
Komitmen China untuk Mendukung Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Pemerintah Tiongkok menunjukkan komitmennya yang kuat dalam mendukung Indonesia menghadapi tantangan finansial yang melanda proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, yang dikenal sebagai Whoosh. Dengan total investasi sebesar 7,27 miliar dolar AS atau sekitar 117,3 triliun rupiah, langkah ini menjadi bukti tekad Beijing untuk mempertahankan kelangsungan inisiatif Belt and Road Initiative (BRI) di Asia Tenggara.
Dalam jumpa pers yang digelar di ibu kota Tiongkok, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menyampaikan bahwa negaranya siap bekerja sama erat dengan pihak Indonesia agar proyek ini dapat berjalan lancar. "Kami berkomitmen untuk berkolaborasi dengan Indonesia agar proyek ini dapat berfungsi dengan baik, mendorong pertumbuhan ekonomi dan sosial di negara itu, serta meningkatkan hubungan regional," ujar Guo.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Tawaran ini menunjukkan upaya Tiongkok untuk menjaga citra BRI di kawasan Asia Tenggara. Di sisi lain, pemerintah Indonesia melalui lembaga Danantara berencana menyelesaikan rencana penyesuaian utang Whoosh sebelum akhir tahun ini.
Latar Belakang Proyek Kereta Cepat Whoosh
Proyek kereta cepat Whoosh dikelola oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), sebuah perusahaan patungan antara konsorsium badan usaha milik negara Indonesia, Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan kepemilikan 60 persen saham, dan mitra dari Tiongkok yang menguasai 40 persen sisanya.
Awalnya, proyek ini diperkirakan menelan biaya sebesar 6,02 miliar dolar AS atau sekitar 97 triliun rupiah, dengan sebagian besar dana berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) dengan suku bunga tahunan 2 persen. Namun, biaya tambahan sebesar 1,2 miliar dolar AS atau sekitar 19,3 triliun rupiah menyebabkan CDB memberikan pinjaman lanjutan dengan bunga yang lebih tinggi, yaitu 3,4 persen.
Kinerja Whoosh yang Masih Jauh dari Ekspektasi
Meskipun Whoosh telah beroperasi secara penuh sejak Oktober 2023, kinerjanya belum memenuhi ekspektasi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penjualan tiket sepanjang 2024 hanya mencapai 6,06 juta, jauh di bawah target pemerintah yang menetapkan 31 juta penumpang per tahun. Akibatnya, PSBI mengalami kerugian sebesar 4,19 triliun rupiah atau sekitar 251,8 juta dolar AS pada 2024, ditambah lagi 1,63 triliun rupiah atau sekitar 100,8 juta dolar AS pada semester pertama 2025.
Situasi ini memicu tekanan agar pemerintah turun tangan. Namun, Ketua Komite Investasi Lembaga Pengelola Investasi (LPI) sekaligus ekonom senior Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa dana negara tidak akan digunakan untuk menutupi utang proyek ini. "Kami tidak akan mengalokasikan anggaran publik untuk membayar kewajiban proyek tersebut," ujar Purbaya tegas. "Danantara, sebagai pengelola kekayaan negara yang bertanggung jawab atas aset BUMN, harus menemukan cara restrukturisasi yang sesuai."
Harapan Masa Depan
Langkah Tiongkok ini diharapkan dapat membuka jalan bagi solusi bersama, memastikan proyek Whoosh tidak hanya bertahan tetapi juga berkontribusi positif bagi pembangunan infrastruktur dan konektivitas di Indonesia. Para pengamat ekonomi melihat ini sebagai sinyal positif bagi hubungan bilateral kedua negara, meskipun tantangan keuangan tetap menjadi fokus utama.