
Prediksi Pasar Saham Global Mengalami Koreksi
Pasar saham global diperkirakan akan mengalami koreksi dalam satu hingga dua tahun ke depan. Perkiraan ini muncul setelah pasar sempat melambung akibat euforia terhadap kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Prediksi ini disampaikan oleh David Solomon, CEO Goldman Sachs, yang menilai bahwa pasar bergerak dalam siklus dan setiap kali ada percepatan signifikan dalam teknologi baru, maka akan ada banyak pembentukan modal.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Solomon menyampaikan pernyataannya saat berbicara dalam acara Italian Tech Week di Turin, Italia, pada Jumat (3/10/2025). Ia membandingkan situasi saat ini dengan era awal ledakan internet pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Pada masa itu, banyak perusahaan besar lahir, tetapi juga banyak investor kehilangan uang akibat gelembung dotcom bubble.
“Saya tidak akan terkejut jika dalam 12 hingga 24 bulan ke depan, kita melihat penurunan di pasar ekuitas,” kata Solomon. Ia menambahkan bahwa banyak modal yang diinvestasikan akan ternyata tidak memberikan imbal hasil, dan ketika hal tersebut terjadi, orang-orang tidak akan merasa baik.
Perkembangan Teknologi AI Mendorong Investor
Ledakan minat terhadap AI memang telah mengubah arah pasar global. Teknologi baru, kesepakatan bernilai miliaran dolar, serta laju pesat perusahaan seperti OpenAI—pengembang ChatGPT—telah mendorong investor untuk menanamkan modal besar ke saham teknologi seperti Microsoft, Alphabet, Palantir, dan Nvidia.
Antusiasme terhadap AI ikut mengangkat indeks saham di Wall Street dan bursa dunia ke rekor tertinggi, meskipun sempat tertekan awal tahun ini akibat kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Namun, di tengah optimisme tersebut, muncul kekhawatiran soal potensi gelembung pasar. Solomon mengatakan bahwa ia tidak akan menggunakan kata "gelembung", karena ia tidak tahu bagaimana jalannya. Namun, ia tahu bahwa orang-orang berada di kurva risiko karena mereka antusias.
“Dan ketika (investor) antusias, mereka cenderung memikirkan hal-hal baik yang bisa berjalan lancar, dan mereka mengabaikan hal-hal yang seharusnya diragukan yang bisa salah,” katanya. Ia menambahkan bahwa akan ada penyesuaian, akan ada pemeriksaan pada suatu saat, dan akan ada penurunan. Tingkatannya akan bergantung pada seberapa lama tren kenaikan ini berlangsung.
Peringatan dari Tokoh-Tokoh Terkenal
Pendiri Amazon, Jeff Bezos, juga memperingatkan potensi gelembung dalam sektor AI. Dalam acara yang sama, ia menyebut teknologi ini kini berada dalam “gelembung industri.” Sementara itu, investor veteran Leon Cooperman menyampaikan pandangan serupa. Dalam wawancara dengan CNBC, ia menilai pasar kini sudah memasuki tahap akhir dari tren kenaikan panjang, di mana gelembung berisiko terbentuk. Peringatan serupa pernah diungkapkan Warren Buffett.
Peluang Besar di Balik Perkembangan AI
Meski mengakui ada potensi modal hilang, Solomon tetap melihat peluang besar di balik perkembangan AI. Ia mengatakan bahwa dirinya tidur nyenyak dan tidak pergi tidur setiap malam khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Secara umum, saya pikir yang sangat menarik adalah teknologi ini berkembang, perusahaan baru terbentuk, dan potensi teknologi ini diterapkan dalam perusahaan dapat sangat, sangat kuat. Jadi, ini adalah masa yang menarik,” sambung Solomon.