
Cerita Malam Hari
Lingkungan malam. Mulai awan dan udara dingin, membuat suasana menjadi sejuk. Karena itu aku juga merasa nyaman untuk tidur hehe ... dua kucing juga ikut tidur di kasur, jadi lebih hangat. Saat itu suamiku belum pulang. Entah katanya esok pagi, ia pergi terus hingga sore.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sekitar pukul tujuh, suara angin masih menggema, terdengar suara gesekan. Suamiku membuka kunci pintu. Aku sangat berterima kasih, Tuhan memberkati perjalanannya pulang. Dasar aku masih mengantuk, jadi hanya menyambut dengan ala kadarnya. Aku bilang bahwa aku mengantuk.
Setelah masuk rumah, dia bercerita bahwa teman-temannya senang karena diberi tahu pengalaman hidupnya. Maka, tidak bisa pulang ke sini. Katanya, sampai ada mobil yang mengantar dia. Aku hanya mengangguk saja.
Selanjutnya, suamiku membuat susu cokelat, tapi aku ingin langsung tidur. Ketika ditawari, aku langsung menolak. Aku hanya bertanya, sudah makan atau belum. Katanya sudah. Jadi, aku tidak perlu keluar beli sayur. Aku hanya makan dengan kulupan dan ikan mujaer yang dikirim dari rumah sebelah kemarin.
Ini tengah malam aku sedang melihat-lihat. Tapi kok ingat ceritanya ketika anak-anakku masih kecil. Dulu, anak-anakku sering mendengar cerita dari Mbah Kakung bahwa setiap kali dia bercerita pasti ada ceritanya.
Aku duduk di lekuk atau tempat yang nyaman. Aku paling senang kalau diberi cerita tentang Damarwulan Ngarit. Sebelum cerita itu dimulai, Mbah Kakung selalu bercanda. Cara jawabannya seperti prolog cerita yang akan diberikan padaku. Seperti ini:
"Uthak-uthak Ugel, mau pergi ke mana Thak?" "Kidul kono!" "Golek apa?" "Golek elo!" Selanjutnya ... si Uthak-uthak Ugel itu -- aku bayangkan seperti buto alias rasekso begitu --- lalu melompat. Katanya ingin minum air segoro kidul.
"Glegeg ... glegeg! Wah, airnya habis!" "Ha? Airnya segoro kidul habis, Pak?" protesku kepada Mbah Kakung yang biasa aku panggil Bapak. "Ho ... oh! Airnya segoro kidul habis, Ndhuk!" katanya.
Ahaha ... Mbah Kakung itu sangat pintar, loh! Kalau bercerita suaranya seperti dalang, bisa berganti-ganti sampai ceritanya hidup benar-benar. Maka cerito itu pun aku tiru. Aku ceritakan ketika anakku laki-laki tiga masih kecil-kecil. Haha, mereka tertawa menonton budaya literasi, toh?
Kalau aku bercerita kepada anakku, biasanya menggunakan jari lima. Sambil aku gerak-gerakkan, begini:
Jari manis aku gerakkan, aku berkata, "Enthik-enthik, patenono si penunggul!" Telunjuk kemudian aku gerakkan, aku berkata, "Ojo, Dhi! Ojo, Dhi! Ala-ala wong tuwo malati!" Jempol aku gerakkan, aku berkata, "Bener-bener ... ager-ager enak seger!"
Nah, cerito ini sangat bermanfaat untuk pembelajaran karakter positif: cinta kepada saudara tua. Intinya dari cerito ini pada tahun 1995 pernah aku tulis dan dimuat di Tabloid Hoplaa, Surya, majalah anak-anak. Judul cerkak itu "Jari Manis yang Sombong". Lumayan, aku bisa membeli sepatu untuk anak-anak dengan honor menulis di tabloid itu, loh!
Ah, ketika menjadi ibu baru-baru ini, aku seperti orang gila! Ahaha ... menanam kacang tanah di depan rumah, saat itu anakku masih belajar berbicara. Aku mengganti kacangnya, sambil berkata-kata. Seperti anak-anak itu sudah tahu.
"Iki jenenge akar, iki daun," kataku dan semua yang lainnya.
Padahal mulutnya masih plonga-plongo. Namun terlihat sangat memperhatikan. Lalu terlihat sangat pintar, semuanya disentuh, dengan pertanyaan, "Opo?"
Apapun yang dilihat, dia selalu bertanya seperti itu. Ternyata anak ketiganya pintar-pintar, loh!
Tidak hanya anak sulung, tetapi juga adiknya yang dua. Yang ketiga terlihat dari matanya: anak yang cerdas sekali! Umur tiga atau empat tahun, aku sudah mengajak membaca dan menulis dengan caraku sendiri. Seperti yang aku alami ketika aku masih kecil! Menulis dengan kapur di plester, bahkan mencoret tembok barang, ahaha ... dengan daun-daunan atau apa saja, jadi jelek berwarna coklat!
Maka anak-anakku yang masih TK sudah bisa membaca dan menulis. Teman-temannya masih plonga-plongo, anakku sudah bisa membaca lancar! Bahkan ketika masih kecil, aku ajak ke perpustakaan kota, jadi pelanggan termuda. Setiap bulan sekali, apalagi jika ulang tahun, hadiahnya pasti buku.
Anak sulung senang koleksi Lima Sekawan, yang tengah juga ikut senang membaca. Lalu si kucing kuning itu sangat senang koleksi buku wayang, komik bergambar ketika itu. Jadi, anak-anak itu memiliki buku favorit masing-masing. Selain itu, aku dan suami juga rutin membeli majalah anak-anak seperti Bobo, Si Kuncung, dan lainnya. Meskipun hanya majalah bekas, yang penting ada di rumah punya bacaan itu!
Sekitar waktu anak sulung berusia SD, kira-kira kelas empat, aku berkata, "Nak, coba ambil bukunya Pakdhe dan Budhe. Buku di rak-rak banyak dan bagus-bagus. Tapi, tidak untuk, hanya sebagai pajangan saja. Nah, ambil ... tapi kamu harus bisa menjaga agar bukunya tidak rusak, tetap bersih dan bagus. Bagaimana? Berani?"
Jawab anak sulung, "Iyo, Ma! Aku ingin minta!"
Akhirnya, Pakdhe dan Budhene memberikan, dengan peringatan persis seperti yang aku katakan. Koleksinya Pakdhe dan Budhene sangat banyak. Benar-benar penjenengannya semua adalah dosen, jadi bisa memiliki fasilitas lengkap seperti itu. Sayangnya, tidak pernah dimanfaatkan. Rak terlalu banyak, to?
La, ketika sudah besar, kapan aku sadar. Anak sulung itu cerito, "Aku termotivasi belajar bahasa Inggris dan ingin bisa sekolah ke luar negeri ... karena dulu Pakdhe dan Budhe langganan koran Daily! Wah, senangnya hatiku bisa cas cis cus seperti Budhe! Dosen bahasa Inggris!"
La, maka benar-benar lingkungan atau lingkungan sekitar sangat bermanfaat bagi pertumbuhan anak. Nyatanya anak-anakku pintar-pintar, sampai bisa lulusan kulantai predikat cumlaude. Anak sulung dan si kucing kuning itu juga dikuliahkan Tuhan ke negeri Om Obama. Bukan hanya keinginan, tapi jadi kenyataan. Bahkan anak-anak itu di luar negeri setahun, loh. Sampai saluluse! Sedangkan yang tengah, meskipun tidak menginginkan kuliah seperti kakak dan adiknya, dia juga pintar. Bahkan sudah keliling dunia, hanya Afrika yang belum jarene.