China Siap Ambil Alih Uranium Iran Jika Dikuasai AS? Langkah Besar di Balik Upaya Akhiri Perang

China Siap Ambil Alih Uranium Iran Jika Dikuasai AS? Langkah Besar di Balik Upaya Akhiri Perang
China Siap Ambil Alih Uranium Iran Jika Dikuasai AS? Langkah Besar di Balik Upaya Akhiri Perang

Peran China dalam Konflik Nuklir Iran

Beijing disebut-sebut tengah mempertimbangkan langkah besar: mengambil alih atau mengelola stok uranium yang telah diperkaya milik Iran sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Informasi ini diungkap oleh seorang diplomat kepada Associated Press, yang menyebut opsi tersebut menjadi salah satu jalan keluar dari kebuntuan panjang terkait program nuklir Iran.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump saat ini terus menekan Teheran agar menyerahkan material nuklirnya dan membatasi aktivitas pengayaan uranium. Langkah itu diharapkan menjadi bagian dari perjanjian damai jangka panjang. Di sisi lain, Xi Jinping melihat peluang memainkan peran strategis.

China, yang dikenal memiliki hubungan erat dengan Iran, dikabarkan mempertimbangkan dua opsi: mengambil alih uranium tersebut atau membantu menurunkan tingkat pengayaannya agar tidak lagi berpotensi digunakan untuk senjata. Meski selama ini cenderung berada di pinggir diplomasi konflik, Beijing tetap vokal mengkritik operasi militer Amerika Serikat dan Israel, serta mengecam blokade AS terhadap pelabuhan Iran.

Momentum ini juga beririsan dengan rencana pertemuan besar antara Trump dan Xi Jinping dalam waktu dekat. Pertemuan itu disebut-sebut akan menjadi ajang penting untuk merumuskan kesepakatan besar yang mencakup isu perdagangan hingga keamanan global. Trump bahkan mengklaim bahwa langkah Amerika membuka akses di Selat Hormuz merupakan bentuk dukungan bagi China.

China sangat senang saya membuka Selat Hormuz secara permanen. Saya melakukannya untuk mereka juga, tulis Trump di media sosialnya. Ia juga mengklaim Beijing berperan dalam mendorong Iran menuju perundingan gencatan senjata, meski klaim tersebut belum dikonfirmasi pihak China.

Jika benar terealisasi, keterlibatan China bisa menjadi kunci memecahkan kebuntuan lama antara Iran dan Amerika Serikat. Selama ini, Iran menolak menyerahkan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya tinggi kepada AS, namun kemungkinan lebih terbuka jika diserahkan ke negara yang dianggap lebih bersahabat seperti China.

Sebagai catatan, dalam kesepakatan nuklir 2015, Iran pernah mengirim ribuan kilogram uranium berpengayaan rendah ke Rusia. Kini, dengan posisi China sebagai mitra dagang terbesar Iran sekaligus pembeli utama minyaknya, langkah Beijing berpotensi mengubah arah konflik dari medan perang menuju meja perundingan.

Apa Itu Uranium yang Diperkaya?

Uranium yang diperkaya adalah uranium yang telah diproses untuk meningkatkan kadar isotop U-235, komponen yang dapat digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir maupun senjata nuklir. Secara alami, uranium hanya mengandung sekitar 0,7 persen U-235. Melalui proses pengayaan, kadar ini dapat ditingkatkan menjadi 35 persen untuk kebutuhan pembangkit listrik, atau hingga di atas 90 persen untuk penggunaan dalam senjata nuklir.

Karena potensi ganda tersebut, sipil dan militer, uranium yang diperkaya menjadi isu sensitif dalam politik global. Pengawasan ketat biasanya dilakukan oleh badan internasional seperti International Atomic Energy Agency untuk memastikan penggunaannya tidak disalahgunakan.