stunting turun menjadi 3 persen pada akhir tahun 2025 melalui berbagai program pencegahan dan penanganan, seperti penguatan kader, gerakan sekolah orang tua hebat, hingga pembagian makanan bergizi untuk balita yang terindikasi stunting.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan